Jeslin bangun dengan tubuh yang masih lemah. Demamnya sudah turun, tetapi kepalanya terasa berat. Di meja belajar, laptop menyala dengan satu dokumen kosong.
Ia menulis surat pengunduran diri perlahan. Berkali-kali jemarinya berhenti ketika membayangkan harus meninggalkan Fiona, meja kerjanya, dan rutinitas yang selama enam bulan menguras tenaga sekaligus membuatnya merasa dekat dengan Bimo.
Riana berdiri di ambang pintu. "Kamu yakin?"
"Aku gak yakin, Ma. Tapi aku harus keluar sebelum aku makin gak kenal sama diri sendiri."
"Kalau begitu selesaikan dengan baik. Jangan pergi sambil membawa sesuatu yang belum kamu katakan."
Jeslin mengirim surat itu kepada bagian personalia dan atasannya. Ia sengaja tidak mengirimkannya langsung kepada Bimo.
Satu jam kemudian Fiona menelepon.
"Lo serius resign?"
"Serius."
"Gara-gara Bimo?"
"Gara-gara gue. Gue masuk dengan alasan yang salah dan terus bertahan karena takut keluar."
Fiona menghela napas. "Gue sedih, tapi gue ngerti. Lo tetap harus datang buat serah terima."
"Kalau dokter ngizinin, gue datang lusa."
Tak lama setelah panggilan berakhir, Bimo mengirim pesan. Ia hanya menulis bahwa surat Jeslin sudah diterima dan akan diproses sesuai aturan. Tidak ada rayuan atau permintaan untuk mengubah keputusan.
Sikap profesional itu seharusnya melegakan, tetapi justru membuat Jeslin kecewa.
Menjelang malam, Bimo datang bersama ayah Jeslin. Mereka masuk ke kamar setelah Riana memberi izin. Bimo berdiri cukup jauh dari ranjang.
"Aku cuma mau lihat kondisi kamu," katanya.
"Kamu udah lihat. Aku baik-baik aja."
"Dokter bilang kamu harus cek darah besok. Aku bisa antar."
"Papa yang antar."
Bimo mengangguk. Ayah Jeslin kemudian meninggalkan mereka bicara sebentar.
"Kenapa semalam kamu lama jawabnya waktu aku tanya kamu nyembunyiin sesuatu?" tanya Jeslin.
Bimo menunduk. "Karena ada hal yang belum aku ceritakan. Bukan perselingkuhan."
"Tentang Clarina?"
"Tentang perusahaan dan keluargaku. Clarina terlibat, tapi bukan seperti yang kamu pikir."
Jeslin menatapnya tajam. "Jelasin sekarang."
"Ayahku sedang mempersiapkan merger. Salah satu syaratnya aku harus menikah dengan anak pemilik perusahaan mereka."
"Clarina?"
Bimo mengangguk. Dunia Jeslin seperti berhenti bergerak.
Jeslin tidak langsung marah. Ia terlalu lelah untuk berteriak. Justru ketenangannya membuat Bimo semakin gugup.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Tiga minggu lalu."
"Dan selama tiga minggu itu kamu diam."
"Aku menolak syaratnya. Aku pikir bisa menyelesaikan sendiri sebelum kamu perlu tahu."
Jeslin tertawa hambar. "Kamu selalu bilang begitu. Kamu kerja sendiri, ambil keputusan sendiri, terus baru cerita kalau semuanya udah meledak."
"Aku gak mau kamu kepikiran."
"Aku pacar kamu, Bim. Bukan anak kecil yang harus dilindungin dari semua informasi."
Bimo meminta maaf. Ia menjelaskan Clarina datang ke kantor untuk membicarakan merger, bukan menjalin hubungan. Clarina juga tidak menginginkan perjodohan tersebut, tetapi keluarganya memakai kedekatan mereka sebagai alat negosiasi.
"Kenapa dia sengaja terlihat dekat sama kamu?"
"Karena dia pengen bikin keluarganya percaya prosesnya berjalan sambil kami cari cara membatalkan syarat itu."
"Dan aku harus tahu dari kecurigaanku sendiri."
Jeslin meminta Bimo pulang. Ia tidak ingin membuat keputusan saat sakit dan emosi.
Keesokan hari hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobinnya rendah. Dokter meminta Jeslin beristirahat dan memperbaiki pola makan. Bimo hanya menerima kabar melalui ayah Jeslin karena Jeslin belum mau menjawab pesannya.
Di kantor, Bimo menghadapi ayahnya. Ia menyatakan tidak akan menerima merger jika pernikahan menjadi syarat.
"Kamu mau mempertaruhkan ribuan karyawan demi pacarmu?" tanya Leonardo.
"Saya menolak karena pernikahan bukan transaksi bisnis."
Clarina berada di ruangan itu dan menyatakan hal yang sama. Kedua keluarga marah, lalu memberi waktu satu bulan sebelum membatalkan seluruh kesepakatan.
Bimo menyadari perusahaan membutuhkan merger untuk menutup masalah arus kas yang selama ini disembunyikan ayahnya. Jika gagal, pemutusan kerja besar-besaran dapat terjadi.
