Tulisan Maryani terbit tiga hari kemudian, dan meski namanya tidak disebut—hanya "seorang penyiar radio malam"—seluruh kota yang mendengarkan Lentera Malam tahu persis siapa yang dimaksud. Damar menyadarinya dari cara orang-orang menatapnya. Bang Toni yang biasa cerewet jadi canggung. Penjual nasi langganannya memberi kembalian tanpa menatap mata. Dan di kolom komentar di bawah artikel itu, di antara ratusan tanggapan, ketakutan kota menemukan bentuknya yang paling tua: mencari seseorang untuk disalahkan.
"Kok bisa dia selalu tahu duluan?"
"Penyiar itu pasti terlibat. Gak masuk akal kalau cuma kebetulan."
"Jangan-jangan dia sendiri pelakunya, terus pura-pura jadi korban biar gak dicurigai."
Damar menutup ponselnya, tangannya gemetar. Ia berdiri di depan cermin retak di kamar mandi rumah singgah, menatap wajahnya sendiri—kantung mata yang menghitam, kulit pucat, mata orang yang tidak tidur. Dan untuk satu momen yang dingin, ia mencoba melihat dirinya seperti kota melihatnya. Seorang lelaki yang tahu pengakuan sebelum mayat ditemukan. Seorang lelaki yang memecahkan teka-teki yang polisi sendiri tak bisa. Seorang lelaki yang ada di tempat seseorang mati. Seorang lelaki yang ayahnya—kalau ada yang menggali sejauh itu—adalah pengacara yang menggugurkan keadilan keluarga si pembunuh.
Bukankah itu cerita yang sempurna? Bukan korban yang diteror, melainkan pelaku yang merancang seluruh drama, mengarang Suara di telepon, membunuh untuk membalas dendam keluarganya sendiri, lalu berpura-pura diburu agar tak ada yang mencurigainya.
Damar mencengkeram wastafel. Itu rancangan yang terlalu rapi untuk kebetulan. Dan ia tahu, dengan kejelasan yang membuatnya mual, siapa yang cukup sabar dan cukup teliti untuk menyusun rancangan serapi itu. Suara tidak sekadar membunuh orang-orang yang bersalah pada keluarganya. Suara sedang membangun, batu demi batu, sebuah kasus terhadap Damar. Setiap petunjuk yang diberikannya, setiap panggilan tengah malam, setiap kali Damar dipancing ke TKP—semuanya meninggalkan jejak yang menunjuk balik ke Damar. Penyadapan di studio merekam suaranya bicara dengan "penelepon misterius". Foto-foto. Lokasi. Pola.
Aku ingin kamu menggantikan. Kalimat dari surat di menara air kembali, dan baru sekarang Damar mengerti satu lapisannya yang lebih dalam. Menggantikan bukan hanya secara moral—menjadi seperti Suara, mewarisi dendam. Menggantikan secara harfiah: menjadi orang yang dihukum, yang ditangkap, yang menanggung. Anak dari orang yang berutang nyawa, dibuat membayar utang itu dengan kebebasannya sendiri, sementara pelaku sesungguhnya menghilang ke dalam udara seperti yang selalu ia lakukan.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rangga, singkat dan dingin dengan cara yang berbeda dari biasanya: "Datang ke kantor besok pagi. Atasan saya ingin bicara. Bawa semua catatanmu."
Damar menatap pesan itu lama. Atasan Rangga. Bukan Rangga sendiri. Ada perubahan nada di sana, formalitas yang menggantikan keakraban rapuh yang mereka bangun. Ia mengenali apa artinya. Tekanan dari atas. Kasus yang harus ditutup cepat. Dan tersangka yang paling masuk akal, yang selalu ada di dekat tiap kematian, yang tahu terlalu banyak, sedang menatap balik dari cermin retak ini.
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin. Suara di kepalanya—bukan Suara itu, melainkan instingnya sendiri—berbisik bahwa ini babak baru permainan, dan kali ini lawan yang ia hadapi bukan hanya pembunuh di kegelapan, melainkan kecurigaan seluruh kota dan mesin hukum yang mencari jalan termudah. Pelaku telah memutar cermin. Kini saat Damar mencari wajah pembunuh, yang ia temukan adalah wajahnya sendiri.