"Kamu harus teratur makan dan minum obat dari saya ya," ucap Dokter Deri.
"Iya, Dok. Saya sakit apa jadinya?" tanya Jeslin.
"Kamu tampaknya anemia dan demam juga. Perlu di cek darah untuk memastikannya. Kalau sampe lusa belum ada perbaikan, kamu lebih baik check ke rumah sakit. Buat sementara ini, jangan lupa makan teratur dan minum obatnya. Perbanyak konsumsi sayur hijau dan hati ayam ya."
Jeslin mengangguk. "Baik, Dok. Maaf ya udah ngerepotin Dokter."
"Senang membantu kamu, Jes. Sekarang saya tinggal ya? Saya harus kembali praktek ke rumah sakit. Salam buat Papa dan Mama kamu," ucap Dokter Deri.
"Baik, Dok. Hati-hati di jalan, Dok."
Karena Jeslin tidak bisa mengantar kepergian Dokter Deri, Ia hanya bisa melambaikan tangan sebagai tanda berpamitan. Jeslin langsung kembali menyelimuti tubuhnya begitu pintu kamar tertutup.
Obat yang diberikan Dokter Deri sudah tertata rapi di atas nakas: tiga strip dalam plastik bening, lengkap dengan tulisan tangan dokter itu di bagian belakang resep — pagi, siang, malam, sesudah makan.
Sesudah makan. Bagian itu yang paling sulit.
Riana masuk sepuluh menit kemudian membawa nampan. Bubur ayam, telur rebus yang sudah dikupas, dan segelas air jeruk hangat.
"Habisin," kata ibunya sambil meletakkan nampan di pangkuan Jeslin.
"Banyak banget, Ma."
"Setengah juga boleh. Tapi jangan nol."
Jeslin menyendok buburnya pelan-pelan. Suapan pertama terasa hambar, suapan kedua sedikit lebih baik, dan pada suapan kelima ia baru sadar betapa laparnya ia sebenarnya.
Riana duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan tanpa berkata apa-apa, sampai setengah mangkuk itu habis.
"Ma," ucap Jeslin akhirnya.
"Hm?"
"Papa marah?"
"Papa kamu lagi di jalan pulang. Dia batalin makan malam sama relasinya." Riana merapikan selimut di kaki putrinya. "Marah? Enggak. Dia cuma diem aja di telepon tadi. Itu lebih serem sih, menurut Mama."
Jeslin tersenyum tipis dan kembali menyendok buburnya.
"Kamu mau cerita?" tanya Riana.
"Nanti ya, Ma."
"Ya sudah."
Ibunya tidak memaksa. Itu hal yang selalu Jeslin syukuri: Riana tidak pernah memaksa, hanya menunggu, dan entah bagaimana caranya, menunggu itu selalu lebih efektif daripada bertanya.
Setelah nampan dibawa keluar dan obat diminum, Jeslin akhirnya meraih ponselnya.
Dua puluh tiga panggilan tak terjawab.
Ia menghela napas, membuka pesan, dan menggulirkannya dari bawah.
Bimo: Kamu gapapa?
Bimo: Fiona bilang kamu udah nyampe rumah.
Bimo: Angkat dong, Jes.
Bimo: Aku tahu kamu marah. Aku pantes.
Bimo: Aku di depan komplek kamu.
Jeslin berhenti menggulir.
Pesan terakhir dikirim dua puluh menit yang lalu.
Ia turun dari tempat tidur terlalu cepat dan langsung harus berpegangan pada nakas ketika ruangan berputar. Setelah dunia berhenti bergerak, ia berjalan ke jendela dan menyibak sedikit gordennya.
Dari lantai dua, ia bisa melihat ujung jalan komplek.
Mobil hitam itu ada di sana, menepi di bawah pohon, lampunya mati.
Jeslin berdiri memandanginya cukup lama sampai kakinya kembali lemas.
Lalu ia mengambil ponselnya dan menelepon.
Diangkat pada dering pertama.
"Jes."
"Kenapa kamu di sana."
"Karena kamu gak angkat telepon."
"Terus kamu mau ngapain? Ngetuk pintu rumah aku? Ketemu papa aku?"
Hening di seberang.
"Enggak," jawab Bimo akhirnya. "Aku cuma... pengen tahu kamu beneran udah sampai rumah."
Jeslin menekan dahinya ke kaca jendela yang dingin.
"Bim."
"Iya."
"Aku mau resign."
Sunyi.
Panjang sekali.
"Jes—"
"Bukan gara-gara kemarin." Jeslin memejamkan mata. "Atau bukan cuma gara-gara kemarin. Aku udah mikirin ini sebelum semalem."
"Kamu bilang enam bulan lagi."
"Aku bohong. Aku selalu bilang enam bulan lagi. Udah tiga kali aku bilang enam bulan lagi."
Terdengar suara Bimo menghela napas panjang di seberang.
"Ini gara-gara Clarina?"
"Ini gara-gara aku." Jeslin membuka matanya dan menatap mobil hitam di ujung jalan. "Fiona nanya sesuatu ke aku tadi di mobil. Dia nanya, aku masuk ke kantor itu karena mau kerja, atau karena mau ngecek kamu."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku jawab aku gak tahu." Suaranya bergetar. "Dan itu jawaban paling jujur yang pernah aku kasih ke siapa pun dalam enam bulan terakhir, Bim. Aku gak tahu. Aku bahkan gak tahu kenapa aku ada di sana."
"Jes—"
"Aku capek jadi orang yang ngintipin pacarnya sendiri lewat laporan bulanan." Air mata itu datang lagi, dan Jeslin membiarkannya kali ini. "Aku capek denger orang-orang di pantry ngomongin kamu dan aku harus ikut ketawa biar gak ketahuan. Aku capek manggil kamu Pak."
Di seberang, hanya ada suara napas.
"Aku bukan mutusin kamu," lanjut Jeslin cepat. "Aku cuma mau keluar dari gedung itu. Aku mau kita jadi dua orang biasa lagi, bukan direktur sama stafnya."
"Kamu yakin?"
"Enggak." Jeslin tertawa lewat tangis. "Tapi aku lebih gak yakin sama yang sekarang."
Butuh waktu lama sebelum Bimo menjawab.
"Oke," katanya pelan. "Oke, Jes."
"Kamu gak marah?"
"Aku lega."
Jeslin mengerjap. "Apa?"
"Aku lega." Suara Bimo terdengar serak. "Kamu tahu berapa kali aku hampir nyuruh kamu keluar? Tapi aku gak berani, karena kalau aku yang nyuruh, kamu bakal mikir aku mau nyembunyiin sesuatu."
"Emangnya kamu nyembunyiin sesuatu?"
Pertanyaan itu meluncur sebelum Jeslin sempat menahannya.
Dan jeda satu detik sebelum Bimo menjawab — satu detik yang seharusnya tidak ada di sana — akan terus Jeslin ingat sampai berhari-hari kemudian.
"Enggak," kata Bimo.
Jeslin menatap mobil hitam itu.
"Pulang, Bim," ucapnya. "Udah malem."
"Jes—"
"Besok aku kirim suratnya."
Ia menutup telepon sebelum Bimo sempat menjawab, lalu berdiri di sana, di balik gorden yang tersibak sedikit, sampai lampu mobil itu akhirnya menyala dan menjauh ke ujung jalan.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua hari, Jeslin tidur tanpa menangis.
Bukan karena semuanya sudah selesai.
Tapi karena akhirnya ia memutuskan sesuatu sendiri.