Mendengar kabar putra yang sangat dirindukannya, Alya tidak berpikir panjang lagi.
Detik itu juga, Alya mengiyakan. "Aku akan ikut denganmu," ucapnya dengan wajah ceria.
Neeta dan temannya telah merencanakan sesuatu. Sedangkan Alya hanya terima beres saja.
Hanya hitungan menit, Alya dan Neeta telah keluar dari ruangan itu. Selanjutnya, keduanya berjalan santai saat melintas di depan Satria.
"Sudah selesai semua urusanmu?" tanya Satria pada Neeta. Dia tidak berminat melirik ke arah pria di sebelah Neeta, karena sejak tadi tidak terlalu menyukai pria bertulang lunak itu.
"Sudah, Paman, terima kasih banyak." Sebaliknya, Neeta merangkul erat lengan Alya di sisinya yang kini sudah mengubah penampilannya seperti teman gemulai mereka.
Cepat pergi dari sini!" Satria mengusir karena khawatir putrinya bisa saja berubah pikiran dengan kehadiran sang sahabat.
Begitu menginjakkan kaki di luar gerbang, Alya dan Neeta segera berlari menuju sebuah mobil. Selanjutnya, tujuan mereka adalah pelabuhan tikus, tempat yang diduga tidak akan dicurigai oleh Satria dan juga Ronald.
"Apa menurutmu ini akan berhasil?" Alya sedikit khawatir.
"Tentu saja."
"Terima kasih sudah membantuku, Neeta."
Setelah kapal speedboat yang membawa mereka mulai melaju, Alya segera melempar ponselnya ke dasar lautan. Demi anaknya, tekadnya semakin kuat untuk meninggalkan keluarga yang selalu memberinya tekanan.
Alya pun berjanji pada dirinya sendiri. Begitu menginjakkan kaki di kota Baharu, dia tidak akan pernah menyerah hingga dia berhasil menemukan putra yang telah dilahirkannya itu.
Pada malam harinya, Alya dan Neeta tiba di kota Baharu. Keduanya dijemput oleh salah satu teman Neeta yang berjanji akan memberikan tempat penampungan sementara untuk mereka berdua.
Seminggu kemudian.
"Lihat ini, ada lowongan pekerjaan di Timothy company, perusahaan terbesar di kota ini. Kabar yang aku dengar, banyak posisi yang dibutuhkan, mereka membuka lowongan pekerjaan secara besar-besaran karena cucu penerus Timothy akan segera berulang tahun," jelas Elly sembari menyerahkan selebaran yang baru didapatkannya tadi pagi.
Alya dan Neeta begitu bersemangat menerimanya. Keduanya mencondongkan wajah hanya untuk membaca pengumuman di atas selembar kertas itu.
Selain berniat mencari anaknya, Alya tentu saja harus mencari pekerjaan untuk menopang hidupnya. Dia cukup sadar diri jika saat ini mereka sedang menjadi tanggungan Elly, wanita yang baru saja dikenalnya.
Sementara Neeta memang berniat ingin mengadu nasib ke kota itu.
"Sebelumnya kalian kan pernah kerja di kantoran, aku rasa kalian bisa melamar ke sana," kata Elly lagi. "Ingat, posisi apapun yang kalian dapatkan, jangan menolaknya, hidup di kota ini keras, jadi tidak perlu memilih-milih pekerjaan!"
Keesokan harinya.
Alya sudah terlihat rapi. Setelah membangunkan Neeta, dan sembari menunggu gadis itu mandi, Alya pun menikmati sarapan pagi yang dipersiapkan Elly untuk mereka.
"Terima kasih banyak sudah membantu kami," ucap Alya pada Elly. "Oh iya, kamu sendiri kerja di mana, apa kamu sudah lama mengenal Neeta?"
"Aku juga kerja untuk keluarga Timothy, itu sebabnya aku tahu ada lowongan pekerjaan di perusahaan itu," jelas Elly yang mana dia adalah salah satu pengasuh untuk tuan muda Aarick putra Timothy. "Dan hubunganku dengan Neeta masih sangat dekat, kami masih sepupu jauh," dia memberitahu.
"Wah ... itu bagus, ternyata kamu sudah lebih dulu menjadi karyawan di sana," puji Alya.
