"Bakmi ini benar-benar enak!" seru Jeslin sambil mengelap bibirnya dengan tissue.
Bimo pun mengangguk setuju. "Enggak rugi kita beli ini. Porsinya banyak. Topping daginggnya juga banyak macemnya."
"Next time boleh makan ini lagi, yang. Cuma masalahnya kapan? Hahaha."
"Yah tinggal rencanain aja sayang. Boleh kok kita ke sini lagi."
Jeslin menghela nafas. "Masalahnya kapan kamu ada waktu? Kamu kan selalu sibuk."
"Nanti ya, Sayang. Aku bakalan cari waktu yang pas buat kamu." Bimu mengelus kepala Jeslin.
Jeslin langsung melunak melihat sikap lembut Bimo. Biasanya topik kesibukan kerja Bimo akan menjadi bahan pertengkarannya. Namun kali ini tidak.
"Baiklah. Eh... itu HP kamu ada yang call tuh." Jeslin menunjuk ke arah ponsel Bimo yang terlihat ada panggilan telepon yang masuk. "Clarina?"
Bimo melirik layar ponselnya, lalu melirik Jeslin.
"Bentar ya."
Ia berdiri dan berjalan keluar, melewati antrean yang masih mengular di depan pintu, sampai ke trotoar di seberang lapak.
Jeslin tetap duduk di tempatnya.
Ia berusaha untuk tidak memperhatikan. Ia benar-benar berusaha. Ia menyendok kuah bakminya, memindahkan potongan daging dari satu sisi mangkuk ke sisi lain, membaca ulang daftar menu yang sudah ia hafal sejak dua puluh menit lalu.
Tapi dari tempat duduknya, lewat kaca depan yang berembun tipis, Jeslin masih bisa melihat punggung Bimo.
Dan Jeslin mengenal punggung itu terlalu baik.
Bahu Bimo turun ketika ia mengangkat telepon. Tangannya yang bebas naik ke tengkuk, mengusapnya beberapa kali. Lalu pria itu berjalan mondar-mandir tiga langkah ke kiri, tiga langkah ke kanan, sebelum akhirnya berhenti dan menunduk sambil menendang-nendang kerikil kecil di trotoar.
Itu bukan cara Bimo bicara dengan klien.
Itu cara Bimo bicara ketika sedang mengurus sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.
Bimo kembali tujuh menit kemudian. Jeslin menghitungnya.
"Maaf, ya." Bimo duduk dan langsung meraih sumpitnya. "Kita lanjut."
"Ada apa?"
"Kerjaan."
"Sabtu jam delapan malam?"
"Ada masalah di sistem. Servernya down sejak jam enam." Bimo menyeruput kuahnya. "Tim IT udah nanganin, tapi vendor minta approval buat rollback."
Jeslin memandanginya.
"Kenapa Clarina yang nelepon?"
Sumpit Bimo berhenti di udara. Cuma sepersekian detik, tapi Jeslin melihatnya.
"Karena dia yang megang vendor itu."
"Bukannya vendor IT itu di bawah Pak Reza?"
"Jes."
"Aku cuma nanya."
"Kamu gak lagi nanya." Bimo meletakkan sumpitnya. "Kamu lagi nuduh, cuma pakai nada nanya."
Kalimat itu — kalimatnya sendiri, dikembalikan kepadanya persis seperti ia mengucapkannya di ruang rapat lantai dua belas — mendarat di dada Jeslin seperti tamparan.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Di sekeliling mereka, orang-orang tetap makan, sendok tetap beradu, pelayan tetap meneriakkan pesanan ke arah dapur. Dunia berjalan seperti biasa di sekitar meja kayu kecil tempat sesuatu sedang retak pelan-pelan.
"Aku harus ke kantor," ucap Bimo akhirnya.
Jeslin mengangkat wajahnya. "Sekarang?"
"Approval-nya gak bisa lewat telepon. Harus dari terminal kantor."
"Kamu janji seharian."
"Aku tahu."
"Kamu hapus semua jadwal kamu di depan aku, Bim."
"Aku tahu, Jes." Suara Bimo naik satu tingkat, cukup untuk membuat pasangan di meja sebelah melirik. Pria itu menarik napas dan menurunkan suaranya lagi. "Ini bukan jadwal. Ini kejadian. Aku gak bisa ngerencanain server mati."
