Pagi-pagi sekali Alya dan Neeta telah tiba di kantor. Keduanya langsung menuju tempat yang sudah diberitahu sebelumnya.
"Seperti biasa, kita akan selalu melakukan briefing sekaligus berdoa bersama sebelum memulai pekerjaan," Ezra yang memiliki jabatan sebagai manager personalia memberi pengarahan di hari pertama pada karyawan baru.
"Uhhh gantengnya ...," bisik Neeta pelan.
"Iya," Alya membalas dengan singkat. Pria seperti Ezra adalah tipenya. Tampan, pintar, kaya dan tentunya usianya tidak beda jauh dengannya.
"Apa yang kalian bahas?" Manda, salah satu senior menegur Neeta yang cengengesan sejak awal. "Masih anak baru tapi mata sudah berani jelalatan."
Alya dan Neeta buru-buru memfokuskan diri pada apa yang diarahkan Ezra. Keduanya tidak membahas Ezra lagi, meski wajah, tutur kata dan bentuk tubuh pria itu cukup mengganggu pikiran.
Pada akhirnya, Alya dan Neeta dipisah karena kelakuan mereka sendiri. Setelah ditempatkan dengan team yang sudah berpengalaman, Alya dan Neeta sama-sama fokus pada pekerjaan.
Satu jam kemudian, Arman mendatangi Alya dan memberi perintah, "Kamu Alya Rosalie bukan?"
Alya mengangguk. "Iya, Pak."
"Ikut ke ruanganku sekarang juga!"
"Saya, Pak." Alya menunjuk dirinya sendiri. "Saya di sini bekerja, bukan untuk mengikuti Bapak."
"Namaku Arman, apa kamu tidak tahu siapa aku?"
Arman telah mempelajari seluruh data-data Alya dan untuk memastikan wanita yang menghilangkan diri 6 tahun yang lalu adalah wanita yang sama, dia perlu bicara dengan Alya.
Alya menggeleng. "Maaf, Pak, saya belum tahu."
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi, nanti kamu juga akan tahu sendiri, sekarang ikut denganku!" Arman sedikit kesal saat memberi perintah lagi.
Tepat ketika Alya berdiri dan mengikuti langkah Arman, sebuah suara mengagetkan mereka.
"Arman ....!" Suara itu milik Martha yang tiba-tiba datang ke perusahaan.
'Siapa lagi ini?' pikir Alya tatkala Martha berdiri tepat di sampingnya. Dia pun hanya melempar senyum dan mengangguk sopan.
"Martha, apa yang kamu lakukan di sini?" tegur Arman. Dia hampir tidak percaya karena Martha sangat jarang mendatangi kantor. Bisa dikatakan wanita itu tidak pernah menginjakkan kaki dalam setahun terakhir, tapi sekarang mendadak muncul di pagi hari.
Martha lebih dulu melirik wanita di sebelahnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Arman. "Aku ingin bertemu dengan Ray, di mana dia?"
Untungnya Arman langsung menyadari tujuan Martha. Dia pun segera menyuruh Alya untuk kembali bekerja. Setelah itu, Arman bicara lagi pada Martha.
"Ray belum datang." Arman melirik arloji yang melingkar di tangannya. "Mungkin sekitar pukul 9 atau 10 dia akan tiba, kamu mau datang kembali atau menunggu?" tawarnya.
"Aku tidak percaya. Ray sudah berangkat sebelum pukul 7 tadi, bagaimana mungkin dia belum tiba?" kata Martha kekeuh.
"Tapi buktinya dia tidak ada di sini." Arman segera mempersilakan. "Kalau tidak percaya, ayo ikut aku untuk mengecek ke ruangannya!"
Alya sempat mendengar obrolan Arman dan Martha, namun karena tidak paham pokok permasalahannya, dia pun tidak ambil pusing hingga satu karyawan lain datang mendekat dan memberitahu sesuatu padanya.
"Alya, pria tadi adalah direktur keuangan di perusahaan ini, sedangkan wanita itu adalah istri dari CEO kita, jadi lain kali kalau mau awet dalam pekerjaan ini, kamu harus bersikap lebih sopan pada mereka, begitu mereka datang, kamu yang harus lebih dulu menegur!" jelas karyawan bernama Dita.
Alya seketika merasa bersalah. "Oh ... aku benar-benar tidak tahu."
Dalam pikiran Alya, petinggi-petinggi dalam perusahaan tidak mungkin mendatangi karyawan biasa seperti dirinya. Itu sebabnya, dia tidak memiliki ekspektasi bahwa seorang yang berpengaruh datang menemuinya secara langsung.
