Hujan turun tipis di luar studio, membentuk garis-garis perak di kaca yang sudah berbulan-bulan tak dibersihkan. Damar duduk di kursi yang sama, di belakang mixer yang sama, tapi dirinya bukan lagi orang yang sama dengan penyiar hangat tiga tahun lalu. Wajahnya kurus. Matanya cekung. Ia tahu malam ini berbeda, karena untuk pertama kalinya ia datang ke frekuensi ini bukan untuk menanti, melainkan untuk menutup sesuatu.
Pukul dua belas lewat tujuh menit. Garis merah menyala, setia seperti detak jantung yang menolak berhenti.
"Selamat malam, Damar," kata Suara itu. Datar. Selalu datar. "Kamu sudah tahu hutang yang sebenarnya. Aku bisa mendengarnya dari caramu bernapas."
Damar menutup matanya. Ia memang sudah tahu. Sepekan terakhir telah membongkar makna kalimat lama itu sampai ke dasarnya. "Hutang nyawa" bukan kiasan tentang gugatan yang kalah. Itu peristiwa nyata: malam ketika ayahnya, demi memenangkan perkara untuk pabrik, mengubur satu kesaksian yang akan menyelamatkan Sari. Satu lembar kertas yang sengaja dihilangkan. Satu nyawa yang seharusnya tertolong.
"Aku tahu," kata Damar pelan. "Aku tahu apa yang ayahku lakukan."
"Bagus." Ada jeda, panjang, seperti orang yang menimbang sesuatu yang sudah lama ia siapkan. "Maka sekarang kita sampai di bagian yang sejak awal menunggu kita. Aku akan memberimu tawaran. Yang terakhir. Setelah ini, tidak ada lagi petunjuk, tidak ada lagi permainan tebak-tebakan. Hanya pilihan."
Damar mencengkeram tepi meja. Ia merasakan sesuatu di balik ketenangan itu, sesuatu yang sudah lama dirancang, kini akhirnya dilepaskan.
"Pilihan pertama," kata Suara. "Kamu membayar utang ayahmu dengan dirimu sendiri, di tempat yang akan kutentukan. Soal ayahmu — kamu kira kamu sedang berburu menujunya, tapi kamu akan segera mengerti bahwa utang itu tidak akan pernah bisa ditagih dari tangannya sendiri. Aku sudah lama mengerti itu, jauh lebih lama darimu. Maka yang tersisa cuma kamu. Kamu berdiri menggantikan posisinya, di tempat yang kupilih, dan permainan ini selesai. Semua yang kucintai sudah diambil dari dunia; aku hanya ingin utang itu diakui dan dibayar oleh darah yang menutup pintu itu. Bukan oleh Lana. Hanya darahnya — dan kamu satu-satunya yang tersisa."
"Dan pilihan kedua?" Suara Damar serak.
"Kamu menggantikannya." Suara itu mengucapkannya seolah menawarkan air pada orang kehausan. "Kamu sudah melihat daftar yang kususun. Kamu tahu siapa saja yang ikut menutupi malam itu — manajer, saksi yang dibungkam, hakim yang menutup mata. Mereka masih hidup, Damar. Mereka tidur nyenyak setiap malam selama sepuluh tahun. Bantu aku menutup daftar itu. Berdua, kita selesaikan apa yang dimulai ayahmu. Kamu menanggung dosanya, dan dengan begitu kamu menebusnya. Bukankah itu yang kamu cari sejak telepon pertama? Cara untuk membayar utang yang bukan kamu buat?"
Damar merasa lantai studio miring di bawahnya. Mengerikan bukan karena tawaran itu kejam, melainkan karena sebagiannya masuk akal. Ada bagian gelap dalam dirinya yang, selama berminggu-minggu menyaksikan keadilan tak pernah datang lewat jalur resmi, diam-diam bertanya apakah Suara tidak sepenuhnya salah.
"Itu bukan pilihan," kata Damar akhirnya, memaksa kata-kata keluar. "Yang pertama berarti aku mati menggantikan dosa yang bukan aku buat. Yang kedua berarti aku jadi kamu. Dua-duanya membunuh — kalau bukan tubuhku, ya yang tersisa dari diriku."
"Hidup memang begitu," sahut Suara, tanpa marah. "Ayahmu juga punya dua pilihan sepuluh tahun lalu. Menyimpan kertas itu atau membuangnya. Dia memilih. Sekarang giliranmu."
"Ada pilihan ketiga," kata Damar. "Aku menyerahkanmu ke polisi."
Untuk pertama kalinya, Damar mendengar sesuatu yang menyerupai tawa. Pendek, kering, hampir seperti batuk. "Kamu sudah mencobanya berbulan-bulan. Lihat di mana kamu sekarang. Diskors dari beberapa siaran. Dicurigai polisimu sendiri. Sendirian di studio yang dingin." Jeda. "Aku beri kamu waktu sampai tujuh hari, Damar. Tujuh tengah malam. Setelah itu, kalau kamu tidak memilih, aku yang akan memilih untukmu. Dan pilihanku tidak akan menyenangkan siapa pun yang kamu sayangi."
Saluran terputus.
Damar duduk lama dalam keheningan. Jeda lagu otomatis mengalir, sebuah melodi tua tentang pulang, dan ironinya menusuk seperti biasa. Ia menatap dinding kaca, ke kota yang basah dan tertidur, dan menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Suara memberinya batas waktu yang nyata. Tujuh hari. Tujuh hari untuk menyusuri jejak ayahnya sampai ke ujung, apa pun yang menunggunya di sana. Tujuh hari untuk memutuskan apakah ia akan memutus rantai ini, atau menjadi mata rantai berikutnya. Hujan mengetuk kaca, sabar dan tak henti, seperti seseorang yang tahu pintu pada akhirnya akan terbuka.