Sejak melihat Alya di kantin, pikiran Arman hanya tertuju pada wanita itu. Instingnya mengatakan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Itu sebabnya, Arman meloloskan Alya untuk diterima bekerja di perusahaan tersebut.
Tatkala Raymond menceritakan tentang masalah test DNA, pikiran Arman semakin kuat bahwa wanita bernama Alya itu ada hubungannya dengan Raymond.
"Di mana dia, apa kamu menemukannya?" tanya Raymond dengan menggebu-gebu.
Wanita yang dicari Raymond 6 tahun yang lalu pastinya adalah wanita yang sama yang menjadi ibu kandung Aarick. Terlebih waktu lahirnya Aarick juga berdekatan dengan terjadinya hubungan terlarang itu.
Itu masih di tahun yang sama.
Raymond tahu betul dengan siapa dia bergaul. Saat berhubungan intim dengan wanita itu, mereka tidak menggunakan pengaman, jadi tidak diragukan lagi bahwa Alya adalah ibu kandung Aarick.
{Apa yang akan kamu lakukan padanya?} Arman masih ingat jika Raymond selalu menuduh Alya memiliki niat jahat.
"Katakan saja di mana dia!"
{Dia resmi dikontrak oleh Timothy company, besok adalah hari pertamanya bekerja.}
Tut.
Panggilan langsung terputus sepihak.
Kilauan cahaya di mata Raymond menandakan kemarahan dalam dirinya. Dia tersenyum sinis,
"Kali ini apa lagi yang direncanakan wanita itu? Setelah melahirkan anakku secara diam-diam, dia menyerahkannya pada keluargaku, lebih berani lagi, sekarang dia justru berani masuk ke dalam perusahaan."
Raymond tiba di rumah pada pukul 10 malam.
Saat itu, Martha juga belum tidur. Wanita itu masih duduk di ruang tamu seorang diri. Sesekali dia memainkan ponselnya, membuka aplikasi pesan dan membuka kontak beberapa orang terdekatnya.
Martha terlihat mengetik beberapa kali, namun belum sempat terkirim, dia menghapusnya lagi. Itu berulang terus hingga dia merasa lelah sendiri.
Ketika melihat sosok suaminya berdiri di hadapannya, Martha berkata dengan sinis, "Akhirnya kamu pulang, dan ternyata kamu juga masih ingat rumah ini."
Tidak membalas, Raymond hanya bertanya, "Kamu belum tidur?"
"Di mana Aarick?" Martha membalas dengan cara bertanya, "Kenapa dia tidak bersamamu, apa kamu meninggalkannya dengan wanita itu?"
"Aku lihat kamu tidak peduli lagi dengan Aarick, jadi aku tinggalkan dia di rumah ibu," Raymond tidak terprovokasi dengan tuduhan Martha. "Tolong jangan bicara sembarangan tentang aku!"
Tubuhnya terasa lengket, jadi Raymond segera memasuki kamar. Dia akan membersihkan diri sebelum akhirnya mengajak Martha bicara.
Pada saat Raymond mandi, Martha yang sudah dipenuhi dengan kecurigaan tidak bisa menahan diri. Ada dorongan hati yang memaksanya untuk segera memeriksa isi ponsel suaminya.
Martha meraih ponsel yang diletakkan Raymond di atas meja. Sialnya telpon pintar itu menggunakan sandi. Martha tidak mengetahuinya.
Selama pernikahan, Martha tidak pernah melakukan hal konyol itu. Dia selalu percaya pada Raymond karena suaminya itu adalah sosok pria yang selalu mengutamakan keluarga dan tidak pernah memberi kesempatan pada wanita untuk mendekatinya.
Martha meletakkan kembali ponsel pada tempat semula. Tepat saat dia hendak meninggalkannya, layar ponsel menyala.
Ada sebuah pesan masuk. Tanpa sandi, Martha masih bisa membacanya. Itu adalah pesan Arman yang baru dikirimkan.
[Aku akan mengatur pertemuan kalian besok. Sekarang lebih baik selesaikan masalahmu dengan Martha!]
Sambil mencengkram ponsel, Martha mengatupkan bibirnya. 'Bahkan Arman juga mengetahuinya. Apa mereka masih saling bertemu selama ini?'
Di kontrakan, Alya, Neeta, Elly sedang merayakan kelulusan mereka yang akhirnya diterima di perusahaan besar.
