Damar telah menjauhkan Lana sejauh mungkin. Sejak ancaman pertama berbulan-bulan lalu, ia membatasi kontak, menghindari pertemuan, membiarkan Lana percaya bahwa jarak itu adalah perlindungan. Dan memang begitu. Tapi Lana, yang cerewet dan setia, yang tak pernah bisa membiarkan sahabatnya tenggelam sendirian, ternyata tak pernah benar-benar mundur.
Ia datang ke rumah singgah tanpa pemberitahuan, di siang bolong, dengan tas selempang penuh kertas dan mata yang berkilat oleh sesuatu di antara ketakutan dan kemenangan. "Aku tahu kamu nyuruh aku diam," katanya, mendorong masuk sebelum Damar sempat menghalangi. "Tapi aku kerja di radio yang sama, Mar. Aku punya akses ke arsip siaran yang sama denganmu. Dan aku menemukan sesuatu yang kamu lewatkan."
Damar merasa perutnya jatuh. "Lan, kamu tidak seharusnya—"
"Dengar dulu." Lana menghampar kertas-kertas di meja, jari-jarinya gemetar. "Frekuensi kita pernah disusupi, kan? Berbulan-bulan lalu, suara asing di tengah lagu, yang Pak Hasan nggak bisa jelaskan. Aku penasaran. Aku cek log teknis siaran selama enam bulan terakhir. Dan ternyata penyusupan itu bukan sekali. Itu terjadi sebelas kali, Mar. Pola yang teratur. Selalu di malam-malam tertentu." Ia menunjuk daftar tanggal. "Dan tanggal-tanggal ini — aku cocokkan dengan berita kriminal. Tiap penyusupan terjadi satu sampai dua hari sebelum sebuah kematian yang nggak pernah dianggap pembunuhan. Orang hilang. Kecelakaan. Bunuh diri."
Damar menatap deretan tanggal itu dan merasakan kepalanya berputar. Lana, tanpa mengetahui rekonstruksi malam kematian Sari, tanpa Bu Rahmi, tanpa foto wajah si pelaku, telah secara mandiri menemukan jejak kalender pembunuhan dari arah yang sama sekali berbeda — dari sisi teknis frekuensi yang ia dan Damar layani tiap malam. Si pelaku tidak hanya menelepon. Ia menyusup ke frekuensi sebelum tiap pembunuhan, seolah meninggalkan tanda tangan di udara yang hanya bisa dibaca oleh seseorang yang cukup teliti.
Itu temuan brilian. Dan itulah yang membuat darah Damar membeku.
"Lana," katanya pelan, sangat pelan, suara yang ia paksa tetap tenang seperti suara yang menenangkan kota tiap malam. "Siapa lagi yang tahu kamu mencari ini?"
Lana mengerutkan kening. "Nggak ada. Kenapa?"
"Kamu cari dari komputer mana? Studio?"
"Iya, dari studio. Arsipnya cuma bisa diakses dari sana."
Damar memejamkan mata. Studio. Tempat yang ia tahu, dengan kepastian yang dingin, masih ada di dalam jangkauan pendengaran orang itu. Setiap kali Lana membuka log teknis di komputer arsip, setiap kali ia menggumam pada dirinya sendiri saat menemukan pola, setiap langkahnya mungkin telah didengar, atau dilihat, atau diketahui. Lana mengira ia menemukan kelemahan musuh. Tapi yang sebenarnya ia lakukan adalah mengubah dirinya dari orang yang tak pernah disentuh — umpan yang dulu tak pernah benar-benar dalam bahaya — menjadi seseorang yang kini tahu terlalu banyak untuk dibiarkan hidup.
"Mar, kenapa mukamu begitu?" Suara Lana mulai goyah. "Ini bagus, kan? Ini bukti. Pola yang bisa dibawa ke polisi."
"Ini bukti," kata Damar, dan tenggorokannya kering. "Tapi kamu menggalinya di tempat yang dia bisa dengar. Lan, dengarkan aku baik-baik." Ia menggenggam kedua tangan Lana, yang terasa dingin. "Selama ini kamu aman karena dia tidak menganggapmu ancaman. Kamu cuma orang yang aku sayangi, alat untuk menekanku. Tapi kalau dia tahu kamu menemukan ini — kalau dia tahu kamu bisa menghubungkan penyusupan frekuensi dengan setiap pembunuhannya — kamu berubah dari tekanan jadi bahaya. Dan dia menghapus bahaya."
Wajah Lana memucat perlahan saat ia mengerti. Keberanian di matanya tidak padam — itu salah satu hal yang paling Damar takutkan tentangnya — tapi kini bercampur dengan ketakutan baru yang lebih dalam. "Jadi aku harus berhenti?"
"Aku ingin sekali bilang ya," kata Damar. Tapi ia menatap kertas-kertas itu, daftar tanggal yang mungkin saja menjadi potongan bukti yang selama ini ia cari — sesuatu yang konkret, terdokumentasi, bisa dibawa ke pengadilan. Lana baru saja meletakkan di mejanya sebuah senjata yang nyata, sekaligus mengubah dirinya menjadi sasaran. Aset dan titik lemah dalam satu napas. Dan Damar tahu, dengan rasa pahit yang sudah jadi akrab, bahwa orang itu — kalau ia mendengar — akan melihat persis hal yang sama, dan akan tahu persis bagaimana memanfaatkannya.