Telepon datang lebih awal malam itu. Bukan pukul 00:07. Pukul sepuluh malam, ke ponsel pribadi Damar, dari nomor tak dikenal. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Suara melanggar ritualnya sendiri, dan justru itulah yang membuat Damar paling takut.
"Kamu masuk ke rumahku, Damar," kata Suara. Tidak ada lagi nada bermain. Datar, tapi datar yang berbeda — dingin seperti pisau yang baru diasah. "Kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu."
"Aku mengambil kebenaran," kata Damar, memaksa suaranya tegar. "Rekaman itu membuktikan semuanya. Manajer, hakim, ayahku. Aku bisa membawa mereka semua ke pengadilan sekarang. Kamu tidak perlu lagi membunuh siapa pun. Hukum bisa—"
"Hukum." Suara itu mengucapkannya seperti meludah. "Hukum yang sama yang menyebut ibuku bunuh diri? Hukum yang sama yang membiarkan ayahmu pulang membawa amplop tebal? Jangan menghina aku, Damar. Aku menyimpan rekaman itu sepuluh tahun. Bukan untuk pengadilan. Untuk diriku. Supaya aku tidak pernah lupa wajah mereka satu per satu."
Ada perubahan dalam napas Suara, sesuatu yang Damar belum pernah dengar sebelumnya: keterburuan. Untuk pertama kalinya, Suara tidak lagi punya seluruh waktu di dunia. Sarangnya terbongkar. Ia harus bertindak sebelum Damar dan polisi menutup jaringnya.
"Kamu pikir kamu mendahuluiku," kata Suara. "Mungkin iya, satu langkah. Maka aku akan mempercepat semuanya. Daftarku masih panjang, dan aku tidak akan membiarkanmu menyita waktuku lagi. Kamu mau menyelamatkan mereka? Kejar aku, kalau bisa. Tapi kali ini bukan satu nama yang kuincar. Bukan satu malam. Aku akan menutup semuanya sekaligus."
Saluran terputus. Damar berdiri terpaku, lalu naluri menghantamnya seperti gelombang dingin. Orang-orang terdekatnya. Suara tidak hanya akan mengejar daftar lama. Ia akan menyerang siapa pun yang bisa melukai Damar, untuk memecah perhatiannya, untuk membuatnya berlari ke segala arah sekaligus.
Damar menelepon Rangga, menjabarkan rekaman, menjabarkan ancaman. Rangga, dengan rekaman sebagai bukti konkret di tangan, akhirnya bisa menekan atasannya. Surat penggeledahan untuk mes itu turun — tapi terlambat. Saat tim sampai, ruangan itu sudah kosong. Dinding foto dicabut, kalender hilang, asbak dibersihkan. Suara telah meninggalkan sarangnya, membawa segalanya, menghilang ke dalam kota seperti asap rokok yang ditiup angin.
Malam-malam berikutnya menjadi balapan yang menghabiskan napas. Damar memperingatkan nama-nama dalam daftar yang ia bisa identifikasi dari rekaman; sebagian menutup pintu, sebagian melarikan diri ke luar kota, sebagian — yang paling angkuh — menertawakannya. Rangga menempatkan pengawasan di mana ia bisa, tapi tenaganya terbatas dan kotanya luas. Damar nyaris tidak tidur, nyaris tidak makan, hidup dari kopi dingin dan rasa takut.
Dan di tengah semua kekacauan itu, ia menelepon Lana setiap beberapa jam, hanya untuk mendengar ia masih bernapas. Ayahnya tak bisa lagi ia telepon — ayahnya sudah dua tahun di bawah tanah di kota kaki gunung, dan kesadaran itu masih datang dalam gelombang dingin di sela-sela perburuan, bahwa orang yang menjadi pusat seluruh utang ini sudah lebih dulu menghilang ke tempat yang tak bisa dijangkau dendam siapa pun. Lana mengangkat, mengeluh Damar terlalu khawatir, bersikeras ia baik-baik saja dengan petugas yang menjaga rumahnya.
Sampai pada satu malam, menjelang pukul tiga pagi, di tengah perburuan yang memecah dirinya menjadi seribu kepingan, Damar menelepon Lana untuk yang kesekian kalinya. Berdering sekali. Dua kali. Tiga. Sampai habis. Lalu pesan suara. Ia menelepon lagi. Dan lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak ini semua dimulai, di balik dering yang tak berujung itu, Damar merasakan kengerian yang berbeda dari semua yang pernah ia rasakan: bukan ketakutan akan ancaman, melainkan ketakutan akan keheningan.