Damar tidak tidur tiga malam setelah foto itu. Nama yang disebut Bu Rahmi menggantung di kepalanya, dan ia menggali — lewat Maryani, lewat arsip, lewat setiap retak yang bisa ia masuki — sampai potongan-potongan itu mulai membentuk sesuatu yang utuh dan mengerikan.
Selama berbulan-bulan ia memahami "hutang nyawa" sebagai metafora. Suara pernah menyebutnya di kertas di kaki menara air, malam ketika seluruh dunianya runtuh: anak dari orang yang berutang nyawa padaku. Damar mengira itu berarti ayahnya, dengan menggugurkan gugatan keluarga Sari, secara kiasan telah membunuh keadilan, dan karenanya berutang. Sebuah dosa profesional yang besar, ya, tapi tetap abstrak. Sebuah tanda tangan di atas kertas.
Tapi malam ketiga, dengan dokumen-dokumen tersebar di lantai dan kepalanya berdenyut karena kurang tidur, Damar akhirnya mengerti bahwa "hutang nyawa" itu bukan kiasan sama sekali. Itu harfiah.
Ia menyusun ulang urutan kejadian sepuluh tahun lalu, kali ini dengan satu peristiwa yang selama ini hilang dari catatannya sebagai mata rantai yang menyambungkan semuanya. Sari tidak mati lalu ayahnya menutup kasusnya. Bukan urutan itu. Ada peristiwa di antaranya — peristiwa spesifik, di satu malam, yang selama ini terkubur di bawah label "bunuh diri". Sari telah menemukan sesuatu. Sebagai buruh, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, di pabrik yang sedang sekarat itu — kecurangan, mungkin, atau kematian sebelumnya yang ditutupi, atau uang yang mengalir ke tempat-tempat yang salah. Ia mengancam akan bicara. Dan untuk membungkamnya, mereka membunuhnya, lalu membuatnya tampak seperti bunuh diri.
Ayah Damar bukan sekadar pengacara yang membela perusahaan dalam gugatan setelahnya. Ayah Damar adalah orang yang merancang penyamaran itu. Yang mengubah pembunuhan menjadi bunuh diri di mata hukum, yang menutup setiap pintu penyelidikan, yang memastikan tidak akan pernah ada otopsi, tidak akan pernah ada pertanyaan. Bukan hanya menggugurkan gugatan. Menghapus seluruh kemungkinan kebenaran. Dengan begitu, ayahnya tidak hanya merampas keadilan — ia merampas nyawa Sari untuk kedua kalinya, mengubur tidak hanya tubuhnya tapi juga kebenaran tentang kematiannya.
Itulah hutang yang sebenarnya. Bukan gugatan yang kalah. Sebuah nyawa yang dicuri lalu dikubur dua kali.
Damar duduk di lantai rumah singgah, dikelilingi kertas, dan untuk waktu yang lama ia tidak bisa bergerak. Ia membayangkan seorang anak laki-laki sepuluh tahun lalu, kehilangan ibu yang dikatakan dunia telah menyerah pada hidup — padahal ibunya justru melawan, justru berani, justru dibunuh karena tak mau diam. Anak itu tumbuh dengan dua kebohongan menindihnya: bahwa ibunya lemah, dan bahwa tidak ada yang bisa disalahkan. Sampai suatu hari ia menemukan kebenaran, dan kebenaran itu mengubahnya jadi sesuatu yang menelepon studio radio di tengah malam.
Damar mengerti sekarang. Ia mengerti dengan kejelasan yang membuatnya mual, kenapa orang itu memilihnya. Bukan karena Damar mendengarkan. Bukan karena slogan radionya. Melainkan karena Damar adalah satu-satunya bukti hidup yang tersisa dari orang yang mengubur ibunya. Darah daging dari tangan yang menutup pintu itu. Membunuh nama-nama lain di daftar adalah membayar tagihan kecil. Tapi Damar — Damar adalah cara untuk membuat sang pengacara, ke mana pun ia pergi dan apa pun yang telah terjadi padanya, akhirnya membayar dengan satu-satunya mata uang yang setara: anaknya.
Ponsel Damar bergetar di atas lantai. Nomor tak dikenal. Ia menatapnya lama sebelum mengangkat, dan ketika ia mengangkat, tidak ada suara. Hanya napas, lambat dan teratur, terlalu tenang, napas yang kini ia kenal lebih baik daripada napasnya sendiri.
"Kamu sudah mengerti," kata Suara itu akhirnya, pelan. Bukan pertanyaan. "Aku bisa mendengarnya dari caramu bernapas. Kamu sudah tahu apa yang sebenarnya dia ambil dariku."
Damar tidak menjawab. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Bagus," kata Suara. "Karena sekarang kita sampai di bagian yang penting, Damar. Sekarang aku akan minta kamu memilih. Tapi belum malam ini. Malam ini, tidurlah — kalau kamu masih bisa. Pikirkan ibumu juga, sesekali. Dia juga kehilangan banyak karena ayahmu, ya?" Jeda yang panjang dan dingin. "Sampai jumpa tengah malam, anak dari orang yang berutang. Kita hampir sampai di akhir."
Saluran terputus. Dan Damar duduk sendirian dalam keheningan, dikelilingi kertas-kertas yang menyusun ulang dosa ayahnya, mengerti untuk pertama kalinya bahwa permainan ini tidak pernah tentang pembalasan acak atau keadilan yang abstrak. Ini tentang sebuah nyawa yang dicuri, sebuah kebenaran yang dikubur, dan dua anak — dia dan orang di telepon itu — yang sama-sama dihancurkan oleh apa yang dilakukan satu orang dewasa di satu malam sepuluh tahun lalu. Dan hanya satu dari mereka, Damar tahu, yang akan keluar dari ini tanpa menjadi monster.