Ruang pemeriksaan di Polsek Kota Tengah lebih kecil dari yang Damar bayangkan—meja logam, dua kursi, sebuah jendela kecil berterali yang membingkai langit kelabu. Rangga duduk di seberangnya, dan di sudut ruangan berdiri seorang perwira berpangkat lebih tinggi, perutnya membuncit di balik seragam, matanya menilai Damar dengan dingin sejak ia masuk. Komisaris—Damar menangkap pangkat dari lambang di bahunya. Atasan Rangga.
"Pak Damar," Rangga memulai, dan suaranya sengaja dibuat datar, prosedural, sesuatu yang menyakitkan justru karena Damar tahu apa yang ada di baliknya. "Ini pemeriksaan resmi. Anda berhak didampingi penasihat hukum. Anda paham?"
Damar mengangguk. Mulutnya kering. "Saya paham, Pak."
Komisaris di sudut bicara lebih dulu, tak sabar menunggu basa-basi. "Mari kita langsung saja. Dua orang mati. Anda mengenal kedua TKP. Anda mendengar pengakuan pelaku sebelum publik tahu. Anda memecahkan teka-teki yang tim kami sendiri kesulitan. Dan setiap kali kami terlambat, Anda kebetulan ada di sana." Ia melangkah maju, meletakkan kedua tangan di meja. "Saya sudah lama jadi polisi, Pak Damar. Saya tidak percaya kebetulan sebanyak itu. Jadi tolong jelaskan—bagaimana seorang penyiar radio bisa tahu begitu banyak?"
Damar menatap Rangga, mencari sekutu di wajah yang ia kenal. Tapi Rangga menatap mejanya, pulpennya untuk pertama kalinya diam, tak berputar. "Karena dia memilih saya," kata Damar, suaranya bergetar lalu mengeras. "Dia menelepon acara saya. Dia memberi saya petunjuk. Dia memancing saya ke setiap tempat itu. Bukan saya yang tahu duluan—dia yang memberi tahu saya duluan. Itu semua ada di rekaman. Pak Rangga punya rekamannya. Penyadapan. Perekam yang saya temukan di kamar saya—"
"Rekaman suara yang tidak bisa kami identifikasi," potong Komisaris. "Penyadapan yang hanya menangkap suara Anda bicara, karena lawan bicara Anda memakai teknologi yang tidak meninggalkan jejak. Perekam yang Anda sendiri yang menyerahkan—yang sidik jarinya, kalau kami periksa, mungkin hanya milik Anda." Ia tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Apakah Anda lihat masalahnya, Pak Damar? Setiap bukti yang Anda ajukan untuk menunjukkan Anda korban, bisa dibaca sebaliknya. Sebagai bukti Anda mengarang seorang pembunuh untuk menutupi diri Anda sendiri."
Damar merasa lantai runtuh perlahan, perasaan yang sama dengan pertemuan pertamanya di kantor ini berbulan-bulan lalu, hanya kini jauh lebih buruk. Dulu mereka tak percaya ada pembunuh. Kini mereka percaya ada pembunuh, dan menduga itu dia.
"Tanyakan motif," kata Damar putus asa. "Kenapa saya membunuh orang-orang itu?"
Hening. Lalu Komisaris mengeluarkan selembar kertas dari map, meletakkannya di meja, dan menggesernya ke arah Damar. Salinan dokumen lama. Damar menatapnya, dan darahnya membeku. Berkas persidangan PT Mukti Sandang. Di bawah nama pengacara pembela perusahaan, nama keluarga yang sama dengan namanya, dilingkari merah.
"Ayah Anda," kata Komisaris pelan, "adalah pengacara yang menghancurkan keluarga Sari. Keluarga yang, menurut teori Anda sendiri, adalah keluarga si pembunuh. Itu motif, Pak Damar. Itu motif yang sangat kuat—balas dendam, atau rasa bersalah, atau keinginan menghapus jejak dosa keluarga. Anda sendiri yang membawa kami ke pabrik ini. Anda sendiri yang menunjukkan benangnya." Ia menatap Damar lurus. "Pernahkah terpikir oleh Anda, bahwa Anda menuntun kami persis ke tempat yang Anda inginkan?"
Damar berpaling ke Rangga, dan kali ini Rangga mengangkat matanya. Dalam tatapan itu Damar melihat perang—keyakinan pribadi melawan prosedur, persahabatan rapuh melawan tekanan atasan, kebenaran melawan jalan termudah. Rangga membuka mulut, lalu menutupnya. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berkata pada Komisaris: "Pak, izinkan saya bicara berdua dengannya."
Komisaris menatap mereka berdua lama, lalu mengangkat bahu dan melangkah ke pintu. "Lima menit, Rangga. Dan ingat di pihak mana lencanamu." Pintu tertutup.
Damar menatap satu-satunya orang di gedung ini yang mungkin masih percaya padanya, dan bertanya dengan suara yang pecah: "Pak. Bapak juga mengira saya yang melakukan ini?"