Taksi Qenna dan Sindy berhenti di ujung gang tepat ketika mobil putih Rafa merapat ke depan gerbang panti.
Qenna tidak menunggu uang kembalian. Ia turun, setengah berlari, tangan kiri memegang perut yang masih nyeri bekas luka, dan melihat pintu mobil terbuka lebih dulu. Rafa keluar dari sisi pengemudi dengan bayi di dadanya, tubuh bungkuk melindungi, bahunya naik-turun oleh napas yang tak teratur. Dari jarak sepuluh langkah Qenna sudah mendengar Aksa menjerit, jeritan serak yang mencari, bukan marah.
Gerbang terbuka. Anak-anak panti berkerumun dengan wajah sembab. Andin menangis sambil menggigit ujung kerudungnya di sisi Ibu Aisyah, yang berdiri tegak walau tangannya gemetar memegang pagar.
Rafa berhenti di depan Qenna. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengulurkan bayi itu dengan dua tangan, hati-hati, seperti menyerahkan benda yang bukan miliknya.
Qenna mengambil Aksa. Begitu bau kulitnya menyentuh hidung bayi itu, jeritannya putus. Ia terengah sebentar, memburu dada ibunya dengan mulut terbuka, lalu menyusup ke lekuk leher Qenna dan diam. Hanya tubuh kecilnya yang masih bergetar.
"Sudah, sudah," bisik Qenna, berulang-ulang, kepada bayi atau kepada dirinya sendiri. "Mama di sini. Mama di sini."
Ia mengangkat wajah. Barulah ia melihat pipi kiri Rafa: merah, bentuk lima jari samar masih tertera di bawah tulang pipinya.
"Itu apa?"
"Tidak apa-apa."
"Rafa."
"Mama." Hanya itu jawaban Rafa. "Aku tidak membalas."
Qenna menatap wajah itu lebih lama dari yang ia niatkan. Ia mencari kemarahan yang biasanya siap di bawah kulitnya, dan tidak menemukannya di tempat biasa. Yang ada di sana sesuatu yang lain, lebih sunyi dan lebih sulit disebut. Seorang lelaki yang berlari delapan belas menit untuk hal yang dulu ia tinggalkan hanya dalam satu pagi.
"Terima kasih," ucapnya, sangat pelan.
Rafa menunduk, dan Qenna melihat rahangnya bergerak, menahan sesuatu yang tidak jadi keluar. Ia hanya mengangguk, lalu mundur satu langkah untuk memberi mereka ruang.
Ibu Aisyah yang bergerak lebih dulu. Ia menghilang ke dapur dan kembali dengan handuk kecil berisi es batu, lalu menyodorkannya kepada Rafa tanpa kata. "Tempelkan di pipi. Duduk di bangku bawah jambu. Tidak perlu masuk kalau kamu belum merasa pantas."
"Bu, aku ...."
"Duduk, Nak. Ibu tidak mau kamu pingsan di depan anak-anak. Mereka sudah cukup melihat kejadian hari ini."
Rafa duduk. Anak sembilan tahun yang pernah memberi Aksa boneka kuda datang mendekat dan berdiri tiga langkah darinya, menatap handuk es itu dengan serius. "Om dipukul Nenek itu, ya? Nenek itu jahat?"
Rafa menelan ludah. "Bukan jahat," ujarnya setelah beberapa saat. "Nenek itu takut. Orang yang takut kadang berbuat salah."
"Takut apa?"
"Kehilangan."
Anak itu mengangguk, puas, dan pergi memberi laporan kepada teman-temannya.
***
Selasa pukul dua, Rafa datang tepat waktu dengan lebam keunguan di pipi dan tanpa membawa apa-apa. Ruang depan panti berbau teh seperti biasa. Aksa tidur di boks kuning pucat, Ibu Aisyah merajut di pojok, dan Qenna duduk dengan punggung lurus.
"Pak Dimas sudah kuberi tahu," katanya tanpa pembukaan. "Dia bilang aku bisa melaporkan pemalsuan surat itu ke polisi. Dan kamu tahu siapa yang membuatnya."
"Tahu." Rafa tidak menghindar. "Aku siap bersaksi. Apa pun yang diminta."
"Dia ibumu."
"Dia ibuku." Rafa menarik napas. "Aku hanya minta satu hal, dan aku tahu aku tidak berhak: jangan sekarang. Beri aku waktu mengajaknya bicara sendiri dulu."
Qenna menimbang. Ia tidak menjawab ya atau tidak. Ia hanya memutar-mutar cangkir tehnya sampai Ibu Aisyah di pojok berdeham pelan. "Aku pikirkan," katanya akhirnya. "Aku tidak janji."
