Lobi itu lebih kecil dari yang diingat Qenna.
Lantai marmernya sama, resepsionis berseragam abu-abu sama, dan jam dinding besar di atas lift masih terlambat dua menit seperti dulu. Tetapi dulu ia datang dengan koper kecil dan wajah yang masih sembap dari perjalanan, dan semua benda di sini terasa tinggi dan menjulang. Hari ini ia berjalan masuk dengan gamis biru tua, Ibu Aisyah di sisinya, dan kakinya tidak gemetar.
"Perlu saya panggilkan Bapak?" tanya resepsionis, yang menatap Qenna dengan kegugupan orang yang tahu sesuatu dan tidak tahu apa.
"Kami sudah ditunggu."
Rafa muncul dari lorong sebelum resepsionis selesai mengangkat gagang telepon. Kemeja putihnya licin, rahangnya tercukur, dan lebam di pipi kirinya sudah memudar menjadi kuning pucat. Ia berhenti dua langkah dari Qenna dan tidak mencoba lebih dekat.
"Kamu datang."
"Aku bilang akan datang."
"Terima kasih juga, Bu Aisyah." Rafa membungkuk sedikit. "Mereka semua sudah di ruang serbaguna. Sekitar empat puluh orang. Ada kursi di depan, kalau kalian mau duduk."
"Berdiri juga tidak apa-apa," jawab Qenna.
Ruang serbaguna terletak di lantai dasar, ruangan panjang berlangit rendah yang biasa dipakai untuk rapat tahunan dan pesta ulang tahun perusahaan. Kursi lipat berbaris tak rapi. Empat puluhan karyawan sudah duduk atau berdiri bergerombol, berbisik, dan bisik-bisik itu padam seperti lilin tertiup angin begitu Qenna melangkah masuk. Beberapa wajah ia kenal: perempuan di bagian administrasi yang pernah menutup hidung dengan tisu, lelaki gemuk di bagian gudang yang menyikut temannya, dua gadis resepsionis yang dulu terkikik. Mereka sekarang menunduk atau menatap lantai.
Qenna duduk di kursi paling depan, Ibu Aisyah di sampingnya. Tas di pangkuannya berisi ponsel dan, di dalam ponsel itu, foto yang tidak akan pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di ruangan ini. Ia menggenggam tasnya erat. Sebagian dirinya ingin membuktikan; sebagian lain, yang lebih tua dan lebih kuat, berkata bahwa kebenarannya tak butuh saksi bisu dari kain dan tisu.
Rafa naik ke podium kecil. Ia tidak memakai pengeras suara.
"Terima kasih sudah berkumpul. Saya tidak akan lama." Suaranya serak tetapi tenang. "Beberapa bulan lalu, di lobi di atas kita, seorang perempuan datang mencari saya. Ia datang sendirian, membawa koper, dan sebagian dari kalian, atas perintah atau karena ikut-ikutan, menertawakannya. Mengatakan kepadanya bahwa ia tidak punya tempat di sini. Mengatakan bahwa ia bukan perempuan baik-baik."
Tak ada yang bergerak.
"Perempuan itu bernama Qenna Amanda." Rafa menelan ludah. "Dia istri saya yang sah. Dia ibu dari anak saya, yang lahir hampir tujuh pekan lalu. Dan semua yang dikatakan tentang dirinya waktu itu, bahwa ia tidak suci saat menikah, adalah bohong. Saya tahu itu bohong, karena saya ada di sana. Dan saya diam."
Seseorang di barisan tengah mengeluarkan bunyi seperti tercekik.
"Saya diam karena saya pengecut. Bukan karena saya tidak tahu mana yang benar. Saya membiarkan seorang perempuan dipermalukan di gedung yang namanya ada di pintu depan itu, hanya supaya saya tidak perlu berhadapan dengan orang yang saya takuti. Itu kesalahan saya, bukan kesalahannya." Ia menarik napas. "Hari ini saya mengumpulkan kalian bukan untuk meminta maaf kepada kalian. Hari ini saya ingin kalian mendengar, dari mulut saya, supaya tak ada lagi yang berani mengulangnya."
Ruangan begitu sunyi sehingga bunyi pendingin udara terdengar seperti dengung lebah.
Di barisan belakang, kursi bergeser. Seorang lelaki bangkit pelan. Qenna mengenalinya sebelum ia berbalik: bahu tegap yang agak membungkuk, kemeja biru muda, kepala yang dulu mendongak ketika menyebut tamu tak diundang dengan nada yang mengubah dua kata itu jadi ejekan. Sekretaris Rafa.
