Maryani menemukannya di tumpukan paling bawah arsip Bu Rahmi — sebuah foto, bukan dokumen. Foto lama buruh PT Mukti Sandang, diambil pada perayaan ulang tahun pabrik bertahun-tahun sebelum kebangkrutan, ketika tempat itu masih hidup dan orang-orang di dalamnya masih percaya hari esok akan baik-baik saja. Puluhan wajah berbaris di depan gerbang pabrik, mengenakan seragam yang sama, tersenyum ke kamera dengan harapan yang belum dikhianati.
Bu Rahmi telah menyimpan foto itu selama sepuluh tahun, terselip di antara surat-surat lama, dan baru menyerahkannya saat Maryani datang untuk ketiga kalinya. "Ada sesuatu yang aneh dengan foto ini," kata perawat tua itu. "Tapi saya tidak pernah berani memikirkannya terlalu lama."
Damar dan Maryani membentangkan foto itu di bawah lampu di rumah singgah. Pada awalnya ia hanya tampak seperti foto lama biasa — kabur, kekuningan, wajah-wajah yang sudah lama tersebar oleh nasib. Sari ada di sana, Maryani menunjuknya: seorang perempuan muda dengan senyum lebar, berdiri di barisan tengah, tak tahu betapa sedikit waktu yang tersisa untuknya. Di sebelahnya, seorang lelaki bertubuh kurus dengan mata yang sama dingin dengan yang Damar lihat di foto sekolah — Wibawa, sang suami, ayah si pelaku.
Tapi yang membuat Maryani memanggil Damar mendekat bukan siapa yang ada di foto. Melainkan ruang kosong yang ganjil.
"Lihat ini," katanya, menunjuk ke barisan belakang. Di sana, di antara dua orang buruh, ada celah yang tidak wajar — sebuah jarak, sebuah sosok yang seharusnya ada tapi tidak ada, seolah seseorang telah berdiri di sana dan kemudian dihapus. Bukan dengan teknologi; foto ini terlalu tua. Melainkan dengan gunting dan kesabaran. Bagian foto itu telah dipotong dengan hati-hati, lalu ditempel ulang sehingga sekilas tampak utuh, tapi garis sambungannya terlihat di bawah cahaya miring.
"Seseorang dihapus dari foto ini," kata Maryani pelan. "Sengaja. Bukan oleh Bu Rahmi — dia bilang dia menerimanya sudah dalam keadaan begini, dulu sekali."
Damar menatap celah itu, dan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. Siapa yang cukup peduli untuk menghapus dirinya sendiri dari sebuah foto buruh pabrik biasa? Siapa yang tidak ingin pernah dikaitkan dengan tempat ini, dengan orang-orang ini, dengan apa yang terjadi di sini?
Bu Rahmi, yang duduk di sudut ruangan, akhirnya bicara dengan suara yang serak. "Saya tahu siapa yang berdiri di situ," katanya, dan Damar serta Maryani menoleh serentak. Mata tua itu menatap celah di foto seperti menatap kuburan. "Dia bukan buruh. Dia datang sesekali, dari pihak perusahaan, untuk 'mengurus masalah'. Selalu rapi, selalu sopan, selalu tersenyum. Tapi orang-orang takut padanya, walau tidak ada yang bisa bilang kenapa." Ia menatap Damar, dan dalam tatapannya ada sesuatu yang membuat jantung Damar berhenti sejenak. "Dia berdiri di sebelah Sari, hari itu. Saya ingat karena saya yang memotret. Dan dia yang minta foto itu dikembalikan ke saya beberapa hari kemudian — sudah dipotong begini. Dia tidak mau ada bukti dia pernah dekat dengan Sari."
Damar merasa lantai bergeser di bawahnya. "Bu kenal namanya?"
Bu Rahmi diam lama. Lalu ia menyebutnya — bukan nama Sugito, bukan nama pengacara, melainkan nama lain, nama seorang calo lama yang belum pernah muncul dalam catatan Damar. Sebuah nama yang menjelaskan satu hal yang selama ini ganjil baginya: bagaimana ayahnya, seorang pengacara dari kota lain, bisa sampai membela pabrik kecil yang sekarat ini.
"Orang ini," kata Bu Rahmi pelan, "perantara perusahaan, Nak. Dia yang dulu mempertemukan ayahmu dengan pemilik pabrik, mengatur honor, merapikan urusan kotor di belakang meja. Calo, kalau mau jujur. Dia rajin menghapus jejaknya — bahkan dari foto buruh — karena orang seperti dia tidak mau pernah tercatat di mana pun." Bu Rahmi menghela napas. "Tapi dia sudah lama tiada, Nak. Saya dengar dia mati beberapa tahun lalu, jauh dari sini. Yang dia tinggalkan cuma satu: dialah yang membuka pintu pabrik ini untuk ayahmu. Setelah itu, semua dosa berikutnya — Sari, gugatan, pembungkaman — itu tangan ayahmu dan Sugito, bukan dia lagi."
Damar menatap celah kosong di foto lama itu, ruang tempat seseorang dengan sengaja menghapus keberadaannya. Seorang calo yang sudah mati, yang satu-satunya peran tersisanya adalah membawa ayahnya ke pintu pabrik ini bertahun-tahun lalu. Itu saja. Bukan dalang, bukan tangan yang menggerakkan segalanya — hanya perantara yang membuka satu pintu, lalu menghilang. Tapi pintu itu sudah cukup. Lewat pintu itulah ayahnya masuk, dan lewat ayahnyalah keadilan Sari akhirnya dikubur. Permainan ini tidak lebih rumit dari itu; ia hanya lebih tua dan lebih dalam dari yang Damar kira.