Rangga datang ke rumah singgah pukul sebelas malam, tanpa seragam, dengan jaket lusuh yang membuatnya tampak seperti orang biasa yang lelah. Damar tahu apa artinya seragam yang ditinggalkan itu. Itu pesan tanpa kata: apa pun yang dibicarakan malam ini, bukan polisi yang bicara.
"Atasan saya mau menutup kasus minggu depan," kata Rangga begitu duduk, langsung ke inti, suara orang yang sudah lelah berputar-putar. "Mereka mau menjadikan kamu tersangka. 'Penyiar yang tahu segalanya lebih dulu.' Itu cerita yang rapi buat mereka. Tidak ada hantu, tidak ada konspirasi pabrik sepuluh tahun lalu yang menyeret nama-nama besar. Cuma satu penyiar gila yang mengarang permainan dan mungkin membunuh sendiri." Ia menatap Damar. "Saya tidak percaya itu. Tapi saya tidak bisa menahannya sendirian lagi. Dengan prosedur, saya kalah."
Damar menatap pria yang dulu memutar pulpennya dengan skeptis, yang menyebut petunjuk pertama "seperti puisi", yang menolak menggerakkan satu tim. Pria itu telah berubah, perlahan, dari skeptis menjadi sekutu yang ragu. Sekarang Damar membutuhkan langkah terakhir dari perubahan itu — dan ia tahu meminta langkah itu sama dengan meminta Rangga membakar kariernya.
"Pak," kata Damar pelan. "Saya tahu siapa dia."
Rangga membeku.
Damar tidak menunjukkan foto itu. Tidak menyebut nama. Ia hanya menatap Rangga dan berkata, "Saya tahu wajahnya. Saya tahu nama lamanya. Tapi saya tidak punya satu pun bukti yang akan diterima pengadilan. Kalau saya bawa ini lewat jalur resmi, atasan Bapak akan membuangnya, dan dia — orang itu — akan tahu kita sudah dekat, lalu menghilang atau membunuh lebih cepat. Satu-satunya cara menangkapnya adalah memaksanya datang ke tempat yang sudah kita siapkan. Di luar prosedur. Tanpa izin. Tanpa jaring resmi."
Rangga lama tidak menjawab. Ia menatap lantai, ke peta korban yang tersebar, ke garis-garis yang dulu ia kira khayalan dan kini ia tahu adalah peta kuburan. "Kamu minta saya menjebak tersangka tanpa surat perintah, tanpa pengawasan resmi, tanpa apa pun yang akan melindungi saya kalau ini gagal," katanya akhirnya, datar. "Kalau ada yang mati dalam operasi yang tidak pernah ada di atas kertas, saya yang masuk penjara. Bukan dia."
"Iya," kata Damar. Ia tidak punya keberanian untuk berbohong tentang itu.
Rangga berdiri, berjalan ke jendela, menatap kota yang gelap di luar. Untuk waktu yang lama ia diam, dan Damar mendengar detik jam dinding mengisi keheningan, satu per satu, seperti hitung mundur. Ia tahu apa yang sedang dipertimbangkan Rangga: bertahun-tahun kerja, pensiun, nama baik, keluarga. Semua itu ditaruh di satu sisi timbangan. Di sisi lain hanya keyakinan bahwa seorang penyiar gila ternyata benar selama ini.
"Sari," kata Rangga akhirnya, tanpa menoleh. "Perawat tua itu. Bu Rahmi. Saya periksa ulang berkas lama kematian Sari kemarin, diam-diam. Surat kematiannya ditandatangani tanpa otopsi. Dokter yang tanda tangan sudah pindah ke luar negeri tujuh tahun lalu, mendadak, dengan uang yang tidak jelas asalnya." Ia berbalik, dan di matanya ada sesuatu yang Damar belum pernah lihat di sana — bukan skeptisisme, bukan kehati-hatian prosedural, melainkan kemarahan. Kemarahan lama seorang polisi yang baru sadar institusinya pernah ikut mengubur kebenaran. "Mereka menutupinya, Damar. Sepuluh tahun lalu, orang-orang dengan lencana yang sama dengan saya ikut menutupinya. Dan sekarang atasan saya mau menutupinya lagi, dengan kamu sebagai tumbalnya."
Ia kembali ke kursi, duduk, dan menatap Damar lurus. "Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi dua kali." Ia menarik napas panjang. "Ceritakan rencanamu. Semuanya. Dan kalau ini bodoh — dan saya yakin ini bodoh — kita perbaiki bersama sampai cukup tidak bodoh untuk tidak membunuh kita semua."
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang terasa sangat lama, Damar merasakan sesuatu yang nyaris seperti harapan. Ia tidak lagi sendirian di frekuensi gelap. Ada Maryani yang membawa kebenaran, ada Bu Rahmi yang akhirnya bicara, dan kini ada Rangga — bukan polisi yang terikat aturan, melainkan orang yang memilih kebenaran di atas lencananya. Tiga orang melawan satu suara. Tapi Damar tahu, sambil mulai menjelaskan rencananya kalimat demi kalimat, bahwa satu suara itu telah merencanakan permainan ini selama sepuluh tahun, dan mereka baru beberapa minggu.