Martha lebih dulu membuka ruangan suaminya. Ketika tidak menemukan jejak apapun di sana, dia bertanya pada Arman, "Jadi ke mana dia pergi, sebelum pukul 7 dia sudah berangkat dari rumah tanpa memberitahuku?"
Arman mengendikkan kedua bahunya. "Aku mana tahu, kalian yang satu rumah saja tidak saling mengetahui, apa lagi aku."
Martha menatap Arman dengan penuh curiga. Dia masih ingat pesan singkat yang dikirimkan Arman pada Ray.
Sebenarnya kedatangan Martha hari ini juga untuk bertanya langsung pada Arman, jika perlu memaksa pria itu untuk membongkar perselingkuhan suaminya, tapi rasa gengsi tiba-tiba mengalahkan semuanya.
"Sebaiknya kamu telepon saja dia!" suruh Arman kemudian. "Dengan begitu kamu bisa memastikan di mana dia sekarang?"
Alih-alih menerima saran, Martha justru berbalik. "Aku akan pulang saja."
Martha mengalah. Tapi sebelum meninggalkan perusahaan, dia menemui seorang wanita yang merupakan teman lamanya di perusahaan itu.
"Wah ... apa ini suatu kebetulan?" Marsha terkejut melihat kemunculan Martha di ruangannya. "Tumben kamu datang ke sini, angin apa yang membawamu ke sini?"
"Hanya melihat-lihat saja," Martha beralasan. "Sebentar lagi ulang tahun putraku, jadi aku sekalian ingin memastikan apakah semua karyawan telah mendapatkan undangan."
Marsha adalah salah satu manager produksi di perusahaan itu. Dia ikut serta menyebarkan undangan pada karyawan. "Jangan khawatir, semua pasti diundang. Bahkan karyawan yang baru bergabung saja sudah dimasukkan dalam daftar undangan."
Setelah berpikir beberapa saat, Martha kemudian mengutarakan keinginan. "Sha, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja boleh, apapun itu tanyakan saja!"
"Tentang Raymond." Martha terdiam sejenak. Ragu dan juga malu untuk menanyakan perihal perselingkuhan suaminya.
"Ada apa dengan pak Raymond?" Marsha penasaran.
Dengan berat hati dan menahan malu, Martha bertanya, "Apa kamu pernah melihatnya bersama seorang wanita? Maksudku kedekatan yang tidak biasa bersama seorang wanita."
"Oh ya ampun." Marsha mulai paham. "Jadi kamu curiga suami kamu berselingkuh di belakangmu, dan kamu mencurigainya dengan satu wanita di kantor ini?"
Martha mengangguk lesu. "Apa kamu pernah melihatnya?"
"Aku jarang bertemu dengan pak Raymond. tapi setiap bertemu, beliau hanya bersama rekan-rekan pria, bahkan tidak pernah terlihat berdua dengan wanita," Marsha menjelaskan apa yang diketahuinya saja.
"Kalau ada yang mencurigakan tolong langsung beritahu aku!" pinta Martha dan langsung diiyakan oleh Marsha.
Martha teringin sekali bertemu dengan wanita yang telah mempermainkan perasaannya itu. Dia bahkan terlanjur mencintai anak dari selingkuhan suaminya sendiri dan karena itulah tumbuh dendam pada wanita itu.
Di basement.
Saat Martha telah masuk ke dalam mobilnya, dia melihat mobil Raymond baru saja terparkir.
Martha memperhatikan Raymond dan ingin menangkap basah pria itu, tapi setelah beberapa menit berlalu, tidak ada wanita yang membersamai suaminya. Dia pun mengambil kesimpulan jika wanita selingkuhan Raymond bukan salah satu karyawan di sini.
Raymond berjalan terburu-buru. Pagi itu dia berangkat lebih awal untuk menemui putranya terlebih dulu, meyakinkan sang anak jika hubungannya dengan Martha tetap baik-baik saja.
Begitu tiba di ruangannya, Raymond langsung disambut oleh Arman.
"Untung kamu datang telat," kata Arman dengan entengnya. "Martha baru saja pulang, dia ke sini untuk mencarimu, tapi aku yakin tujuannya bukan itu saja."
Raymond mengabaikan ucapan Arman, dan dia langsung pada intinya. "Tidak usah berbasa-basi lagi, beritahu aku di mana wanita itu!"