Merek rokok itu adalah benang pertama yang Damar tarik. Bukan merek umum — sebuah merek lokal murah yang hanya dijual di warung-warung tertentu di sisi barat kota, dekat kawasan pabrik mati. Damar dan Rangga membaginya: Rangga menelusuri rekaman pembelian kartu perdana lewat jalur resmi, Damar menyusuri warung demi warung dengan foto buram sosok yang pernah tertangkap kamera CCTV toko ponsel berminggu-minggu lalu.
Di warung keempat, seorang penjaga tua mengangguk pelan saat melihat foto itu. "Pelanggan tetap. Beli rokok ini sama kopi sachet, tiap dua tiga hari. Pendiam. Bayar pas. Naik motor bebek butut." Damar menahan napas saat lelaki itu menambahkan, "Tinggalnya di mes lama belakang pabrik, kayaknya. Sering keliatan masuk ke sana lewat gang samping."
Mes karyawan. Sebuah bangunan asrama buruh tua di sudut belakang kompleks PT Mukti Sandang, yang selama ini Damar abaikan karena ia selalu terpaku pada menara air dan gudang. Bangunan yang tampak sama matinya dengan yang lain, padahal di salah satu kamarnya, seseorang masih hidup.
Damar memberitahu Rangga, tapi Rangga sedang terjebak prosedur — atasannya menahan surat penggeledahan, masih meragukan apakah semua ini bukan obsesi seorang penyiar paranoid. Damar tidak bisa menunggu. Tujuh hari menyusut menjadi empat. Sore itu, ia pergi sendiri, dengan ponsel yang sudah ia atur agar Rangga bisa melacak lokasinya, dan satu janji pada dirinya bahwa ia hanya akan melihat, tidak menyentuh.
Mes itu lembap dan gelap, koridornya dipenuhi sarang laba-laba dan bau apak. Damar menyusuri pintu demi pintu yang menganga kosong, sampai ia menemukan satu yang berbeda: pintu yang engselnya diminyaki, gemboknya baru. Ia mendorongnya — tidak terkunci dari dalam — dan masuk.
Ruangan itu membuat napasnya tercekat. Bukan karena kotor, tapi karena rapi. Mengerikan dalam kerapiannya. Di salah satu dinding, tergantung puluhan foto: korban pertama, menara air, gudang utara, rumah lama Wibawa, kantor polisi — dan, dengan jantung Damar berhenti sejenak, foto-foto dirinya sendiri. Damar keluar studio. Damar di warung Bang Toni. Damar menaiki menara. Damar masuk kantor polisi bersama Lana. Setiap momen hidupnya selama berbulan-bulan, terdokumentasi, ditata dengan benang merah yang menghubungkan satu titik ke titik lain.
Itu adalah cermin gelap dari papan penyelidikan Damar sendiri. Suara telah membangun ruang yang sama persis dengan ruang yang Damar bangun untuk memburunya — hanya saja, Suara membangunnya lebih dulu, lebih lengkap, lebih dingin. Di atas meja kayu ada perekam-perekam suara mini seperti yang dulu ditemukan di laci Damar, sebuah kalender dengan tanggal-tanggal dilingkari, dan setumpuk kartu perdana dalam plastik. Di sudut, sebuah asbak dengan puntung rokok yang ditata berjajar rapi, masih berbau, masih hangat.
Damar membeku. Hangat. Itu berarti seseorang baru saja ada di sini. Mungkin masih ada.
Ia mengeluarkan ponsel untuk memotret, jari gemetar, saat ia mendengarnya: derit pelan dari lorong di belakangnya. Langkah. Tenang. Teratur. Tidak terburu-buru, seperti orang yang tahu betul mangsanya tidak akan ke mana-mana. Damar berbalik perlahan, jantung memukul tulang rusuknya, menghadap ke pintu yang masih terbuka ke koridor gelap, tempat suara langkah itu berhenti tepat di luar jangkauan cahaya.