Langkah itu berhenti. Untuk beberapa detik yang terasa seperti seabad, Damar dan kegelapan di koridor saling menatap. Lalu langkah itu mundur — perlahan, sengaja, hampir mengejek — dan menghilang ke dalam lorong. Sebuah pintu jauh berderit dan tertutup. Suara memilih untuk tidak menampakkan diri. Belum. Ia ingin Damar tahu bahwa ia ada, bahwa ia bisa, tapi panggungnya belum siap.
Damar menarik napas yang terasa seperti menelan kaca. Setiap nalurinya berteriak untuk lari. Tapi mata Damar jatuh pada meja kayu itu, pada setumpuk perekam mini, dan ia tahu ia tidak akan punya kesempatan kedua. Ia mulai memotret segalanya secepat mungkin — dinding foto, kalender, kartu perdana — lalu, dengan tangan bergetar, ia menyambar perekam-perekam itu dan memasukkannya ke saku.
Di antara tumpukan itu, ada satu yang berbeda. Bukan perekam pasaran melainkan sebuah perekam tua, modelnya lama, dengan label kertas yang tintanya sudah memudar. Damar membaca tulisan tangan di label itu, dan darahnya membeku: sebuah tanggal sepuluh tahun lalu. Tahun pabrik mati. Tahun Sari mati.
Ia tidak punya waktu memutarnya di sana. Ia menjejalkan benda itu ke saku terdalam, lalu berlari keluar dari mes, menembus koridor lembap, menerobos celah pagar, dan tidak berhenti sampai motornya membawa jauh dari kompleks mati itu. Sepanjang jalan, ia merasa ada yang mengawasinya dari kaca spion, tapi setiap kali ia menoleh, hanya ada jalanan kosong dan lampu-lampu kota yang berkedip acuh.
Di kamar barunya, dengan pintu terkunci dan kursi diganjal ke gagangnya, Damar memutar perekam tua itu. Mula-mula hanya desis pita. Lalu suara-suara muncul, kabur, terekam diam-diam dari balik dinding atau saku. Suara seorang lelaki — manajer pabrik, Damar mengenali nada angkuhnya dari berita lama — dan suara seorang lelaki lain yang lebih tua, lebih tenang, yang membuat perut Damar terbalik karena ia mengenalinya: suara ayahnya, sepuluh tahun lebih muda.
"…satpam itu sudah kita urus, tidak akan bersaksi," kata suara manajer.
"Dan kertasnya?" suara ayah Damar, dingin, profesional.
"Sudah kau pegang. Habisi saja. Tanpa kesaksian dan tanpa kertas itu, tidak ada yang bisa membuktikan perempuan itu tidak bunuh diri sendiri."
Hening sebentar. Lalu suara ayahnya, pelan, hampir tak terdengar, sebuah kalimat yang akan menghantui Damar selamanya: "Tuhan ampuni aku."
Rekaman terus berputar. Damar mendengar nama-nama lain disebut — hakim, saksi yang dibayar, pejabat yang menutup mata. Seluruh konspirasi malam itu, terekam, dari mulut para pelakunya sendiri. Tapi yang membuat tangan Damar gemetar paling hebat adalah satu suara terakhir di ujung rekaman, suara seorang anak laki-laki yang merekam diam-diam dari balik pintu, berbisik nyaris tak terdengar, gemetar oleh tangis yang ditahan: "Aku dengar. Aku dengar semuanya. Aku akan ingat semua nama kalian."
Itu Suara. Bertahun-tahun lalu. Seorang bocah yang merekam pembunuhan keadilan atas ibunya, lalu menyimpan rekaman itu seperti orang menyimpan bara, meniupnya pelan-pelan selama sepuluh tahun sampai menjadi api yang membakar kota ini.
Damar mematikan perekam. Air matanya mengalir tanpa ia sadari — entah untuk Sari, untuk bocah itu, untuk ayahnya, atau untuk dirinya sendiri yang terjebak di antara mereka semua. Di tangannya kini ada bukti yang bisa menjebloskan setengah orang dalam daftar Suara ke penjara. Tapi ia juga tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa mengambil rekaman ini berarti menyatakan perang. Suara akan tahu sarangnya telah dimasuki. Dan ketika seekor binatang tahu liangnya ditemukan, ia tidak lagi bermain. Ia menyerang.