"Jeslin...."
Suara pelan Fiona perlahan mulai membangunkan Jeslin. Minyak kayu putih yang dioleskan ke hidungnya cukup membuatnya tersadar perlahan. Jeslin langsung melihat ada banyak wajah yang kini menatapnya dengan khawatir.
"Kamu enggak papa, Jes?" tanya Clarina.
Jeslin melihat Bimo sedang berdiri di samping Clarina. Ia tersenyum datar, lalu mengangguk. "Thanks, Fi," ucap Jeslin ke Fiona.
"Lo mau ngapain? Mendingan lo pulang deh!" ucap Fiona saat melihat Jeslin hendak bangun dari posisi berbaringnya.
"Kamu bisa naik mobil saya jika perlu. Mungkin perlu periksa ke rumah sakit?" ucap Bimo.
Jeslin langsung menggelengkan kepalanya. "Saya cuma butuh istirahat di rumah. Apakah boleh, Bu?" tanya Jeslin sambil menatap Clarina.
Clarina langsung setuju. "Kamu pulang naik apa? Gak mungkin kamu nyetir sendiri dalam kondisi kayak gini."
"Saya naik ojek online aja, Bu."
"Enggak boleh." Clarina menggeleng tegas. "Kamu baru aja pingsan di lantai kantor saya. Kalau kamu pingsan lagi di jalan, saya yang repot."
"Gue anter." Fiona langsung mengangkat tangannya. "Gue bawa mobil kok hari ini."
"Nah. Bagus." Clarina menoleh ke Fiona. "Kamu anter sampai ke dalam rumahnya, ya. Jangan cuma diturunin di depan pagar."
"Siap, Bu."
"Saya bisa antar." Suara Bimo memotong dari sisi ruangan.
Semua kepala menoleh.
Jeslin merasakan sesuatu di perutnya mengerut. Ada enam orang di ruangan itu — Clarina, Fiona, dua anak tim keuangan, satu orang dari HR, dan office boy yang tadi membantu memindahkannya ke sofa. Enam pasang mata yang sekarang bergantian memandang direktur mereka dan seorang staf lantai tujuh.
"Kebetulan rumah saya searah," lanjut Bimo. Nadanya datar, profesional, sempurna. "Tidak masalah."
"Wah, jangan repotin Pak Bimo," sahut orang HR sambil tertawa canggung.
"Tidak repot."
"Saya udah ditawarin Fiona, Pak," ucap Jeslin cepat. "Makasih tawarannya."
Ia mengucapkannya sambil menatap lantai.
Hening beberapa detik. Kipas AC di langit-langit terdengar terlalu keras.
"Baik," kata Bimo akhirnya. "Kalau begitu semoga cepat pulih."
"Terima kasih, Pak."
Bimo keluar lebih dulu. Jeslin menghitung tujuh langkah sepatunya di lantai, lalu bunyi lift, lalu tidak ada lagi.
Baru setelah itu tubuhnya berani mengendur.
***
Mobil Fiona bau pengharum vanila dan sedikit bau kopi tumpah yang sudah lama meresap ke karpet.
Jeslin bersandar ke jendela, membiarkan dinginnya kaca menempel di pelipisnya. Di luar, jalanan sudah mulai padat oleh jam pulang kantor.
"Lo mau gue beliin bubur dulu?" tanya Fiona.
"Gak usah."
"Lo belum makan dari kemarin, Jes."
"Gue makan kok."
"Roti gue masih di laci lo. Gue lihat pas ngambil charger."
Jeslin tidak menjawab.
Fiona mengalihkan pandangan ke depan, menyalakan sein, dan berpindah jalur.
"Sampai kapan lo mau bohong sama gue?" tanyanya, tanpa nada menuduh sedikit pun.
"Fi—"
"Gue gak akan ngomong ke siapa-siapa. Gue cuma capek pura-pura gak tahu."
Jeslin memejamkan mata.
"Sejak kapan?" tanyanya pelan.
"Bulan ketiga lo masuk." Fiona mengangkat bahu. "Waktu itu ada acara gathering, lo ketumpahan minum, terus dia yang paling panik. Padahal ada dua puluh orang di situ dan lo bukan siapa-siapa buat dia."
Jeslin tertawa. Bunyinya lebih mirip embusan napas.
"Bodoh banget ya."
"Yang bodoh dia. Bukan lo."
Mobil berhenti di lampu merah. Fiona menoleh sepenuhnya ke arah Jeslin.
"Jes, gue mau nanya satu hal, dan lo boleh gak jawab."
"Apa."
"Lo masuk ke kantor ini karena mau kerja, atau karena mau ngecek dia?"
Pertanyaan itu menancap tepat di tempat yang selama enam bulan ini Jeslin hindari dengan sangat hati-hati.
Ia membuka mulut untuk membantah. Kalimatnya sudah siap: ia ingin belajar, ingin tahu rasanya bekerja tanpa nama belakang ayahnya, ingin membangun sesuatu sendiri. Kalimat yang sudah ia ucapkan puluhan kali kepada ayahnya, kepada ibunya, kepada dirinya sendiri di depan cermin.
Tapi yang keluar hanyalah, "Gue gak tahu, Fi."
Lampu berubah hijau. Fiona menginjak gas.
"Ya udah," katanya. "Itu jawaban yang paling jujur yang pernah gue denger dari lo."
***
Riana sudah berdiri di depan pagar ketika mobil Fiona masuk ke halaman.
"Astaga, Jeslin!" Ibunya langsung membuka pintu mobil sebelum mesinnya benar-benar mati. "Kamu kenapa? Mama ditelepon temen kamu katanya kamu pingsan!"
"Gak apa-apa, Ma. Cuma kecapekan."
"Cuma kecapekan gimana? Muka kamu putih semua!"
Fiona keluar dan membantu memapah Jeslin dari sisi lain. "Maaf ya, Tante. Tadi di kantor tiba-tiba jatuh. Untung gak kebentur meja."
"Ya ampun. Terima kasih ya, Nak, udah nganterin."
"Sama-sama, Tante."
Jeslin dipapah masuk, didudukkan di sofa ruang tengah, diselimuti walaupun ia bilang tidak dingin, dan disodori teh manis hangat yang terlalu manis untuk seleranya.
Fiona pamit setelah memastikan Jeslin benar-benar duduk. Sebelum keluar, ia sempat berbisik, "Besok gue izinin lo. Jangan ngeyel."
Setelah pintu tertutup, Riana duduk di sisi sofa dan menempelkan punggung tangannya ke dahi putrinya.
Lalu ke leher.
Lalu ke dahi lagi.
"Kamu panas, Jeslin."
"Anget dikit, Ma."
"Ini bukan anget dikit." Riana berdiri dan meraih ponselnya. "Mama telepon Dokter Deri."
"Ma, jangan. Nanti ngerepotin."
"Ngerepotin apanya. Dia praktek deket sini."
"Ma—"
"Jeslin." Riana berhenti dan menoleh, dan nada itu — nada yang biasanya keluar hanya sekali dalam setahun — langsung membuat Jeslin bungkam. "Kamu udah dua hari ini gak makan bener, matamu bengkak, dan barusan kamu pingsan di kantor. Mama gak nanya."
Jeslin menutup mulutnya.
Ibunya berjalan ke dapur sambil menempelkan ponsel ke telinga, dan dari sofa, Jeslin bisa mendengar suaranya menjelaskan gejala satu per satu dengan sabar.
Ia menarik selimut lebih tinggi dan menatap langit-langit ruang tengah.
Di dalam tasnya yang tergeletak di lantai, ponselnya bergetar sekali.
Jeslin membiarkannya.