Mereka belajar dari kegagalan pertama. Penyadapan resmi malam itu, berbulan-bulan lalu, hanya menangkap lokasi kasar dari sisi barat kota sebelum orang itu memutus dan menghilang. Ia mengantisipasinya. Ia selalu mengantisipasi. Maka kali ini, Damar tahu, rencana yang terlihat tidak boleh menjadi rencana yang sebenarnya.
"Dia akan mengira kita memasang penyadapan lagi," kata Damar kepada Rangga dan Maryani, malam berikutnya di rumah singgah, suara mereka direndahkan walau tak ada siapa pun di sekitar. "Jadi kita memang akan memasangnya. Dengan mencolok. Cukup mencolok untuk dia temukan kalau dia memeriksa. Itu jebakan yang dia harapkan. Itu yang dia akan sibuk hindari."
Rangga mengernyit. "Lalu jebakan sebenarnya?"
Damar membentangkan kertas. "Jebakan sebenarnya bukan melacak teleponnya. Itu mustahil, dia terlalu hati-hati. Jebakan sebenarnya adalah membuat dia datang ke satu tempat fisik." Ia menjelaskan: ia akan menanam, lewat siaran dan lewat kebiasaan-kebiasaan yang ia tahu sedang diawasi, sebuah kebohongan. Bahwa ia telah menemukan jejak ayahnya — ke mana lelaki itu pergi, di mana ia berakhir, persembunyian sekaligus rahasianya. Bahwa di satu tempat dan waktu tertentu, semua yang ayahnya tinggalkan akan terbongkar. Tempat yang sudah disiapkan jaring. "Dia tidak akan menelepon untuk urusan ayahku. Itu terlalu penting baginya. Dia akan datang sendiri."
"Bagaimana kamu tahu dia masih mengawasimu?" tanya Maryani. "Perekam di kamarmu sudah lama disita."
"Karena dia tidak pernah berhenti," kata Damar pelan. "Dia mungkin sudah pasang yang lain. Atau dia mengikuti pola lain. Tapi dia mendengarkan, selalu. Itu satu hal yang tidak pernah berubah." Ia menatap mereka berdua. "Dan justru itu yang akan kupakai. Selama ini dia mendengarkan untuk menguasaiku. Sekarang aku akan memberinya tepat apa yang ingin dia dengar, dan biarkan pendengarannya sendiri yang menjebaknya."
Mereka menghabiskan tiga malam menyiapkan detailnya. Tempat yang dipilih harus masuk akal sebagai tempat persembunyian terakhir seorang pengacara buron — sebuah rumah kontrakan kosong di pinggiran, cukup terpencil untuk dipercaya, cukup terbuka untuk ditempatkan pengawasan. Di sanalah, kata kebohongan itu, Damar menyimpan apa yang ia temukan tentang ke mana ayahnya berakhir, dan akan menghadapinya malam itu. Rangga, sendirian dan di luar dinas, memetakan titik-titik di mana ia bisa menyembunyikan diri tanpa terlihat. Maryani menyiapkan dokumen palsu — surat sewa, tagihan listrik atas nama samaran ayah Damar — yang akan ditemukan kalau orang itu menyelidiki sebelum datang, sebagai lapisan tambahan kepercayaan.
Tapi semakin rencana itu rapi, semakin Damar gelisah. Ia tahu orang itu. Ia sudah belajar cara berpikirnya selama berbulan-bulan. Dan setiap kali Damar merasa selangkah di depan, ada suara kecil di kepalanya bertanya: bagaimana kalau ini pun sudah dia perhitungkan? Bagaimana kalau jebakan yang terlihat dan jebakan yang tersembunyi — keduanya sudah dia baca, dan ia sedang membiarkan Damar merasa pintar agar Damar lengah?
Malam terakhir sebelum mereka mulai menanam umpan, Damar duduk sendirian di studio setelah siaran berakhir. Pak Hasan sudah pulang. Hanya ada keremangan dan lampu meja yang membentuk lingkaran kuning di atas mixer, sama seperti malam pertama, berbulan-bulan dan seabad yang lalu. Ia mengeluarkan dompetnya, menarik foto ibunya dari balik KTP, dan untuk waktu yang lama hanya menatapnya.
Ia ingin berbisik padanya, seperti dulu. Tapi ia tahu sekarang. Ia tahu setiap bisikan bisa didengar. Maka ia tidak berbisik. Ia hanya menatap senyum lembut perempuan di foto hitam putih itu, dan dalam diam ia berkata pada dirinya sendiri, bukan pada ibunya: jangan biarkan ini mengubahmu jadi dia. Apa pun yang terjadi. Jangan jadi suara yang mengintai di balik dinding. Tetaplah suara yang didengarkan orang supaya mereka tidak sendirian.
Ia menyelipkan foto itu kembali, mematikan lampu meja, dan keluar ke malam kota yang dingin, membawa rencana yang ia tahu mungkin akan membunuhnya, atau lebih buruk, mungkin akan menjadikannya persis seperti yang ia buru.