"Wanita mana yang kamu maksud?"
Dari belakang, Martha telah mendengar sedikit obrolan suaminya via telepon. Wanita itu langsung menegur.
Dengan cepat, Raymond meneken tombol merah dalam ponselnya, lalu menoleh pada istrinya yang sudah berurai air mata.
"Apa wanita yang kamu maksud adalah selingkuhanmu itu?" tanya Martha dengan hati yang hancur. "Sejak kapan kalian berhubungan, apa hubungan itu masih berlanjut sampai sekarang?"
Raymond terdiam dan merasa bersalah. Dia tidak bisa menyangkal, tapi juga belum cukup berani untuk berkata yang sebenarnya.
"Ayo jawab ...!" Martha berteriak membuat Aarick yang sedang menunggu di depan pintu terkejut dengan suara ibunya. "Di mana wanita itu sekarang? Di mana kamu menyembunyikannya?"
Raymond sama sekali tidak bersuara. Dia tidak setega itu untuk menyakiti perasaan Martha. Meski pernikahan mereka tidak didasari oleh cinta pada awalnya, namun seiring waktu mereka telah menyayangi satu sama lain.
Terlebih setelah kehadiran Aarick dalam keluarga mereka, rumah tangga yang sudah dibangun bertahun-tahun dan tadinya terasa hambar perlahan membaik.
Srettttt.
Suara pintu terdengar membuat sepasang suami istri itu menoleh dan mendapati bocah berusia lima tahun itu masuk ke dalam kamar.
"Papa ... Mama, aku tidak mau pergi les, aku ingin di rumah saja," Aarick berkata sambil ketakutan. Dia khawatir pertengkaran itu akan membuat salah satu dari kedua orang tuanya pergi meninggalkannya.
Biasanya Martha adalah orang yang selalu menenangkan anak mereka dalam kondisi apapun. Sebagai seorang ibu, Martha pasti berhasil membuat Aarick merasa damai, namun kali ini, saat melihat putranya ketakutan, dia malah membuang muka seakan tidak peduli lagi dengan keberadaan anak itu.
'Bodohnya aku merawat anak selingkuhanmu selama bertahun-tahun,' dalam hati Martha bergumam dengan kesalnya.
Raymond dapat membaca gelagat Martha. Mengetahui istrinya dalam kondisi marah, jadi dia tidak mempermasalahkannya.
Raymond segera berdiri mendekati putranya. Dia berjongkok untuk menyamakan tinggi badan mereka. "Kamu tidak perlu les hari ini. Ikut papa saja."
Raymond berniat untuk meninggalkan Martha sendirian agar istrinya merasa tenang, namun Aarick justru menegur ayahnya.
"Bagaimana dengan mama, Pa?" tanya Aarick dengan polos.
Sejenak, Raymond menoleh pada Martha. Istrinya itu masih membuang muka membuatnya mencari alasan lain. "Sebentar lagi perayaan hari ulang tahunmu, jadi mama sedang sibuk-sibuknya, sebaiknya kita tidak usah menganggu mama untuk saat ini."
Dengan alasan itu, Raymond membawa putranya keluar dari kamar.
Tersisa Martha yang masih dalam keadaan emosi. "Jadi kenapa kalau kamu tidak mau memberitahu tentang wanita itu, aku juga bisa mencarinya sendiri."
Telah direncanakan jika tahun ini adalah perayaan ulang tahun Aarick yang paling meriah. Tidak hanya keluarga besar dan teman dekat saja, tapi seluruh karyawan yang bekerja untuk keluarga Timothy telah mendapat undangan yang sama.
Bagaimana mungkin Martha akan membatalkan pesta megah itu?
Setelah merasa cukup baik, Martha keluar kamar. Hari itu sudah sore, dia tidak melihat anak dan suaminya lagi.
'Ke mana mereka pergi?' pikir Martha sembari mencari keberadaan Raymond dan Aarick. Tak kunjung menemukan keduanya, pikirannya pun mulai dipenuhi prasangka buruk. 'Apa dia langsung membawa putranya menuju rumah selingkuhannya? Mereka pasti sedang menertawakan aku sekarang.'
Martha hanya bertemu dengan pelayan yang bekerja di rumah itu, dia bertanya, "Di mana Aarick?"
Pelayan bernama Sisi menjawab sambil membungkukkan badan, "Anu, Bu, tadi dibawa keluar sama Bapak, saya kurang tahu ke mana perginya."
"Sudah lama?"
"Dari siang, Bu."
