Penjaga makam menyebut satu hal lagi sebelum Damar pergi: bahwa Pak Darmaji, di hari-hari terakhirnya, menitipkan sebuah amplop pada pemilik kontrakan, "untuk anak saya, kalau suatu hari dia datang." Damar kembali ke rumah petak itu, dan penghuni baru — yang masih menyimpan titipan itu karena tak tahu harus diapakan — menyerahkannya dengan tangan ragu. Sepuluh tahun ayahnya menunggu pertanyaan itu; ia mati sebelum sempat menjawabnya dengan suara, tapi ia menulisnya. Damar membacanya di mobil, di bawah lampu kabin, sampai subuh.
Surat itu menceritakan malam itu, sepuluh tahun lalu. Tentang kesaksian seorang satpam pabrik yang melihat Sari diseret keluar dari ruang manajer dalam keadaan setengah sadar, beberapa jam sebelum perempuan itu "ditemukan bunuh diri" di rumahnya. Kesaksian yang akan membuktikan Sari dibunuh, bukan bunuh diri. Kesaksian yang ayah Damar — pengacara perusahaan — pegang di tangannya, lalu ia bakar di asbak kantornya demi kemenangan dan amplop tebal. Tulisan tangan yang makin gemetar di baris-baris terakhir, seolah dengan menuangkannya ke kertas lelaki itu mencoba memuntahkan racun yang sudah sepuluh tahun membusuk di dalamnya.
"Setelah itu aku tidak bisa lagi menatap matamu," tulis ayahnya. "Atau mata ibumu di foto. Aku lari. Aku pengecut, Damar. Aku selalu pengecut."
Damar membaca tanpa berhenti. Bukan karena ia memaafkan — ia belum tahu apakah ia bisa, dan kini ia tak akan pernah bisa mengatakannya pada wajah yang masih hidup — tetapi karena setiap kalimat adalah sebuah amunisi. Untuk pertama kalinya sejak telepon pertama, Damar memiliki sesuatu yang Suara tidak miliki: pengakuan tertulis dari satu-satunya orang lain yang ada di pusat malam yang memulai segalanya.
Dalam perjalanan pulang ke kota, sesuatu berubah dalam diri Damar. Selama berbulan-bulan ia bertahan, bereaksi, mengejar bayangan yang sengaja diumpankan padanya. Ia adalah tikus dalam labirin kaca, dan Suara adalah penonton di luar. Tapi sekarang ia tahu siapa Suara: anak Wibawa dan Sari, yang tumbuh dengan dendam yang diwariskan ayahnya, yang menutupi kebenaran malam itu sama seperti ayah Damar menutupinya, hanya dari sisi yang berlawanan. Dan untuk pertama kalinya, Damar memutuskan ia tidak akan lagi menunggu telepon. Ia akan berburu.
Ia menyewa kamar baru, kali ini bukan rumah singgah polisi, melainkan tempat yang ia pilih sendiri, yang Suara belum tahu. Di dinding kamar itu, ia membangun ulang seluruh peta penyelidikannya, tapi kali ini fokusnya bukan lagi calon korban. Fokusnya adalah Suara. Kebiasaannya. Polanya. Telepon selalu pukul 00:07. Selalu dari jaringan internet yang tak terlacak — tapi tak terlacak bukan berarti tak terhubung; sinyalnya harus berangkat dari suatu tempat fisik. Puntung rokok yang ditata berjajar rapi: merek yang sama setiap kali, Damar memperhatikannya di menara air, di rumah lama Wibawa. Bekas ban motor dengan pola tapak yang khas, satu sisi lebih aus.
Damar menulis di papannya, dengan huruf besar yang menggantikan tiga petunjuk lama yang dulu menempel di sana: SIAPA DIA, DI MANA DIA TIDUR, KAPAN DIA LENGAH.
Ia mendatangi Rangga, bukan sebagai korban yang ketakutan, melainkan sebagai sekutu yang membawa rencana. Rangga, yang akhir-akhir ini terbelah antara tekanan atasan dan keyakinannya sendiri, menatap Damar yang baru ini dengan campuran waspada dan harap. "Kamu kelihatan beda," kata Rangga, memutar pulpennya seperti dulu. "Kamu berhenti takut."
"Aku masih takut," kata Damar. "Tapi sekarang aku tahu dia juga manusia. Dia makan, dia tidur, dia merokok merek yang sama. Dan manusia bikin kesalahan. Aku cuma harus membuatnya cukup terpojok untuk membuat satu."
Damar mengeluarkan catatannya, menjabarkan setiap pola yang ia kumpulkan. Rangga mendengarkan, mencatat, dan untuk pertama kalinya tidak ada keraguan di rahangnya yang tegas. Di luar, hari mulai gelap. Tujuh hari ultimatum sudah berkurang satu. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak telepon di frekuensi sepi itu, bukan Damar yang sedang diburu. Pemburu lama telah memutuskan untuk berbalik dan memburu balik, dan ia tahu persis dari mana harus mulai: dari asap rokok yang ditata terlalu rapi untuk dilupakan.