Rumah Bu Rahmi berdiri di gang sempit di pinggiran selatan, sebuah rumah petak dengan pot-pot tanaman yang dirawat terlalu hati-hati, seakan merawat tanaman adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan. Perempuan tua itu membuka pintu sebelum Damar sempat mengetuk dua kali, seolah ia sudah menunggu di balik pintu sepuluh tahun lamanya.
"Kamu anaknya," kata Bu Rahmi begitu melihat wajah Damar. Bukan pertanyaan. Matanya yang keruh menyusuri garis wajah Damar seperti membaca dokumen lama. "Matamu mirip dia. Tapi mulutmu lain. Mulutmu mulut orang yang masih bisa diselamatkan."
Damar tidak tahu harus menjawab apa. Ia masuk, duduk di kursi rotan yang berderak, dan Maryani duduk di sampingnya. Bu Rahmi menyuguhkan teh yang tak ada satu pun dari mereka sentuh.
"Saya yang pertama melihat Sari malam itu," Bu Rahmi memulai, suaranya pelan tapi mantap, suara orang yang sudah melatih cerita ini di kepalanya ribuan kali tanpa pernah mengucapkannya. "Saya perawat di klinik pabrik. Malam itu mereka memanggil saya ke rumah dinas buruh. Bilang ada yang bunuh diri. Saya datang, dan saya lihat Sari tergantung di kamarnya."
Bu Rahmi berhenti. Tangannya yang keriput mengepal di pangkuan.
"Tapi saya perawat, Nak. Hampir tiga puluh tahun. Saya tahu beda antara orang yang mati gantung diri dan orang yang sudah mati sebelum digantung." Suaranya merendah. "Lehernya. Bekasnya salah. Ada dua garis, bukan satu. Satu mendatar — itu yang menjeratnya sebelum dia digantung. Yang satunya baru, naik ke arah simpul, dibuat belakangan. Dan kukunya bersih. Orang yang mencoba melepaskan tali dari lehernya akan punya luka di kuku, di leher. Sari tidak punya. Dia sudah tidak melawan apa-apa lagi saat tali itu dipasang."
Damar merasa dingin merayap dari tengkuk ke punggungnya. Ia membayangkan seorang anak laki-laki, masih kecil sepuluh tahun lalu, mungkin tidur di kamar sebelah, mungkin terbangun oleh suara. Ia membayangkan bagaimana sebuah dendam bisa tumbuh dari malam seperti itu, akar demi akar, sampai jadi sesuatu yang menelepon studio radio di tengah malam.
"Bu melapor?" tanya Damar.
Bu Rahmi tertawa pelan, tawa tanpa kegembiraan. "Saya coba bilang ke polisi yang datang. Mereka tidak mau mendengar. Lalu paginya, manajer pabrik memanggil saya. Bukan dia langsung — orangnya. Mereka kasih amplop. Mereka bilang, 'Sari sakit jiwa, dia stres karena di-PHK, ini bunuh diri, jangan bikin keluarganya makin susah dengan tuduhan aneh-aneh.'" Bu Rahmi menatap dinding, ke titik yang hanya ia yang bisa lihat. "Saya ambil amplopnya, Nak. Saya ambil. Saya punya tiga anak waktu itu. Saya pindah ke kota lain, ganti pekerjaan. Saya diam sepuluh tahun. Dan tiap malam saya mendengar leher itu berderak."
Hening menggantung di ruangan kecil itu. Di luar, seekor ayam berkokok salah waktu.
"Siapa orang perusahaan itu, Bu?" tanya Maryani, pena siap di tangannya.
"Namanya Sugito. Dia bukan yang menandatangani PHK — itu manajer personalia, Wahyudi. Sugito yang mengurus sisi gelapnya: membungkam saksi, membagi amplop, merapikan apa pun yang bisa bocor. Dia juga yang urus saya." Bu Rahmi menelan ludah. "Tapi Sugito cuma tukang bayar. Yang menentukan kasusnya ditutup, yang membuat gugatan keluarga Sari kandas di pengadilan supaya tidak ada penyelidikan lanjutan — itu pengacara perusahaan." Matanya kembali ke Damar, lembut dan kejam sekaligus. "Ayahmu, Nak. Tanpa tanda tangan ayahmu di berkas itu, kasus ini akan tetap terbuka. Sari mungkin akan dapat otopsi ulang. Mungkin kebenarannya keluar. Ayahmu yang menutup pintu itu. Dengan rapi. Secara hukum. Tanpa pernah menyentuh tali."
Damar memejamkan mata. Selama ini ia mengira dosa ayahnya adalah kekalahan di pengadilan, sebuah kegagalan profesional yang kebetulan menimpa orang yang salah. Tapi ini lebih dalam. Ayahnya bukan sekadar kalah membela keluarga yang benar. Ayahnya menang membela kebohongan, dan kemenangan itu mengubur seorang perempuan yang dibunuh menjadi statistik bunuh diri. Ayahnya tahu, atau setidaknya tak peduli untuk tahu. Dan lalu ia pergi, meninggalkan Damar mewarisi nama yang sama, dosa yang sama, di kota yang sama tempat seorang anak yatim menyimpan dendamnya.
"Kenapa Bu mau bicara sekarang?" Damar bertanya serak.
Bu Rahmi menatapnya lama. "Karena saya dengar ada orang yang membunuh lagi. Karena saya tahu siapa, walau saya tidak mau menyebut. Dan karena saya tidak mau mati membawa ini." Ia meraih tangan Damar dengan tangannya yang dingin. "Anak itu, Nak. Anak Sari. Kalau dia membunuh, dia salah. Tapi malam ini saya melihat seorang lagi anak yang sedang dihancurkan oleh dosa orang tua. Putuskan, Nak. Salah satu dari kalian harus memutuskannya. Atau ini akan terus turun, dari malam ke malam, sampai tidak ada yang tersisa untuk dibalas."