Ia memandang surat pengunduran diri Jeslin di layar. Untuk pertama kalinya, Bimo memahami bahwa kecanduannya pada pekerjaan bukan hanya membuatnya kehilangan waktu. Kebiasaannya merasa harus menyelesaikan semua sendiri telah menghancurkan kepercayaan orang yang paling dicintainya.
Jeslin kembali ke kantor untuk serah terima setelah kondisinya membaik. Fiona menyambutnya dengan pelukan dan sekotak makanan.
"Lo harus makan sebelum minum obat," katanya.
"Iya, Bu Fiona."
Meja Jeslin sudah dipenuhi catatan perpisahan dari rekan kerja. Sebagian orang baru mengetahui hubungan Jeslin dan Bimo setelah kejadian pingsan. Bisik-bisik tetap terdengar, tetapi Jeslin tidak lagi merasa harus menjelaskan dirinya.
Bimo memanggilnya ke ruangan menjelang siang. Pertemuan itu dihadiri perwakilan personalia agar proses tetap profesional.
"Pengunduran diri kamu disetujui," kata Bimo. "Hak kamu akan dibayarkan penuh."
"Terima kasih, Pak."
Panggilan itu membuat wajah Bimo menegang, tetapi ia tidak menunjukkan reaksi di depan orang lain.
Setelah dokumen ditandatangani, petugas personalia keluar. Jeslin mengembalikan kartu akses dan laptop kantor.
"Setelah hari ini aku bukan bawahan kamu lagi," katanya.
"Aku tahu."
"Kalau hubungan kita mau dilanjutkan, gak boleh ada lagi informasi besar yang kamu simpan dengan alasan melindungi aku."
"Aku setuju."
"Aku belum bilang semuanya baik-baik aja."
"Aku juga gak berharap langsung begitu."
Bimo memberi tahu kondisi perusahaan, termasuk risiko kehilangan banyak karyawan jika merger gagal. Jeslin mendengarkan tanpa menawarkan diri kembali bekerja.
"Kamu harus menyelesaikan itu sebagai direktur," katanya. "Bukan sebagai pacarku."
"Dan sebagai pacarmu?"
"Kamu harus belajar hadir bahkan ketika gak punya solusi."
Sebelum pulang, Jeslin berpamitan kepada seluruh tim. Fiona menangis paling keras.
Di dalam lift, Jeslin akhirnya sendirian. Ketika pintu tertutup, ia menangis. Keluar dari kantor bukan keputusan mudah, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak menjadikan kedekatan dengan Bimo sebagai pusat seluruh hidupnya.
Di lantai atas, Bimo melihat meja kosong Jeslin melalui kaca. Ia ingin mengejar, tetapi menahan diri. Menghormati keputusan Jeslin adalah hal pertama yang harus ia lakukan jika ingin menyelamatkan hubungan mereka.
Seminggu setelah Jeslin keluar, Bimo mengajaknya bertemu di kedai kopi kecil. Tidak ada sopir, sekretaris, atau dokumen perusahaan. Bimo bahkan datang terlambat lima menit karena memilih menyetir sendiri.
"Untuk ukuran workaholic, lima menit itu dosa besar," kata Jeslin.
"Aku minta maaf. Jalanan macet dan aku gak mau bohong bilang ada meeting."
Jeslin tersenyum tipis. Mereka memesan kopi dan makanan. Bimo sengaja menyimpan ponselnya di tas, bukan di atas meja.
"Kamu gak perlu berlebihan," ujar Jeslin.
"Aku lagi belajar."
"Belajar hadir bukan berarti kamu harus matiin semua urusan kerja. Kalau memang darurat, jawab. Yang aku butuhin cuma penjelasan."
Bimo mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan nada untuk panggilan penting. Mereka menyusun kebiasaan baru: jadwal bertemu yang realistis, pesan singkat ketika sibuk, dan waktu tanpa pekerjaan yang disepakati bersama.
Jeslin juga mengakui kesalahannya. Ia bekerja diam-diam di perusahaan karena tidak percaya kepada Bimo dan berharap bisa mengawasinya.
"Aku menjadikan kantor kamu tempat buat menguji hubungan kita," katanya. "Itu gak sehat."
"Kita sama-sama bikin kesalahan."
"Tapi kesalahan kita beda. Jangan pakai kesalahanku buat mengecilkan kebohonganmu."
"Aku gak akan."
Pertemuan itu tidak langsung memperbaiki semuanya. Namun ketika mereka berjalan keluar, Bimo meminta izin menggenggam tangan Jeslin. Jeslin mengangguk.
Mereka berjalan sebagai dua orang biasa, bukan direktur dan staf. Untuk pertama kali dalam enam bulan, tidak ada laporan kantor yang menjadi alasan mereka bersama.
Ponsel Bimo kemudian berdering. Clarina menelepon dan mengatakan keluarga mereka mempercepat batas keputusan merger menjadi tiga hari.
Bimo menjelaskan panggilan itu langsung kepada Jeslin.
"Pergilah," kata Jeslin. "Selesaikan pekerjaanmu. Kita ketemu lagi setelahnya."
Bimo tidak menganggapnya sebagai penolakan. Ia mencium kening Jeslin, lalu pergi dengan janji memberi kabar setelah rapat.