Pengetahuan tanpa bukti adalah racun yang lambat. Selama berhari-hari Damar hidup dengan wajah itu di kepalanya, nama yang tak berani ia ucapkan keras-keras bahkan dalam pikiran, dan kekosongan yang menyiksa: ia tahu, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mendatangi Rangga dengan foto sekolah berumur belasan tahun hanya akan ditertawakan oleh atasan yang sudah lama ingin menutup kasus ini dengan cara termudah — menyalahkan Damar sendiri.
Maka Damar mengubah pertanyaannya. Bukan lagi siapa dia, melainkan bagaimana memaksanya keluar. Bagaimana memaksa hantu menampakkan diri di tempat yang bisa ditangkap manusia.
Ia duduk berjam-jam dengan Maryani di rumah singgah, dua orang yang menyusun strategi di atas lantai seperti dua jenderal tanpa pasukan. Mereka tahu satu hal pasti tentang orang itu: ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara. Selama berbulan-bulan ia menelepon, mengaku, menjelaskan, membenarkan diri. Ia membunuh dalam diam, tapi ia butuh seorang pendengar. Itu kelemahannya — bukan kebodohan, melainkan kebutuhan. Ia memilih Damar bukan secara kebetulan. Ia butuh seseorang menyaksikan keadilannya, membenarkannya, mengerti. Tanpa pendengar, pembalasannya hanya pembunuhan biasa.
"Dia tidak mau membunuh diam-diam," kata Damar pelan, menatap garis-garis yang mereka buat di kertas. "Dia mau dunia tahu kenapa. Dia mau aku tahu. Itu sebabnya semua ini lewat radio. Dia butuh panggung."
"Jadi kita beri dia panggung," kata Maryani.
Damar menggeleng. "Bukan panggung yang dia kendalikan. Panggung yang kita kendalikan." Ia menatap dinding tempat ia menempel peta korban. "Selama ini dia yang menentukan kapan dan di mana. Dia menelepon di jam yang dia pilih, dari nomor yang tak terlacak, ke saluran yang dia tahu aman. Kalau aku mau menangkapnya, aku harus membuatnya menelepon ke tempat dan waktu yang aku pilih — di mana sudah ada jaring."
Rencananya mulai berbentuk, perlahan dan berbahaya. Ia tidak bisa melacak panggilan masuk; orang itu terlalu hati-hati dengan kartu sekali pakai dan panggilan internet. Tapi semua kehati-hatian itu dibangun untuk satu skenario: orang itu yang menelepon. Bagaimana kalau Damar membalik arah? Bagaimana kalau ia bisa memaksa orang itu datang secara fisik ke suatu tempat — bukan menelepon, tapi hadir — karena ada sesuatu di sana yang tak bisa ia abaikan?
Dan Damar tahu apa satu-satunya hal yang tak bisa diabaikan orang itu.
"Ayahku," katanya, dan suaranya hampir tercekik. "Dia menyimpan urusan dengan ayahku untuk terakhir. Apa pun yang dia tahu tentang ayahku, itu luka tertuanya — dia tidak akan tahan membiarkan aku mengaduknya sendirian. Kalau aku bisa membuatnya percaya aku sudah menemukan jejak ayahku — kalau aku bisa membuatnya percaya ada sesuatu tentang ayahku yang akan terbongkar di suatu tempat, pada waktu tertentu — dia tidak akan menelepon. Dia akan datang. Dia harus datang. Itu satu-satunya bagian dari permainan ini yang tidak akan dia serahkan pada siapa pun untuk diurus."
Maryani menatapnya, ngeri dan kagum sekaligus. "Kamu mau jadikan ayahmu umpan."
"Aku mau jadikan kebohongan tentang ayahku umpan," Damar mengoreksi, walau ia tahu bedanya tipis dan licin. "Aku tidak tahu ayahku di mana, atau bahkan apakah dia masih hidup. Tapi orang itu tidak tahu seberapa jauh aku sudah menggali. Selama dia tidak yakin apa yang sudah kutemukan, aku bisa membuatnya percaya aku selangkah dari membongkar sesuatu yang dia kira hanya dia yang tahu. Ketidakpastian itu — itu ruang kosong yang bisa kuisi dengan apa pun yang aku mau."
Hening menggantung di antara mereka. Di luar jendela, senja kota meredup jadi jingga lalu kelabu. Damar tahu rencananya rapuh, penuh lubang, bergantung pada terlalu banyak hal yang bisa salah. Tapi untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia bukan lagi orang yang menunggu telepon. Ia menyusun perangkap. Dan untuk membuatnya bekerja, ia harus melakukan satu hal yang membuat perutnya mual: ia harus melibatkan Rangga di luar prosedur, memintanya mempertaruhkan lencananya. Karena perangkap tanpa jaring hanyalah undangan untuk dibunuh.
"Aku butuh Rangga," kata Damar pelan. "Tapi bukan Rangga yang polisi. Aku butuh Rangga yang percaya padaku lebih dari dia percaya pada aturannya. Dan aku tidak tahu apakah Rangga itu masih ada."