Pukul 11 menjelang siang, Alya dan Neeta duduk berdampingan dengan deretan pelamar lainnya. Dalam ruangan itu saja, ada sekitar 50 calon karyawan yang telah berhasil mengikuti seleksi lamaran.
Mereka semua sedang menunggu hasil berikutnya.
"Terlalu banyak saingan," bisik Neeta sedikit cemas. "Apa kamu yakin akan diterima? Aku sih mulai ragu"
"Jangan pesimis begitu!" Alya memberikan semangat. "Masih banyak lowongan lain, jika kalah dalam posisi ini, masih ada tempat lain."
Pada tengah hari, jumlah kandidat yang tersisa di ruangan itu hanya sekitar 10 orang. Alya dan Neeta masih bertahan membuat keduanya lebih optimis dari waktu sebelumnya.
"Apa menurutmu ini adil?" Kali ini Alya yang bertanya dengan sendu. "Dari 50 peserta, mereka hanya menyisakan 10, dan nanti hanya tersisa 5, apa kita akan tetap bersama setelah ini?"
"Pasti." Neeta mengangguk yakin untuk memberi semangat pada Alya. "Jika pun tidak bersama dalam pekerjaan, kita akan tetap satu tempat tinggal, jangan bersedih, tetap semangat!"
Tak berselang lama, seorang pria bernama Ezra berdiri untuk memberi pengumuman.
Alya dan Neeta segera bersiap untuk mendengarkan.
"Silakan beristirahat dulu, dan makan siang di kantin, setelah jam satu, kembali ke ruangan ini untuk menerima hasilnya!"
Semua kandidat mendesah kecewa. Termasuk Alya dan Neeta yang langsung berdecak kesal.
"Kenapa harus ditunda-tunda sih?" sungut Neeta.
"Mungkin ini cara mereka agar kita mengisi perut dulu," Alya menjawab dengan lugas. "Coba bayangkan kalau kita mendengar kata kalah lebih dulu, selera makan kita bisa langsung hilang."
Di kantin.
Alya yang sedang sibuk memilih dan memesan minuman, tidak sengaja menarik lengan seorang pria. "Neeta, apa kamu mau coba rasa ini?" tawarnya tanpa melihat ke arah pria itu.
"Aku pesan yang ini dua, Mbak," kata Alya pada penjaga stand. "Tolong antar ke meja 15 ya, Mbak!"
Ketika Alya berbalik dan menyadari kesalahannya, dia refleks melepaskan tangan pria itu.
"Ah ... maaf, aku salah orang," Alya merasa malu, untuk itu, dia langsung mencari keberadaan Neeta yang ternyata sudah sibuk mengunyah makanan. "Permisi," ucap Alya kemudian.
Sementara pria bernama Arman itu sedang sibuk dengan pikirannya. Dia tengah mencoba mengingat wajah wanita yang baru saja berbicara dengannya.
"Siapa wanita itu? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku benar-benar lupa di mana." Hingga tiba di ruangannya, Arman masih saja berpikir keras tentang sosok wanita itu.
Arman bahkan membuka ponselnya untuk memeriksa foto-foto wanita dalam galerynya, namun tidak menemukan satu pun di antara semuanya.
"Ah ... pasti aku salah orang, mungkin karena wanita itu cantik, jadi aku berpikir pernah mengenalnya."
Ketika Arman menyerah, ponselnya berdering dengan nyaring. Panggilan itu berasal dari Raymond. Dia pun menggeser tombol hijau untuk menerimanya.
"Halo ...!" ucap Arman.
Tidak seperti Arman yang bersikap santai, Raymond justru terdengar menggebu-gebu ketika bicara.
[Arman, kamu harus mendengar ini, Aarick ternyata adalah anak kandungku, hasil test DNA telah keluar, dan aku terbukti adalah ayah biologisnya.]
"Bagaimana bisa? Bukankah kamu bilang Martha mengadopsinya dari bayi?"
[Aku hanya satu kali tidur bersama wanita lain, aku yakin dia adalah ibunya. Wanita itu akhirnya kembali, dia pasti sengaja melakukan ini, dia memiliki niat jahat padaku.]