Jeslin tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Matanya langsung mengarah ke jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul empat pagi. Ia ternyata terbangun lebih awal dari biasanya. Selama beberapa saat Jeslin tetap meringkuk di dalam selimutnya. Ia masih merasa tak bertenaga setelah menghabiskan waktu menangis selama semalaman.
Jeslin mengambil ponselnya yang tergeletak di kasur. Ia mencoba melihat kondisi wajahnya melalui kamera ponsel miliknya. Matanya kini benar-benar bengkak. Begitu bengkaknya hingga rasanya ia enggan menunjukan rupa wajahnya saat ini untuk ke kantor.
Jeslin mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil air dingin dari dalam kulkas. Gadis itu mencoba membasuh matanya dengan air dingin yang ada di tangannya. Berharap yang dilakukannya saat itu bisa sedikit mengurangi bengkak di kelopak matanya.
Tidak banyak yang berubah.
Jeslin memandangi pantulan dirinya di pintu kulkas yang mengkilap. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua matanya tetap terlihat seperti milik orang yang habis dipukuli.
Ia menuangkan air ke gelas dan meminumnya sampai habis. Perutnya langsung terasa penuh dan mual sekaligus.
Pukul lima, Jeslin menyerah untuk tidur lagi. Ia mandi dengan air paling dingin yang berani ia tanggung, mengeringkan rambut, lalu duduk di depan cermin rias selama dua puluh menit hanya untuk menutupi apa yang terjadi semalam.
Concealer dua lapis. Bedak. Kacamata yang sebenarnya sudah setahun tidak pernah ia pakai.
"Kamu kok pucet banget, Nak?" tanya Riana ketika Jeslin turun ke ruang makan.
"Kurang tidur, Ma. Kerjaan numpuk."
"Sarapan dulu."
"Nanti aku beli di jalan."
"Jeslin."
"Beneran, Ma. Aku telat." Jeslin mencium pipi ibunya buru-buru dan meraih tasnya. "Papa mana?"
"Udah berangkat dari tadi."
Jeslin mengangguk dan keluar sebelum ibunya sempat bertanya lagi.
Ia tidak membeli apa pun di jalan.
***
Lantai tujuh sudah ramai ketika Jeslin sampai.
"Jes! Bu Clarina nyariin lo dari tadi." Fiona menghampiri sambil membawa laptopnya. "Katanya deck revisi kemarin mau dipresentasiin siang ini ke direksi. Mendadak."
"Siang ini?"
"Iya. Gue juga baru tahu sepuluh menit lalu."
Jeslin menaruh tasnya dan langsung menyalakan laptop. "Slide-nya udah final kan kemarin?"
"Final versi kemarin. Tapi dia minta ditambahin proyeksi kuartal tiga sama perbandingan kompetitor."
"Itu bukan kerjaan dua jam, Fi."
"Gue tahu." Fiona menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Makanya gue bantuin. Lo pegang proyeksi, gue pegang kompetitor."
Jeslin menoleh dan tersenyum, meski senyum itu terasa berat di wajahnya. "Makasih, Fi."
"Eh, tunggu." Fiona memicingkan mata, lalu mencondongkan badan. "Mata lo kenapa?"
"Kenapa emang?"
"Bengkak."
"Alergi."
"Alergi apa?"
"Debu."
"Jes, gue kenal lo dari semester dua." Fiona menyandarkan punggung. "Lo nangis semaleman."
Jeslin tidak menjawab. Jari-jarinya terus bergerak di atas keyboard, mengetik angka yang salah, menghapusnya, mengetiknya lagi.
Fiona tidak memaksa. Perempuan itu hanya menggeser sebungkus roti dari tasnya ke sudut meja Jeslin, lalu membuka file kompetitor tanpa berkata apa-apa lagi.
Roti itu tidak tersentuh sampai siang.
***
Presentasi berjalan pukul satu.
Jeslin berdiri di depan ruang rapat besar, di hadapan tujuh orang direksi, dengan Clarina duduk di ujung meja dan Bimo di seberangnya.
Sekali. Hanya sekali sepanjang presentasi, Jeslin membiarkan matanya bertemu dengan mata Bimo. Pria itu langsung menegakkan punggung, seolah hendak mengatakan sesuatu, dan Jeslin langsung mengalihkan pandangan ke layar.
"Untuk kuartal tiga, kami memproyeksikan kenaikan delapan koma dua persen," ucap Jeslin. Suaranya keluar lebih tipis daripada biasanya. "Angka ini mengasumsikan biaya akuisisi tetap di kisaran yang sama."
"Kalau biayanya naik?" tanya salah seorang direktur.
"Maka marginnya turun ke... " Jeslin berkedip. Angka di slide tiba-tiba mengabur di matanya. "Ke... "
Ruangan menunggu.
"Empat koma satu persen," sambung Clarina dari ujung meja, tenang, tanpa melirik Jeslin. "Ada di lampiran halaman dua belas, Pak."
"Ah, oke."
Jeslin menelan ludah dan melanjutkan.
Sisa presentasi berjalan tanpa insiden. Ketika akhirnya selesai dan orang-orang mulai berdiri sambil membicarakan makan siang, Jeslin merasa punggung bajunya basah seluruhnya.
"Bagus," ucap Clarina saat melewatinya. "Tapi lain kali hafalin lampiran kamu."
"Baik, Bu. Maaf."
Clarina berlalu. Jeslin membereskan laptopnya dengan tangan yang terasa jauh dari tubuhnya sendiri.
"Jeslin."
Ia menoleh. Bimo berdiri dua langkah di belakangnya, menunggu sampai orang terakhir keluar dari ruangan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Jeslin.
Sesuatu di wajah Bimo mengeras mendengar kata terakhir itu.
"Jangan gitu."
"Ini jam kerja."
"Jes, aku minta maaf. Semalem itu—"
"Saya harus balik ke meja, Pak. Masih banyak kerjaan." Jeslin menyampirkan tas laptopnya. "Permisi."
Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.
Sampai di koridor, barulah ia mengizinkan dirinya bersandar sebentar ke dinding, memejamkan mata, dan menghitung sampai sepuluh.
***
Sore itu Jeslin tidak makan siang.
Ia juga tidak makan roti pemberian Fiona, yang akhirnya berpindah ke laci mejanya. Ia hanya minum dua gelas air putih dan satu gelas teh manis dari pantry, dan terus bekerja sampai lampu di sisi timur ruangan mulai dimatikan satu per satu.
Pukul lima lewat, Jeslin menyimpan file terakhirnya.
Kepalanya terasa ringan. Bukan ringan yang enak — ringan yang salah, seperti ada jarak beberapa sentimeter antara tengkoraknya dan isinya.
"Fi, gue duluan ya," ucapnya sambil berdiri.
Fiona mendongak. "Bareng aja, gue lima menit lagi—"
Ruangan itu miring.
Jeslin melihat langit-langit bergeser ke samping, melihat meja Fiona naik ke atas, melihat mulut Fiona terbuka membentuk namanya tanpa suara yang sampai ke telinganya.
Lalu semuanya menjadi putih, lalu abu-abu, lalu tidak ada apa-apa sama sekali.