Ada banyak makanan dan minuman ringan yang disajikan di meja makan berbentuk bundar itu. Tampak wajah Alya dan Neeta berseri-seri. Mereka sama-sama ditempatkan dalam divisi yang sama, membuat keduanya bangga satu sama lain.
"Apa yang akan kalian lakukan setelah mendapat gaji pertama?" tanya Elly tiba-tiba.
"Jalan-jalan menikmati kota ini," jawab Neeta spontan.
"Mencari anakku," Alya hanya memikirkan itu, jadi dia tidak fokus pada hal yang lain.
"Tenang saja, aku pasti akan membantumu," ucap Neeta sungguh-sungguh. "Kita akan mencarinya jika perlu hingga ujung dunia."
"Apa ada petunjuk?" Elly bertanya lagi.
Alya langsung menggelengkan kepala. "Aku hanya tahu bahwa temannya kak Selvi yang bernama Sita bekerja pada keluarga kaya raya, dan dialah orang yang telah menyerahkan anakku untuk diadopsinya oleh keluarga kaya itu," jelasnya.
"Apa ada nomor teleponnya si Sita itu?"
Alya lagi-lagi menggelengkan kepala. "Ayah melarang kak Selvi untuk memberikannya."
Martha menghembuskan napas lega saat melihat Raymond menggunakan baju tidur. Setidaknya suaminya itu tidak akan pergi keluar lagi.
Martha benci pada kelakuan Raymond. Dia ingin marah, tapi rasa cintanya pada pria itu selalu saja mengalahkan semuanya.
Martha duduk di bibir ranjang dan menatap suaminya. "Bisa kamu ceritakan siapa wanita itu?"
Raymond menarik sebuah kursi dan duduk di depan Martha. "Aku akan bercerita, tapi kamu harus janji terlebih dulu bahwa kamu tidak akan ikut campur dengan urusanku bersama wanita itu setelah kamu mendengarkan semuanya."
Martha tidak terima dan langsung marah. "Kenapa begitu, kenapa aku tidak boleh ikut campur padahal dia sudah masuk ke dalam pernikahan kita tanpa sepengetahuanku?"
"Itu peraturan dariku." Raymond butuh privasi untuk menyelidiki motif Alya melakukan semua ini. Dia tidak mau terganggu oleh siapapun, termasuk Martha.
"Aku korban dari perselingkuhan kalian, tapi kamu masih saja tidak peduli dengan perasaanku," Martha mulai meraung. "Apa pernikahan yang sudah berjalan 10 tahun ini masih belum ada artinya untukmu? Atau memang kamu berniat untuk meninggalkan aku demi wanita itu?"
"Cukup ...!" seru Raymond dan pada akhirnya dia hanya bisa meminta maaf. "Aku memang salah, tapi tidak berarti kamu sesuka hati bicara tentang aku. Aku minta maaf atas kesalahanku itu. Aku akan berkata jujur jika pertemuan kami tidak sengaja. Hubungan itu juga hanya sebuah kecelakaan, apa kamu puas sekarang?"
Tentu saja Martha tidak akan puas. Dia tetap saja menuntut, "Aku tidak mau tahu, pertemukan aku dengan wanita itu. Aku ingin melihat wajah wanita itu secara langsung."
Ekspresi Raymond menjadi suram. Dia saja belum bertemu dengan ibu dari anaknya itu, bagaimana bisa Martha sudah mengajukan tuntutan tersebut?
Raymond meraih ponselnya. "Aku akan tidur di kamar lain."
Sepeninggal Raymond, Martha berteriak seperti orang kesetanan. "Akhhhhhh ... kurang ajar kamu, Ray ... belasan tahun aku menunggu cintamu, tapi apa yang aku dapatkan sebagai balasannya, kamu bahkan dengan tega berselingkuh dengan wanita lain."
Keesokan harinya.
Martha terbangun pada pukul 8 pagi. Akibat kurang tidur, kepalanya masih sedikit pusing.
Ketika Martha keluar dari kamar, pelayan datang mendekat dan memberitahu.
"Maaf, Bu, bapak sudah pergi dari sejam yang lalu."
"Satu jam yang lalu?" ulang Martha. Tidak biasanya Raymond berangkat sepagi itu.
Setelah berpikir sejenak, Martha pun teringat dengan pesan teks yang dikirimkan Arman tadi malam.