Berita kematian Sutadi memuat satu kata yang membuat Damar membeku saat membacanya di portal lokal: "mata korban ditemukan tertutup kain, mengingatkan pada temuan serupa di kawasan gudang utara beberapa pekan lalu." Seseorang telah menghubungkan dua kematian itu. Dan beberapa hari kemudian, seseorang itu menemukan Damar.
Namanya Maryani, jurnalis sebuah media daring lokal kecil yang lebih sering meliput banjir dan korupsi anggaran kelurahan ketimbang pembunuhan. Tapi matanya tajam dan ia tak mudah dibohongi. Ia menunggu Damar di warung Bang Toni di ujung gang, sudah memesan kopi, sudah membuka buku catatan, seolah tahu Damar pasti lewat sini.
"Mas Damar, penyiar Lentera Malam, kan?" Ia tersenyum, tapi senyum itu kerja, bukan ramah. "Saya cuma mau ngobrol. Off the record kalau Mas mau."
Damar berhenti, kewaspadaan yang kini jadi napasnya langsung menyala. "Soal apa?"
"Dua orang mati dengan cara yang sama. Mata ditutup kain. Yang satu di gudang utara, yang satu di Bukit Asri. Polisi tutup mulut rapat-rapat." Maryani menggeser kursi, mengisyaratkan Damar duduk. "Tapi saya dengar ada penyiar radio yang ada di TKP kedua subuh-subuh. Saya dengar penyiar ini juga sempat lapor ke polisi soal telepon aneh berminggu-minggu lalu. Saya cuma menghubungkan titik-titik, Mas. Itu pekerjaan saya."
Damar duduk, perlahan, karena menolak duduk justru akan lebih mencurigakan. Bang Toni menatap dari balik etalase gorengan, gelas dilap setengah jalan. "Saya tidak bisa cerita apa-apa," kata Damar. "Ini perkara polisi."
"Tentu, tentu." Maryani mengangguk, tapi pena di tangannya tidak ikut mengangguk. "Tapi izinkan saya berpikir keras-keras, dan Mas boleh diam saja. Seseorang menelepon acara malam Mas, mengaku membunuh, sebelum mayatnya ditemukan. Lalu orang ini terus menelepon. Lalu orang ini, entah bagaimana, selalu selangkah di depan polisi. Dan Mas, secara kebetulan yang luar biasa, selalu ada di dekat tiap kematian. Pertama Mas dengar pengakuannya. Kedua Mas ada di TKP." Ia menatap Damar lurus. "Dari sudut pembaca saya, Mas, itu bisa dibaca dua cara. Mas korban yang diteror. Atau Mas tahu jauh lebih banyak dari yang Mas akui."
Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam dari yang Maryani sadari, karena itu persis ketakutan yang sudah menggerogoti Damar sejak ia berlutut di dapur Sutadi. Selalu ada di dekat tiap kematian. Selalu tahu lebih dulu. Ia menelan ludah. "Saya korban," katanya, dan terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.
"Saya percaya Mas," kata Maryani, terlalu cepat untuk dipercaya. "Tapi kalau saya tidak menulis ini, orang lain akan menulis, dan mereka belum tentu sebaik saya. Saya tawarkan ini: cerita Mas, versi Mas, sebelum versi orang lain keluar. Publik bisa jadi pelindung Mas. Kalau semua orang tahu Mas diteror, pelaku akan lebih sulit menyentuh Mas." Ia menutup buku catatannya, gestur yang dirancang untuk terlihat tulus. "Atau publik bisa jadi hakim Mas. Kalau cerita ini keluar tanpa suara Mas, dan orang-orang mulai bertanya kenapa penyiar ini selalu ada di sana—Mas tahu sendiri kota ini suka mencari kambing hitam."
Damar menatap kopinya yang mendingin, dan untuk pertama kalinya menyadari betapa perhatian publik adalah pisau bermata dua yang Suara mungkin justru inginkan ia genggam. Suara memilih panggung udara sejak awal. Suara ingin disaksikan. Apakah ini juga bagian rancangannya—membuat penyelidiknya sendiri jadi tertuduh, di depan seluruh kota?
"Saya butuh waktu," kata Damar akhirnya, berdiri. "Saya hubungi Mbak."
Maryani menyodorkan kartu nama, senyum kerjanya tak surut. "Jangan lama-lama, Mas. Berita seperti ini tidak menunggu. Dan saya bukan satu-satunya yang sudah mencium baunya."
Damar melangkah keluar ke gang sempit yang jarang dilewati matahari, kartu nama itu terasa panas di tangannya. Di belakangnya, di televisi kecil berdebu Bang Toni, pembaca berita membacakan sesuatu tentang "rentetan kematian misterius yang meresahkan warga." Damar tidak menoleh. Tapi ia tahu, mulai detik ini, ada satu pasang mata lagi yang membayanginya—dan kali ini mata itu bukan dari kegelapan, melainkan dari terang benderang siang hari, yang justru bisa lebih berbahaya.