Telepon dari sopir masuk Minggu subuh, ketika Rafa baru saja memejamkan mata di sofa ruang kerjanya.
"Mas Rafa." Suara lelaki itu serak, ada napas tertahan di sela katanya. "Ibu pingsan tadi malam di kamar mandi. Saya yang menemukan. Sekarang di rumah sakit. Kata dokter tekanan darahnya tinggi sekali."
Rafa sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Ia tidak sempat bertanya apakah ini siasat, apakah ini cara lain Mama menariknya pulang. Pikiran itu muncul, ia tahu, dan ia membuangnya sebelum sempat menetap. Bahkan seorang perempuan yang keras kepala pun bisa jatuh sungguhan.
Lorong rumah sakit pagi itu berbau antiseptik dan nasi bubur dari kantin yang baru buka. Sopir berdiri di depan pintu kamar dengan topi diremas di tangan, mata merah dan kemeja safari yang sama dengan kemarin. Ia menegakkan badan begitu melihat Rafa.
"Dua ratus per seratus dua puluh, kata dokter, waktu masuk. Sekarang sudah turun." Ia menelan ludah. "Mas, saya mau bilang. Waktu Ibu bawa bayi itu Senin lalu, saya tidak cegah lebih keras. Saya salah."
"Kamu sudah bilang pada Mama bayi itu butuh ibunya. Itu cukup." Rafa menepuk bahunya sekali, singkat, dan masuk.
Kamar kelas satu itu terlalu bersih. Mama Jamilah terbaring di ranjang dengan infus di punggung tangan, rambutnya dilepas dari sanggul sehingga terlihat tipis dan beruban di pangkal, dan wajahnya tanpa bedak tampak sepuluh tahun lebih tua daripada yang Rafa ingat. Mesin kecil di sisi ranjang berkedip hijau. Ia membuka mata ketika mendengar langkah.
"Kamu datang."
"Aku datang."
"Mama kira ...." Mama menarik napas dan berhenti. "Mama kira kamu sudah lupa jalan ke sini."
Rafa menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia tidak mengambil tangan Mama. Ia juga tidak menjauh. "Dokter bilang apa?"
"Darah tinggi. Stres. Katanya harus istirahat berminggu-minggu." Mama menatap langit-langit. "Mereka tidak tahu apa yang membuat Mama stres."
"Aku tahu."
Mesin berbunyi. Seorang perawat melongok ke pintu, melihat suasana, dan menutupnya lagi dengan pelan.
"Rafa." Suara Mama sangat pelan, dan itu hal yang paling asing dari seluruh pagi ini. "Mama mau bilang sesuatu. Sebelum kamu menemukannya dari orang lain. Dan sebelum Mama kehilangan keberanian."
Rafa menunggu.
"Surat itu." Mama memejamkan mata. "Surat cerai. Kamu sudah tahu itu palsu. Tapi kamu belum tahu dari mana. Mama punya kenalan lama di pengadilan agama, orang yang pernah Mama bantu waktu keluarganya kesulitan. Mama hanya minta selembar kertas, berkop, bertanda tangan, yang bisa ditunjukkan kepada Pak Hendro dan kepada perempuan itu. Mama bayar sekali. Mama kira urusannya selesai. Mama kira kalau dia merasa sudah dicerai, dia akan pergi sendiri."
"Aku sudah tahu soal itu, Ma."
"Belum semua." Mama membuka mata dan menatapnya. "Ada satu lagi, dan itu yang paling buruk."
Rafa merasakan sesuatu mengeras di perutnya, seperti es batu yang jatuh ke air hangat.
"Sekretarismu. Yang laki-laki itu. Pagi setelah kamu pulang dari Bali, Mama memanggilnya ke rumah. Mama bilang: kalau perempuan itu muncul di kantor, katakan kepadanya dan kepada siapa saja yang mendengar bahwa dia bukan perempuan baik-baik. Bahwa dia sudah tidak perawan waktu menikah, makanya kamu meninggalkannya." Suaranya patah di kata itu. "Bohong. Mama tahu itu bohong."
"Berhenti." Rafa mengangkat tangan. Ia tidak berteriak. Suaranya begitu rendah sampai Mama sendiri memejam. "Mama menyuruh dia?"
"Iya."
"Mama menyuruh seseorang berbohong tentang tubuh seorang perempuan, yang baru sehari menjadi menantu Mama, supaya dia dipermalukan di kantorku sendiri?" Rafa bertanya pelan, setiap kata ditimbang. "Dia datang membawa koper sendirian. Dia dicemooh di lobi. Aku tahu itu, Ma. Aku mendengar dari seorang karyawan seminggu kemudian dan aku diam, karena aku pengecut. Tapi aku tidak tahu Mama yang menyuruhnya."