Ekspresi Martha benar-benar jauh berbeda dari hari sebelumnya membuat para pelayan di rumah itu keheranan.
"Biasanya Bu Martha kan bersemangat, apalagi menjelang ulang tahun den Aarick, kenapa sekarang tiba-tiba mukanya cemas begitu ya?" pelayan bernama Sasa berbisik.
"Mungkin suaminya punya wanita idaman lain," Sisi menyahut. "Tahu sendiri kan pak Raymond orangnya perfect sekali, idaman para wanita lagi. Kalau aku jadi istrinya, aku pasti akan dilanda kecemasan setiap berjauhan darinya."
Hingga malam hari, Raymond dan Aarick tak kunjung pulang. Martha semakin resah, tapi amarah yang masih merajai hatinya membuat wanita itu enggan untuk menghubungi sang suami lebih dulu.
Sementara itu Raymond masih berada di rumah orang tuanya. Kepergiannya hari itu juga untuk menenangkan pikirannya. Sama seperti Martha, Raymond juga masih shock mengetahui Aarick adalah darah dagingnya sendiri.
Keterkejutan membuat Raymond sulit untuk berterus terang tentang hubungan terlarangnya di masa lalu. Bagaimana dia harus berkata jujur jika ternyata wanita yang dituduhkan sebagai selingkuhannya saat itu juga belum ditemukan hingga detik ini?
Kini, Raymond bahkan berniat menitipkan putranya bersama sang ibu agar dia lebih leluasa bercerita pada Martha ketika pulang nanti.
Saat itu pukul 8 malam, Hasna yang sedikit curiga bertanya, "Ada apa sebenarnya, Ray, apa kamu ribut dengan istrimu, kenapa tiba-tiba menitipkan Aarick saat Martha tidak ikut dengan kalian?"
"Martha sedang sibuk, Bu," Raymond menjawab dengan serius. "Dia juga tahu aku menitipkan Aarick di sini, jadi Ibu tidak usah berpikiran yang bukan-bukan, kami baik-baik saja."
Hasna masih belum yakin sepenuhnya. Dia diam dan mencoba membaca ekspresi putranya, namun tak ada yang salah dalam penglihatannya.
"Karena ulang tahun Aarick hanya tinggal menunggu hari, jadi rencananya Aarick juga akan tinggal di sini dulu," lanjut Raymond lagi.
"Baiklah," balas Hasna pasrah.
Setelah berpamitan pada putranya, Raymond segera pergi meninggalkan kediaman Thimoty. Di gerbang, pria yang memiliki tinggi 185 cm itu berpapasan dengan Reza.
Kedua adik beradik itu kurang akur, jadi Raymond bersikap acuh.
Raymond tidak menegur dan terus berjalan menuju mobilnya hingga Reza mengambil insiatif lebih dulu untuk berbicara.
"Aku belum puas dengan hasil tes DNA itu," kata Reza dengan angkuhnya.
Raymond segera berbalik, menatap tajam adiknya. "Apa maksudmu?"
"Dengan hasil tes DNA itu aku malah jadi curiga kamu memiliki selingkuhan di luar sana."
"Kau selalu saja membuatku marah ...."
Raymond sudah mengangkat tinjunya, namun pukulan itu tidak terjadi karena Reza mengucapkan fakta yang tidak bisa bisa dipungkiri.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu kondisi Martha yang sebenarnya?" ujar Reza dengan penuh kemenangan. "Istrimu itu dinyatakan mandul dan aku sudah mengetahuinya sejak lama. Dengan kondisi Martha yang seperti itu, bagaimana bisa dia melahirkan seorang anak untukmu?"
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Raymond menggertakkan giginya.
"Gampang saja ...." Reza menyeringai licik. "Berikan posisi terbaik yang aku inginkan di perusahaan!"
Raymond benar-benar terpojok dengan penjelasan juga permintaan konyol adiknya. Tanpa bicara lagi, dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Bisa-bisanya dia mengancamku."
Di saat kekesalan menghantam dirinya, Raymond menerima panggilan telepon dari Arman.
Ray menggunakan earphone. "Ada apa?"
{Ke mana saja, Bro, kamu bahkan tidak ngantor hari ini, bagaimana dengan besok?}
"Aku belum tahu." Perlahan Ray menginjak rem karena akan berhenti di lampu merah. "Martha marah besar, dia bahkan tidak mau menyentuh Aarick hari ini. Belum lagi Reza yang mulai banyak menuntut, pikiranku kacau dengan semua masalah ini."
{Bagaimana kalau aku sebutkan wanita yang kamu cari sejak enam tahun lalu?}