Damar tidak tidur selama dua hari setelah kematian Sutadi, dan saat ia akhirnya berhenti mencoba, kamar rumah singgah yang diatur Rangga telah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Ia menempel kertas-kertas ke seluruh dinding—salinan arsip koran, catatan tulisan tangannya sendiri, peta kota yang ia sobek dari buku petunjuk lama. Di tengah-tengah, ia menulis tiga nama dengan spidol tebal, dilingkari: korban pertama di gudang utara, lalu Sutadi, lalu di antara keduanya satu tanda tanya besar yang menolak terjawab.
Ia memperlakukannya seperti papan kendali studio. Setiap kabel harus menuju ke suatu tempat. Setiap garis merah punya sumber. Ia menarik benang—benar-benar benang jahit yang ia minta dari ibu pemilik rumah singgah—dari satu kertas ke kertas lain, menghubungkan nama dengan nama, peristiwa dengan peristiwa, sampai dinding itu dipenuhi jaring laba-laba merah yang berpusat pada satu kata di tengah: PABRIK.
Korban pertama. Maryam. Ia sudah tahu namanya, tapi posisi persisnya dalam rantai dosa itu masih menggerogotinya — di anak tangga mana ia berdiri, siapa sebelum dan sesudahnya. Tapi Sutadi memberinya pijakan. Sutadi menyusun daftar PHK. Sutadi bersaksi membela pabrik. Sutadi ada di pihak yang salah saat Sari mati. Kalau Suara membunuh berdasarkan dosa terhadap keluarganya, maka korban-korban berikutnya pasti orang-orang yang juga ada di pihak itu. Bukan acak. Tidak pernah acak. Suara memilih dengan presisi yang sama seperti ia menata puntung rokok berjajar di atas batu.
Damar membuka kembali daftar nama dari koran lama dan mulai menyaringnya dengan logika baru. Siapa saja yang terlibat menggugurkan keadilan keluarga Sari? Ada pemilik pabrik. Ada manajer operasional. Ada Sutadi dari kepegawaian. Ada saksi-saksi di persidangan yang menyangkal. Ada ayahnya, pengacara. Dan, ia mencatat dengan tangan dingin, mungkin ada orang-orang yang namanya tak pernah masuk koran sama sekali—yang justru paling aman karena tak terlacak.
Ia menyusun urutan. Maryam, lalu Sutadi. Apakah ada pola dalam urutannya? Damar menatap dua titik itu lama sekali. Lalu sesuatu mulai membentuk diri, kabur tapi nyata. Kalau ia bisa memetakan posisi Maryam dalam rantai dosa itu, ia akan tahu logika urutannya—siapa yang lebih dulu dihukum, siapa berikutnya. Suara tidak membunuh sembarangan. Ia membunuh menaiki tangga, satu anak tangga demi satu anak tangga, menuju puncak. Dan di puncak tangga itu, Damar tahu dengan kepastian yang membuat perutnya dingin, berdiri ayahnya.
Ia menambahkan satu kertas di paling atas dinding, di luar jangkauan benang merah yang lain, terpisah sendiri. Di kertas itu ia tidak menulis nama. Ia hanya menulis: AYAH. Karena ia masih tak sanggup menuliskan nama keluarganya sendiri di antara para korban.
Pintu diketuk. Rangga masuk membawa dua bungkus nasi, dan berhenti melihat dinding itu. Lama ia tak bicara, matanya menyusuri jaring merah, nama-nama, garis-garis. "Kamu seharusnya istirahat," katanya akhirnya, pelan.
"Kalau aku istirahat, ada nama berikutnya yang mati." Damar tak berbalik dari dinding. "Lihat ini, Pak. Sutadi bukan acak. Dia ada di daftar. Mereka semua ada di daftar. Maryam, korban pertama, juga. Kalau kita bisa membaca urutannya — kenapa Maryam dulu, kenapa Sutadi berikutnya — dan kalau kita tahu urutannya—"
"Kita bisa menebak siapa berikutnya," Rangga menyelesaikan, dan untuk pertama kalinya nadanya bukan skeptis. Ia meletakkan nasi di meja dan mendekati dinding, mengamati seperti perwira membaca peta operasi. Pulpennya berputar di antara jari, tapi kali ini lambat, berpikir. "Ini kerja yang rapi, Damar. Terlalu rapi untuk seorang penyiar." Ia menatap Damar. "Itu yang membuatku khawatir."
Damar tidak menangkap nada di balik kalimat itu—belum. Ia terlalu sibuk menatap dindingnya, jaring yang menarik semua benang menuju satu pusat, satu rancangan pembalasan yang telah disusun seseorang dengan kesabaran sepuluh tahun. Ia melihat pola. Untuk pertama kalinya, ia melihat bentuk lawannya, bukan wajah, tapi cara berpikirnya. Dan dalam pola itu, samar dan menakutkan, ia melihat sesuatu yang lain juga—bayangan dirinya sendiri, seorang anak yang juga menyusun papan kendali tentang dosa seorang ayah.