Maryani datang ke rumah singgah dengan tangan gemetar dan wajah pucat, melanggar setiap aturan yang mereka sepakati — datang langsung, siang hari, tanpa berputar. Damar tahu ada sesuatu yang besar sebelum perempuan itu membuka mulut.
"Saya tahu siapa dia," kata Maryani, hampir tersedak kata-katanya sendiri. "Saya tahu nama anak Sari."
Mereka duduk di lantai, dokumen-dokumen tersebar di antara keduanya. Maryani telah melacak lewat jalur yang tak terpikirkan oleh Damar: bukan arsip pabrik, bukan koran, melainkan daftar siswa lama SMK tempat anak itu pernah bersekolah, yang disebut nenek tetangga dulu. Ia mencocokkan tahun, alamat lama keluarga Wibawa, dan satu nama yang muncul lalu menghilang dari catatan sekolah di pertengahan kelas dua — berhenti tepat di tahun pabrik mati, tahun ibunya tewas.
"Dia berhenti sekolah, ganti nama, pindah ke wali yang lain," kata Maryani. "Tapi sidik jarinya, foto lamanya, masih ada di arsip ijazah yang tak pernah diambil." Ia mengeluarkan selembar fotokopi buram. Sebuah pasfoto remaja laki-laki, hitam putih, kaku. Wajah tirus, rambut rapi, dan mata — mata yang bahkan dalam foto sekolah yang membosankan itu menatap lensa terlalu lama, terlalu datar, seolah menilai siapa pun yang kelak akan memandangnya balik.
Damar menatap foto itu lama sekali. Mata dingin, kata nenek tetangga dulu. Pendiam. Mirip bapaknya. Ini wajahnya. Setelah berbulan-bulan hanya berhadapan dengan suara di udara, suara tanpa wujud yang seolah hidup di dalam dinding-dinding dan kabel telepon, kini ada wajah. Wajah seorang remaja yang sekarang sudah jadi laki-laki dewasa, yang berjalan di kota yang sama dengannya, yang mungkin pernah duduk di warung yang sama, lewat di lampu merah yang sama, berdiri di antrean yang sama.
"Damar," kata Maryani pelan. "Lihat nama belakangnya."
Damar memindahkan pandangannya ke tulisan di bawah foto. Dan saat ia membacanya, sebuah potongan teka-teki lama jatuh tepat di tempatnya, sesuatu yang Suara sendiri pernah singgung di malam-malam awal, petunjuk yang ia tanam begitu dalam sampai Damar tak pernah berpikir untuk menerapkannya pada sang pemberi petunjuk. Nama berawalan sama dengan kota tempat dia lahir. Petunjuk itu bukan hanya untuk korban. Petunjuk itu adalah tanda tangan. Pengakuan tersembunyi tentang dirinya sendiri, dibisikkan ke telinga Damar sejak awal, menunggu untuk dimengerti.
"Dia lahir di kota pesisir itu," kata Damar lambat. "Sebelum keluarganya pindah ke sini. Dan namanya—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Nama itu, kota pesisir itu, huruf yang sama — persis seperti petunjuk yang dulu ia umpankan tentang korban, hanya saja kali ini ia memakainya pada dirinya sendiri. Selama ini orang itu menertawakannya lewat petunjuk tentang korban, sementara petunjuk yang sama, dibalik dan diarahkan pada sang pemberi petunjuk, sudah menunjuk wajahnya dari awal.
Tangan Damar gemetar memegang fotokopi itu. "Kita harus bawa ini ke Rangga."
"Untuk apa?" Maryani tertawa pahit, suara yang sudah belajar getir dalam beberapa minggu terakhir. "Foto sekolah berumur belasan tahun, nama yang sudah dia ganti, sidik jari yang tidak ada di TKP mana pun karena dia terlalu hati-hati? Kita tahu siapa dia, Mar. Tapi kita tidak bisa membuktikan apa-apa. Kita tidak punya satu pun barang bukti yang menghubungkan wajah ini dengan satu pun mayat. Di mata hukum, dia masih cuma suara di telepon. Hantu."
Damar menatap mata datar di foto itu, mata yang seolah balas menatapnya menembus belasan tahun. Maryani benar. Mengetahui nama dan wajah tanpa bisa membuktikannya bukan kemenangan — itu kutukan. Sekarang ia tahu siapa yang harus ia cari, tapi ia juga tahu bahwa pengetahuan itu, kalau bocor, hanya akan memperingatkan orang itu bahwa permainan telah berbalik.
"Tidak ada yang boleh tahu kita punya ini," kata Damar pelan, menyelipkan foto itu ke dalam map dan map itu ke balik bantalnya. "Tidak Rangga, belum. Tidak Lana. Tidak siapa pun. Kalau dia tahu kita sudah melihat wajahnya, dia akan menghilang, atau dia akan mempercepat semuanya." Ia menatap Maryani. "Kita punya satu keuntungan sekarang. Untuk pertama kalinya, kita tahu sesuatu yang dia tidak tahu kita tahu. Jangan kita buang."
Malam itu, di siaran gelap yang kini hanya didengar segelintir orang sejak ia diskors lalu kembali dengan setengah hati, Damar berbicara ke mikrofon dengan suara yang ia paksa setenang biasa. Tapi di benaknya, sepanjang lagu dan jeda, hanya ada satu wajah. Mata datar yang menatap lensa terlalu lama. Dan untuk pertama kalinya sejak telepon pertama, ketika tengah malam lewat tujuh menit dan garis merah itu kembali menyala, Damar tidak merasa diburu. Ia merasa, samar dan berbahaya, seperti pemburu yang baru menemukan jejak kaki di lumpur.