Hujan turun tipis sejak sore, mengubah jalanan kota menjadi cermin patah-patah yang memantulkan lampu neon. Damar duduk di sudut paling belakang sebuah warung kopi yang bukan langganannya — sengaja, supaya tak ada yang tahu pola barunya. Sejak kesalahan kecil yang akhirnya ditinggalkan Suara minggu lalu, sejak untuk pertama kalinya ia merasa selangkah di depan, Damar belajar satu hal: setiap kebiasaan adalah pintu yang ia buka untuk orang itu. Maka ia menutup pintu-pintu itu satu per satu.
Perempuan di seberang meja itu datang terlambat sepuluh menit. Damar mengenalinya dari foto byline-nya — Maryani, wartawan lepas yang dulu membayangi gerak-geriknya, yang dulu ia anggap ancaman lain. Sekarang ia datang sendiri, tanpa perekam yang menyala, tanpa kamera. Hanya membawa map cokelat yang lembap di ujungnya.
"Saya kira kamu yang bakal menolak ketemu saya," kata Damar pelan. "Bukan sebaliknya."
"Saya juga kira begitu." Maryani melepas jaketnya yang basah. Wajahnya lelah, dan ada sesuatu di matanya yang Damar kenal karena ia melihatnya tiap pagi di cermin: ketakutan yang sudah berubah jadi keras kepala. "Tapi saya nggak bisa diam terus. Saya sudah dapat ancaman juga. Surat. Sama persis seperti yang kamu ceritakan ke polisi — tulisan tangan, rapi, dingin. Cuma satu kalimat: berhenti menulis, atau kamu jadi berita."
Damar menegakkan tubuh. "Kapan?"
"Tiga hari lalu." Maryani mendorong map itu ke tengah meja, tapi tangannya tak melepasnya. "Dan itu yang bikin saya sadar, Mar — saya nggak bisa menulis cerita ini dari luar. Saya harus berdiri di dalamnya. Bersama kamu. Karena dia sudah memasukkan saya, sama seperti dia memasukkan kamu."
Damar menatap map itu lama. Tiga bulan lalu ia akan curiga ini jebakan — wartawan yang berpura-pura jadi korban untuk memancing pengakuan. Tapi tiga bulan lalu ia belum kehilangan siaran, belum dicurigai polisi, belum sendirian. Sekarang ia tahu rasanya berdiri di tengah lingkaran yang menyempit. Ia tahu wajah orang yang baru saja masuk ke lingkaran itu.
"Apa isinya?" tanyanya.
Maryani membuka map itu. Di dalamnya fotokopi-fotokopi kusam, sebagian tintanya memudar. "Saya menggali soal pabrik itu sejak lama, jauh sebelum saya tahu kamu terlibat. Dan saya menemukan satu orang yang nggak pernah disebut di berita mana pun. Bekas perawat di klinik pabrik PT Mukti Sandang. Namanya Bu Rahmi. Dia yang pertama melihat jasad Sari malam itu, sebelum polisi, sebelum siapa pun." Maryani menatap Damar. "Dan dia masih hidup, Mar. Dia masih di kota ini."
Damar merasa udara di warung itu menipis. Sari. Ibu Suara. Kematian yang disebut bunuh diri, yang keluarganya bersikeras pembunuhan. Selama berbulan-bulan ia menggali, tapi semua saksi sudah mati, pindah, atau memilih bungkam karena takut. Dan kini, lewat orang yang dulu ia anggap musuh, sebuah pintu yang ia kira terkunci permanen tiba-tiba menganga.
"Kenapa Bu Rahmi nggak pernah bicara?" tanya Damar.
"Karena dia diancam waktu itu," kata Maryani. "Sepuluh tahun lalu. Disuruh diam, dibayar untuk pindah. Tapi dia tua sekarang, dan dia capek menyimpan ini. Saya sudah ketemu dia dua kali. Dia mau bicara — tapi cuma sama orang yang dia percaya benar-benar mau keadilan, bukan cuma berita." Maryani menatapnya. "Saya bilang ke dia ada penyiar radio yang anaknya orang yang merampas keadilan itu, dan penyiar itu sekarang malah jadi buruan. Dia bilang dia mau ketemu kamu."
Damar menatap hujan di luar jendela, tetes-tetes yang meleleh di kaca. Ia teringat suara datar di teleponnya, malam-malam panjang ketika orang itu seolah memegang seluruh papan permainan sementara Damar hanya bidak yang digerakkan. Selama ini ia selalu mengejar petunjuk yang Suara berikan, berjalan di jalur yang sudah dipilihkan untuknya. Tapi ini — Bu Rahmi, Maryani, malam kematian Sari — ini bukan petunjuk dari Suara. Ini ditemukan di luar permainan. Ini miliknya.
"Dia tahu kamu menemui saya?" Damar bertanya, suaranya nyaris bisikan.
Maryani menggeleng pelan, lalu ragu. "Saya harap tidak. Saya naik dua angkot, ganti baju, matikan ponsel. Persis seperti yang kamu tulis ke saya." Ia tersenyum tipis, getir. "Saya belajar dari kamu."
Damar menutup map itu dan menyimpannya di balik jaketnya, di tempat yang biasa ia simpan tak ada apa-apa selain dompet dengan foto ibunya. Untuk pertama kalinya sejak telepon pertama di tengah malam itu, ada orang lain yang melangkah ke dalam gelap bersamanya tanpa diperintah. Bukan Lana yang harus ia lindungi, bukan Rangga yang terikat prosedur. Seseorang yang memilih datang.
"Besok," kata Damar. "Antar saya ke Bu Rahmi besok. Tapi kita tidak boleh datang berdua dari arah yang sama. Dan satu lagi—" Ia menatap Maryani lurus, dan untuk sesaat suaranya kembali seperti suara yang dulu menenangkan kota tiap malam. "Mulai sekarang, jangan pernah bicara soal ini di telepon. Tidak pernah. Dia mendengarkan. Dia selalu mendengarkan."
Maryani mengangguk, dan di matanya Damar melihat pemahaman yang dingin, pemahaman orang yang baru menyadari ia tak akan bisa kembali ke hidupnya yang lama. Mereka berdua keluar dari warung itu dengan jarak sepuluh langkah, ke arah yang berbeda, menghilang ke dalam hujan kota yang tak pernah benar-benar tidur.