"Terus aku gimana?"
"Aku pesenin kamu taksi. Aku transfer—"
"Aku gak nanya soal taksi."
Bimo terdiam.
Jeslin menatap mangkuk bakmi di depannya yang masih setengah penuh, uapnya sudah lama hilang, minyaknya mulai membeku tipis di permukaan kuah.
"Empat puluh satu hari," ucap Jeslin pelan.
"Apa?"
"Kamu bilang sendiri tadi sore. Empat puluh satu hari dari tiga ratus enam puluh lima." Jeslin mengangkat wajahnya, dan ia benci bahwa matanya sudah panas padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di tempat umum. "Hari ini seharusnya jadi hari keempat puluh dua."
Rahang Bimo bergerak.
"Jes—"
"Pergi aja." Jeslin meraih tasnya. "Serius. Pergi. Nanti makin lama makin susah buat kamu."
"Aku anter kamu dulu."
"Gak usah."
"Jeslin."
"AKU BILANG GAK USAH."
Kali ini seisi ruangan menoleh.
Jeslin berdiri, menyampirkan tas ke bahunya, dan berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun. Ia sempat mendengar kursi digeser di belakangnya, sempat mendengar namanya dipanggil satu kali, tapi ia terus berjalan sampai ke ujung trotoar, sampai ke deretan taksi yang menunggu, sampai pintu mobil tertutup dan sopirnya bertanya mau ke mana.
Ia menyebutkan alamat rumahnya dengan suara yang nyaris tidak keluar.
Sepanjang perjalanan pulang, Jeslin memandang keluar jendela. Lampu-lampu jalan berlalu satu per satu, berubah menjadi garis-garis kuning yang memanjang setiap kali matanya berkaca-kaca, lalu kembali menjadi lampu ketika ia mengedip.
Ponselnya bergetar sekali di dalam tas. Lalu dua kali. Lalu berhenti.
Jeslin tidak mengeluarkannya.
Rumah sudah gelap ketika ia sampai. Kedua orang tuanya sudah tidur. Jeslin melepas sepatunya di depan pintu, berjalan pelan menaiki tangga, dan menutup pintu kamarnya tanpa menyalakan lampu.
Ia duduk di tepi tempat tidur cukup lama, masih memakai baju yang sama, tas masih tersampir di bahunya.
Lalu ia teringat kalimat ayahnya di meja makan pagi itu.
Suatu hari nanti salah satu dari kalian bakal kepaksa milih: hubungan atau kerjaan.
Dan Jeslin akhirnya mengerti bahwa pilihan itu sudah lama datang. Bukan hari ini. Sudah berbulan-bulan lalu.
Cuma bukan dia yang memilih.
Pukul sebelas lewat, ponselnya menyala lagi di atas meja rias.
Jeslin membiarkannya berdering sampai mati sendiri. Lalu ia bangkit, mengambilnya, dan membuka layar dengan tangan gemetar.
Delapan panggilan tak terjawab. Empat pesan.
Bimo: Jes, angkat dong.
Bimo: Aku udah di kantor. Bentar lagi kelar.
Bimo: Maaf ya. Beneran maaf.
Bimo: Aku sayang kamu.
Jeslin membaca keempatnya dua kali.
Lalu ia membuka aplikasi lain, aplikasi kantor, dan menekan nama Clarina di daftar kontak internal. Foto profilnya muncul: perempuan berumur tiga puluhan dengan blazer abu-abu dan senyum profesional.
Status terakhir aktif: dua menit yang lalu.
Jeslin menatap tulisan itu lama sekali.
Dua menit yang lalu. Sama seperti Bimo.
Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan otaknya. Ia sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa dua orang yang sedang menangani masalah server yang sama tentu saja akan sama-sama aktif jam segini. Itu masuk akal. Itu wajar. Itu bukan apa-apa.
Tapi mengetahui sesuatu masuk akal dan mempercayainya adalah dua pekerjaan yang berbeda, dan malam itu Jeslin cuma sanggup mengerjakan yang pertama.
Ia mematikan layarnya, meletakkan ponselnya menghadap ke bawah, dan menarik selimut sampai ke dagu.
Malam itu Jeslin menangis sampai tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan, dan bahkan setelah itu pun ia masih terisak, kering, sampai langit di balik gordennya perlahan berubah abu-abu.