Lelaki itu berjalan ke depan. Wajahnya kelabu. Tangannya yang memegang secarik kertas bergetar sehingga kertas itu ikut berbunyi.
"Qenna ... Ibu Qenna," ucapnya, dan suaranya pecah di tengah. "Saya yang pertama mengatakannya. Di lobi itu. Saya yang menyebar cerita itu ke bagian lain, saya yang bilang ke teman-teman bahwa itu benar." Ia menelan ludah. "Saya tidak punya alasan yang pantas. Saya diberi perintah dan saya takut kehilangan pekerjaan. Tapi yang membuka mulut itu saya. Bukan orang lain."
Ia menangis. Tidak dengan suara. Air mata saja yang turun melewati pipi dan menetes ke kertas di tangannya.
"Ini surat pengunduran diri saya. Saya tidak berharap Ibu memaafkan. Saya hanya ...."
"Duduklah dulu," potong Rafa dari podium, rendah. "Urusan surat itu nanti. Hari ini bicaralah kepadanya, bukan kepada saya."
Lelaki itu mengangguk dan menatap Qenna, menunggu.
Qenna berdiri. Ia merasakan seluruh mata di ruangan itu mengikutinya. Ibu Aisyah tak menahan, hanya menggeser sedikit tas di pangkuannya agar Qenna tak merasa terlalu sendirian.
"Saya terima permintaan maaf Anda," ucap Qenna.
Sekretaris itu memejam, napasnya keluar panjang seperti anak yang baru dibebaskan.
"Tetapi saya tidak akan lupa bagaimana Anda tertawa."
Kalimat itu jatuh ke lantai ruang serbaguna dan tak ada yang berani menginjaknya. Lelaki itu mengangguk sekali, sangat pelan, menerima bahwa itu memang bayaran yang harus ia bawa pulang.
Qenna menoleh ke arah kursi-kursi yang berderet. "Saya tidak minta kalian merasa bersalah. Saya hanya minta, lain kali sebelum tertawa pada seseorang, tanyakan dulu apakah yang kalian ceritakan itu benar."
Dari barisan ketiga, seorang perempuan muda yang dulu menutup hidung dengan tisu menunduk dan menangis. Ruangan itu tetap diam, tetapi diam yang berbeda dari tadi.
Ketika Rafa membubarkan mereka, para karyawan keluar tanpa suara, melewati Qenna dengan langkah canggung, sebagian menunduk hormat, sebagian tak sanggup menatap. Di ambang pintu, perempuan administrasi yang dulu menutup hidung dengan tisu berhenti. Matanya sembap, dan ia menggenggam ujung blusnya sampai kainnya kusut.
"Bu Qenna, saya ...." Ia menelan ludah. "Saya waktu itu bukan hanya menutup hidung. Saya bilang kepada teman-teman Ibu bau. Padahal Ibu cuma kelihatan capek."
"Saya memang capek waktu itu," jawab Qenna. "Saya sedang hamil dan belum tahu."
Perempuan itu mundur setengah langkah seperti baru ditampar sesuatu yang lebih lembut daripada tamparan. "Maaf. Sungguh."
"Terima. Tapi lain kali," Qenna melirik tas tangan perempuan itu yang sebagian tertutup selendang, "kalau melihat orang yang kelihatan capek, tanya apakah ia mau duduk."
***
Di gerbang kantor, matahari jam sebelas menyilaukan. Ibu Aisyah sedang berbicara pelan dengan satpam yang terus menyeka pelipis, dan Qenna berdiri di bawah kanopi menunggu taksi.
"Kamu menjawab dua orang sekaligus tadi," bisik Ibu Aisyah ketika satpam sudah menjauh. "Yang meminta maaf, dan dirimu sendiri yang dulu berdiri di sini membawa koper."
"Aku tidak merasa menang, Bu."
"Memang bukan itu tujuannya."
Rafa menyusul dengan langkah cepat, berhenti satu meter darinya.
"Terima kasih," katanya. "Karena datang. Karena berdiri."
"Aku tidak melakukannya untukmu."
"Aku tahu." Rafa menghela napas. "Ada satu hal lagi. Mama ... aku bertemu Mama hari Minggu. Dia mengakui semuanya, termasuk soal perintah itu. Dia ingin meminta maaf sendiri kepadamu, kalau kamu bersedia. Aku tidak memaksa dan aku tidak akan mengantarnya."
Qenna menatap jalan. Satu kendaraan lewat, lalu satu lagi.
"Katakan padanya Selasa," ujarnya tanpa menoleh. "Pukul satu, sebelum jadwalmu. Tanpa sopir. Tanpa amplop. Sendiri."