"Mama tidak mau ada yang mengasihani dia." Air mata Mama jatuh miring melewati pelipis ke bantal, tanpa isak. "Kalau orang kasihan, orang menolong. Kalau orang menolong, kamu akan merasa bersalah. Kalau kamu bersalah, kamu akan pulang kepadanya. Mama tidak bisa ... Rafa, Mama tidak bisa kehilangan lagi."
"Kehilangan apa?"
Mama menggeleng, bibirnya bergetar. Lama ia diam, dan Rafa membiarkannya.
"Waktu kamu kecil," ucapnya akhirnya. "Kamu tidak ingat. Usahamu ... usaha lama keluarga kita bangkrut dalam satu tahun. Semua yang kami punya disita. Kita pindah tiga kali dalam setahun, kadang makan sehari sekali. Mama berdiri di depan pintu orang yang dulu menyalami Mama di pesta dan mereka berpura-pura tidak kenal." Ia menelan ludah yang pahit. "Mama bersumpah waktu itu. Satu-satunya yang tidak mengkhianati orang adalah uang. Maka Mama mengumpulkannya, dan Mama menjaga orang-orang yang bisa menjaga uang. Alin anak orang kaya. Qenna anak panti. Dalam kepala Mama, itu sudah jawabannya."
Rafa menunduk. Kedua tangannya bertaut di antara lututnya, dan ia memandangi buku-buku jarinya yang memutih, mencari kemarahan yang bersih, dan tidak menemukannya. Yang ada hanya kasihan. Itu yang paling tidak ia inginkan, karena kasihan terasa seperti memaafkan, dan ia belum boleh memaafkan.
"Aku mengerti kenapa Mama takut," ucapnya perlahan. "Aku benar-benar mengerti. Tapi Mama menjadikan ketakutan itu sebagai pisau, dan yang dipotong bukan orang yang Mama takuti. Yang dipotong perempuan yang tidak punya siapa-siapa."
"Mama minta maaf, Rafa."
"Kepadaku?" Ia berdiri. Kursi bergeser pelan. "Mama tidak berutang apa-apa kepadaku, Ma. Mama berutang kepada orang yang Mama fitnah. Aku tidak memaafkan Mama hari ini, dan aku tidak mau bicara tentang maaf sebelum Mama mengatakannya sendiri kepada Qenna. Bukan lewat aku. Bukan lewat surat."
Mama menatapnya dengan mata yang belum pernah ia lihat di wajah itu: mata anak kecil yang baru dimarahi, tak tahu apakah akan dimaafkan.
"Mama harus mengatakannya sendiri," ulang Rafa dari ambang pintu, "kepada orang yang Mama fitnah."
***
Pesan itu masuk ke ponsel Qenna Minggu sore, ketika ia sedang melipat popok di kamar belakang dengan Aksa tidur telentang di sampingnya.
"Aku tahu siapa yang menyebarkan fitnah itu. Aku tidak akan menuliskannya di sini. Jumat pukul sepuluh pagi aku akan mengumpulkan semua karyawan di kantorku. Aku ingin kamu datang, kalau kamu mau. Boleh membawa Ibu Aisyah. Boleh pulang kapan saja. Aku tidak meminta kamu memaafkan siapa pun."
Qenna membacanya dua kali. Popok di tangannya terlipat tidak rata.
"Dari dia?" tanya Ibu Aisyah dari ambang pintu, membawa segelas air hangat.
"Dia mau mengumpulkan semua orang yang dulu menertawakan aku." Qenna meletakkan ponsel di kasur. "Di kantor itu, Bu. Tempat aku pernah ditunjuk dan dibilang tidak pantas."
"Dan kamu mau pergi?"
Qenna menatap langit-langit kamar. Dulu ia masuk ke gedung itu membawa koper kecil dan keluar membawa tuduhan, dan sejak itu tak pernah sanggup melewati jalan di depannya. "Aku takut jadi tontonan lagi."
"Bukan tontonan kalau kamu yang berdiri." Ibu Aisyah duduk di tepi tempat tidur dan meletakkan gelas di nakas. "Itu namanya saksi, Nak. Orang yang difitnah punya hak melihat fitnah itu dicabut di depan matanya."
Qenna mengetik pelan, satu tangan menahan Aksa: Jam berapa?
Balasan datang sebelum ia selesai menaruh ponsel. Pukul sepuluh. Aku yang akan menjemput kalian di lobi.
Qenna membaca kata "kalian" itu sekali, lalu menaruh ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Ia tidak membalas lagi.