"Itu lebih dari yang kuharap." Rafa mengusap pipinya yang masih nyeri. "Semalam aku ke rumahnya lagi. Dia mengunci diri di kamar dan tidak mau membukakan pintu. Aku tidak memaksa."
"Kamu menunggu di depan pintunya?"
"Satu jam. Sampai aku sadar bahwa dia butuh waktu lebih lama daripada yang bisa kuberikan dalam satu malam."
Qenna menatapnya, menimbang apakah kalimat itu jujur atau sekadar baik. Ia memutuskan bahwa yang kedua pun ada gunanya.
***
Malam itu Alin sendiri yang membukakan pintu rumah ayahnya. Ia hanya berkata, "Masuk, Mas. Papa sudah menunggu," dan menuntunnya melewati lorong yang berbau pelitur dan bunga sedap malam, tanpa menoleh sekali pun.
Rafa duduk di ruang tamu, di kursi yang menghadap meja rendah berisi berkas, dan merasa dirinya sedang diadili oleh perabot. Jam dinding kayu di sudut berdetak lebih keras daripada yang ia ingat. Foto Alin kecil di atas lemari, bergaun putih dan memegang boneka, memandangnya dari kaca bingkai tanpa menuduh, dan itu justru yang paling menyakitkan.
Pak Hendro duduk di seberang. Lelaki tujuh puluhan itu bertongkat dengan rambut perak tersisir rapi. Di sebelahnya duduk pengacara tanpa suara yang membagikan map. Alin berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat, rambut diikat, mengenakan gamis sederhana yang tak ada hubungannya dengan perempuan berhias di pelaminan yang dulu Rafa lihat.
"Pembatalan nikah," kata pengacara, datar. "Dasar pengajuannya: pernikahan Pak Rafa dengan Ibu Alin dilangsungkan ketika Pak Rafa masih terikat perkawinan sah dengan perempuan lain. Surat ini menyatakan Bapak tidak keberatan atas pengajuan tersebut."
Rafa membaca setiap baris. Ia sudah membacanya dua kali di mobil, tetapi ia membacanya lagi seolah mungkin ada kalimat yang berubah. Tidak ada. Ia mengambil pulpen.
"Tenggat tiga bulan saya habis kemarin," ucap Pak Hendro. Suaranya rendah dan tak berlebihan. "Saya tidak akan menarik apa yang sudah saya tarik. Dana saya keluar akhir bulan ini. Perusahaanmu bisa bertahan atau tidak, itu bukan lagi urusan saya."
"Saya mengerti, Pak." Rafa menandatangani halaman pertama, lalu kedua. "Terima kasih sudah memberi saya waktu tiga bulan. Saya tahu itu lebih dari yang pantas."
"Saya tidak memberi waktu untuk perusahaanmu." Pak Hendro menatapnya dari balik alis perak yang lebat. "Saya memberi waktu untuk anak saya. Supaya dia tidak menjadi janda di atas kertas tanpa tahu apa yang terjadi padanya. Kamu tidak membantah apa pun malam ini. Itu pertama kali saya lihat dari keluarga kalian."
Rafa menunduk dan menyelesaikan halaman terakhir. Tinta pulpen itu seperti darah kering di ujung jarinya.
Pengacara mengumpulkan map, mengangguk singkat, dan keluar bersama Pak Hendro. Ruang tamu mendadak lengang.
"Pipimu, Mas," ucap Alin dari jendela.
"Mama."
"Kamu tidak membalas?"
"Tidak."
Alin berjalan perlahan mendekat dan berdiri di seberang meja. Dari dekat ia tampak lebih lelah daripada ketika Rafa terakhir melihatnya, tetapi tidak lagi menyedihkan. Seperti seseorang yang sudah menaruh beban yang bukan miliknya.
"Dia sehat?" tanya Alin lebih dulu. "Anakmu."
"Sehat. Kemarin dia dibawa Mama." Rafa menggeleng. "Dia tidak apa-apa."
"Aku masih ingin menggendongnya lagi, kalau Mbak Qenna mengizinkan. Bukan sebagai apa-apa. Hanya karena aku pernah menciumnya sekali dan dia tidak menangis."
"Nanti kutanyakan."
"Jangan kamu yang tanya. Aku yang akan minta sendiri." Alin menghela napas, dan sedikit ketegangan di bahunya luruh.
"Aku minta maaf, Alin," ujar Rafa. "Aku tahu itu terlalu kecil."
"Memang." Alin tidak tersenyum. Ia juga tidak membentak. "Aku tidak membencimu. Aku kecewa. Dan aku lega."