Damar tidak tidur sama sekali malam itu. Begitu siaran usai, ia membentangkan semua yang telah ia kumpulkan tentang ayahnya di atas meja rumah singgah: fotokopi berkas persidangan, KTP lama yang sudah kedaluwarsa, sebuah amplop berisi surat yang tak pernah ia buka selama sepuluh tahun, dan satu nomor telepon kantor pengacara yang sudah lama tutup. Selama ini ia menghindari semua ini seperti orang menghindari luka yang belum kering. Sekarang ia tidak punya pilihan lagi.
Ia memulai dari amplop. Tangannya bergetar saat merobeknya. Di dalamnya hanya secarik kertas, tulisan tangan ayahnya, ditulis sehari sebelum lelaki itu pergi. "Maafkan ayah. Ada hal-hal yang lebih baik kamu tidak tahu." Tidak ada alamat. Tidak ada nomor. Hanya pengakuan setengah hati dari seorang lelaki yang melarikan diri dari dosanya, meninggalkan anaknya menjaga rumah yang sudah kehilangan ibunya.
Damar membalik kertas itu. Kosong. Ia hampir membantingnya. Tapi sesuatu menahannya — di pojok bawah, hampir tak terlihat, ada cetakan timbul logo sebuah penginapan. "Wisma Tirta Asri." Bukan tinta; jejak yang tertinggal karena kertas itu dulu pernah ditumpuk di atas kop surat penginapan tersebut, terekam samar seperti sidik jari.
Penginapan. Ayahnya menulis surat ini di sebuah penginapan bernama Wisma Tirta Asri sebelum pergi.
Pagi-pagi sekali, Damar menelusuri nama itu. Wisma Tirta Asri ternyata sebuah penginapan kecil di kota kecil di kaki gunung — kota kelahiran Damar sendiri. Lelaki itu, sepuluh tahun lalu, melarikan diri pulang ke tempat ia dulu membangun keluarga, bukan kabur ke ujung dunia. Pemilik penginapan, seorang lelaki tua yang Damar telepon dengan suara nyaris putus, mengingat seorang tamu jangka panjang yang menyewa kamar belakang bertahun-tahun, jarang keluar, membayar tunai, dan dikenal warga dengan nama lain. "Pak Darmaji," kata lelaki tua itu. Lalu nadanya berubah, pelan. "Tapi orangnya sudah tidak ada, Mas. Sakit-sakitan lama, kanker katanya. Dua tahun lalu meninggal. Dimakamkan di sini, di pemakaman umum belakang pasar. Sendirian. Tidak ada keluarga yang datang."
Damar menutup telepon dengan tangan yang tiba-tiba mati rasa. Ia tidak tahu apakah ia merasa lega atau hancur. Ayahnya mati. Setelah sepuluh tahun membayangkan lelaki itu sebagai bayangan tanpa wujud — kadang sebagai monster, kadang sebagai mayat di selokan — kini ia tahu lelaki itu benar-benar sudah tiada, mati pelan dimakan penyakit yang sama dengan yang merebut ibunya, sendirian, di balik nama palsu, di kota tempat Damar dilahirkan. Dua tahun. Ayahnya sudah dua tahun di dalam tanah, dan Damar bahkan tidak tahu.
Ia memberitahu Rangga lewat pesan singkat, lalu menempuh perjalanan empat jam menembus jalanan berkelok ke kaki gunung. Kota kecil itu tidak banyak berubah; udara dingin yang sama, bau tanah basah yang sama, yang dulu menemani masa kecilnya sebelum kanker merebut ibunya. Rumah kontrakan di belakang pasar itu sudah ditempati orang lain. Damar tidak mengetuk. Ia berdiri di seberang jalan menatap atap reyot yang melengkung itu, membayangkan ayahnya pernah duduk di balik jendela kecil itu, menua dalam keheningan yang ia pilih sendiri.
Lalu ia pergi ke pemakaman umum di belakang pasar. Penjaga makam, setelah Damar menyebut nama dan tahun, menuntunnya menyusuri barisan nisan yang miring, sampai berhenti di sebuah gundukan tanah dengan batu nisan sederhana, nama palsu terukir di sana. Tidak ada bunga. Tidak ada yang merawat. Hanya rumput yang tumbuh liar di atas seseorang yang dulu adalah ayahnya.
Damar berlutut. Seribu kalimat yang ia siapkan selama bertahun-tahun menguap. Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang ia bisikkan ke tanah, sama seperti ia membisikkannya pada foto ibunya tanpa pernah berani mengucapkannya keras-keras. "Apa yang Ayah lakukan pada keluarga Sari?"
Tanah itu tidak menjawab. Tanah tidak pernah menjawab. Ayahnya telah membawa setiap jawaban ke bawah sana, persis seperti yang ia lakukan sepanjang hidupnya: pergi, diam, meninggalkan pertanyaan menggantung pada orang lain.
Penjaga makam, melihat Damar tak juga bangkit, berkata pelan dari belakangnya, "Mas keluarganya? Dulu ada yang sering ke sini juga. Lelaki muda. Berdiri lama persis seperti Mas sekarang, dua tahun belakangan. Saya kira itu anaknya. Tapi dia tidak pernah bawa bunga juga."
Damar membeku. Lelaki muda. Dua tahun belakangan. Ia berdiri di ambang antara masa lalu yang ia kira sudah mati dan kebenaran yang baru saja menamparnya: ia bukan yang pertama menemukan makam ini. Di belakangnya, gunung berdiri diam tertutup kabut. Dan di suatu tempat di kota yang ia tinggalkan, ia tahu, sebuah jam sudah lama berdetak — karena Suara sudah lebih dulu berdiri di tanah yang sama ini, bertahun-tahun sebelum Damar tiba.