Damar tidak tidur malam itu. Ia menghampar semua catatannya di lantai rumah singgah yang sempit — nama-nama yang ia kumpulkan berbulan-bulan, garis-garis yang menghubungkan satu kematian ke kematian lain, satu dosa ke dosa berikutnya. Untuk waktu yang lama ia mengira pusat dari semua ini adalah satu nama: ayahnya. Satu orang yang berbuat salah, satu utang yang harus dibayar. Tapi kata-kata Bu Rahmi mengubah bentuk seluruh peta itu.
Sugito. Orang perusahaan yang membayar perawat untuk bungkam, yang membungkam saksi dan merapikan suap. Polisi yang datang malam itu dan menolak melihat dua garis di leher Sari. Dokter yang menandatangani surat kematian tanpa otopsi. Dan ayahnya, yang menutup pintu hukum dengan rapi. Bukan satu orang. Sebuah rantai. Sebuah konspirasi kecil orang-orang biasa yang masing-masing menyumbang satu paku ke peti mati seorang buruh perempuan, lalu pulang ke rumah masing-masing dan tidur nyenyak selama sepuluh tahun.
Damar mengambil pena dan mulai menulis ulang daftarnya, bukan sebagai daftar acak, melainkan sebagai urutan. Ia teringat sesuatu yang selama ini tidak ia pahami: korban-korban Suara tidak pernah benar-benar acak. Korban pertama di gudang utara — perempuan itu, Maryam, bekas pegawai administrasi yang dulu ikut bersaksi membela pabrik dan menggugurkan separuh gugatan keluarga Sari. Lalu nama-nama lain dalam berbulan-bulan ini, satu per satu jatuh, masing-masing punya benang ke malam kematian Sari. Suara tidak membunuh sembarang orang yang bersalah pada dunia. Ia membunuh orang-orang yang bersalah pada ibunya. Dengan urutan. Dengan presisi. Seperti membayar tagihan satu per satu, dari yang paling kecil ke yang paling besar.
Dan kalau itu urutannya, pikir Damar dengan perut yang mengerut, maka ayahnya bukan korban kedua atau ketiga. Ayahnya, sebagai tangan yang menutup pintu keadilan, adalah puncak daftar itu. Yang terakhir. Yang paling besar. Suara menyimpannya untuk terakhir.
Esoknya ia menemui Rangga di sebuah taman, bukan di kantor polisi — keduanya kini paham bahwa tembok pun punya telinga. Rangga mendengarkan rekonstruksi malam kematian Sari dengan rahang yang makin mengeras, pulpennya diam di sakunya, tak diputar sama sekali.
"Bu Rahmi mau bersaksi resmi?" tanya Rangga pelan.
"Dia takut. Tapi saya rasa, kalau ada perlindungan, dia mau." Damar mengeluarkan catatannya. "Tapi bukan itu yang paling penting, Pak. Yang paling penting adalah ini bukan dendam pada satu orang. Ini daftar. Sugito, polisi yang menutup kasus, dokter yang tanda tangan — mereka semua dalam bahaya. Mungkin sudah ada yang jadi korban tanpa kita tahu kaitannya."
Rangga menatap lapangan kosong di depan mereka, tempat seorang anak mengejar layang-layang yang putus. "Sugito," katanya. "Nama itu pernah lewat di meja saya. Dua bulan lalu. Laporan orang hilang. Keluarganya bilang dia pergi dan tidak pulang. Kami pikir dia kabur dari utang." Ia menoleh ke Damar, dan ada sesuatu yang gelap di matanya. "Kalau yang kamu bilang benar, dia mungkin sudah mati. Dan kita menutup laporan itu sebagai orang kabur."
Damar merasakan dingin yang sudah jadi akrab. Berapa banyak kematian yang sudah disamarkan sebagai kebetulan, sebagai kepergian, sebagai bunuh diri — sama persis seperti cara mereka dulu menyamarkan kematian Sari? Suara membunuh orang-orang yang menyembunyikan pembunuhan dengan cara yang sama: dengan menyembunyikannya. Sebuah simetri yang dingin, hampir adil, hampir mengerikan dalam keadilannya.
"Pak," kata Damar, suaranya hampir tak terdengar. "Kalau urutannya benar, kalau ayah saya yang terakhir di daftar itu — berarti urusan Suara dengan ayah saya belum tuntas. Entah dia belum sampai padanya, entah dia tahu sesuatu tentang ayah saya yang belum saya tahu. Saya bahkan tidak tahu ayah saya masih hidup atau tidak. Tapi Suara tahu — dia selalu tahu lebih dulu dari saya."
Rangga lama tidak menjawab. Lalu ia berkata, pelan, kalimat yang menggantung di antara mereka seperti vonis: "Atau ayahmu yang terakhir karena dia menyimpan yang paling berat untuk akhir. Pertanyaannya, Damar — apa pun yang sebenarnya sudah terjadi pada ayahmu, kalau utang itu tetap tak bisa ditagih darinya, apa yang akan dia minta darimu sebagai gantinya? Kamu sudah memikirkannya?"
Damar tidak menjawab. Ia tidak punya jawaban. Ia hanya tahu bahwa malam akan datang lagi, seperti selalu, dan di suatu tempat di kota ini, jam tengah malam sudah mulai berdetak menuju angka tujuh.