Lantai klinik tidak bergerak, tetapi Qenna merasa dirinya jatuh.
"Qen? Qen!" Sindy menangkap sikunya. "Siapa? Kenapa?"
"Mama Jamilah membawa Aksa dari panti." Kalimat itu keluar dari mulutnya seperti bacaan yang bukan ia karang. "Andin dan anak-anak mencoba menghalangi. Ibu Aisyah tidak bisa."
"Aku telepon polisi."
"Jangan."
"Qen, itu penculikan!"
"Itu nenek yang membawa cucunya, Sin, di mata siapa pun yang tidak kenal dia." Qenna memejamkan mata sebentar. Pak Dimas, kata-katanya hari Jumat, kertas yang tak punya nomor perkara. Ia tak boleh berteriak, tak boleh melakukan satu hal pun yang bisa dijadikan bahan. "Polisi akan bertanya siapa neneknya, dan siapa ayahnya, dan siapa yang berhak. Dan jawabannya ada satu orang."
Sindy menatapnya, mulutnya terbuka, lalu tertutup. Ia mengerti sebelum Qenna mengatakannya.
"Kamu mau menelepon dia."
"Aku tidak mau." Qenna membuka daftar kontak dengan jempol yang kaku. Nomor itu masih di sana, tak pernah ia hapus meski ia pernah mencoba dua kali. "Tapi hanya dia yang bisa masuk ke rumah itu tanpa diusir."
Di layar, nama itu menunggu. Hari-hari ketika ia menunggu panggilan dari nama yang sama di tepi pantai Denpasar melintas di kepalanya, dan ia mengusirnya dengan satu kedipan. Ia menekan tombol hijau dengan ibu jari yang mati rasa.
***
Rafa sedang menjelaskan angka kepada kepala keuangannya ketika ponsel di meja bergetar dan layarnya menampilkan satu nama yang sudah lama tidak menyala.
Qenna.
Ia berhenti di tengah kalimat. Lelaki di seberang meja, yang sudah tiga pekan melihat atasannya mengurus perusahaan dengan wajah orang yang tidak tidur, mengangkat alis. Rafa tidak menjelaskan. Ia meraih ponsel dan menempelkannya ke telinga sebelum bunyi ketiga.
"Qenna?"
"Mamamu membawa anakku."
Hanya itu. Suara itu datar, rapi, tanpa gemetar, begitu rata sehingga Rafa lebih ngeri mendengarnya daripada kalau ia dimaki. Di belakang suara itu terdengar bunyi ruang tunggu, dan seorang perempuan menyebut nama Qenna dengan nada khawatir.
"Dia membawa Aksa dari panti," lanjut Qenna. "Aku ada di klinik, jauh. Ibu Aisyah tidak bisa menghentikannya. Kamu tahu ke mana dia pergi."
"Aku ...."
"Aku tidak minta kamu minta maaf. Aku minta kamu membawa dia pulang."
Sambungan terputus.
Rafa sudah berdiri sebelum menyadarinya. Kursinya mundur membentur dinding, map-map di meja bergeser. "Pak?" Kepala keuangan setengah bangkit. "Rapat kuartalnya ...."
"Tunda." Rafa menyambar kunci mobil. "Atau lanjutkan tanpa saya. Saya tidak peduli angka yang mana."
Ia berlari melewati lorong kantor yang kini separuhnya kosong, sebagian ruangan sudah ditutup sejak dana kuartal ditunda. Di lift ia menekan tombol lantai dasar berkali-kali, seperti anak kecil. Di dalam mobil, tangannya basah di kemudi. Ia menghitung jalan tercepat, lampu lalu lintas yang bisa diterobos, dua belokan yang biasa macet.
Dua puluh menit. Ia mencatatnya sendiri di kepala seperti orang yang berutang dan baru sekarang diberi kesempatan melunasi sedikit.
Satpam rumah besar itu, yang sama dengan satpam yang dulu disuruh mengusir seorang perempuan muda dengan koper kecil, berdiri tergesa di gerbang. "Mas Rafa, Ibu bilang tidak menerima tamu ...."
"Aku anak pemilik rumah ini." Rafa tidak memelankan langkah. "Buka."
Satpam itu membukanya.
Tangis bayi terdengar dari halaman bahkan sebelum Rafa membuka pintu depan.
Mama Jamilah berdiri di tengah ruang tamu dengan Aksa di bahu, berjalan mondar-mandir persis seperti yang dulu ia lakukan semalaman untuk seorang anak laki-laki kecil yang tidak mau tidur. Tetapi bayi ini tidak mau diam. Wajahnya merah, tinjunya mengepal, mulutnya terbuka lebar mencari sesuatu yang tidak ada. Di atas meja kopi terhampar bedong-bedong baru yang tampaknya dibeli terburu-buru, masih berlipat dengan label, dan di sofa tergeletak botol susu formula yang belum disentuh.
Sopir berdiri di sudut ruangan dengan topi di dada seperti saksi yang berharap tak diminta bersuara. Begitu melihat Rafa, ia melangkah setengah maju.
"Mas Rafa, dari tadi bayinya belum minum. Saya sudah bilang ke Ibu, bayi sekecil itu ...."
"Diam," potong Mama Jamilah, tanpa menoleh.
"Bayi sekecil itu masih menyusu ibunya, Bu," lanjut sopir, lebih pelan tapi tidak berhenti, dan Rafa mencatat dalam hati bahwa lelaki itu, yang selama ini hanya bayangan di balik kemudi, baru saja memilih sisi.
"Rafa." Mama Jamilah menoleh. Rambutnya sedikit berantakan, kemudian ia melihat putranya dan berusaha menegakkan punggung. "Bagus kamu datang. Lihat. Cucuku. Anakmu. Ini rumahnya yang benar. Dia akan tumbuh di sini, dengan semua yang pantas ...."
"Ma." Rafa berhenti dua langkah darinya. Ia menahan suaranya supaya tetap rendah, karena bayi itu. "Berikan dia."
"Dia tidak mau diam dengan siapa pun. Mama sedang menenangkannya."
"Dia lapar, Ma. Dia butuh ibunya."
"Ibunya!" Mama Jamilah tertawa pendek, ada serpihan histeria di dalamnya. "Perempuan yang tidak punya apa-apa itu? Yang membesarkan anakmu di panti, di antara anak-anak buangan? Kamu mau anakmu jadi apa? Lihat rumah ini, Rafa. Lihat. Mama sudah menyiapkan kamar ...."
"Sejak kapan?"
Kalimat itu membuat Mama Jamilah terdiam.
"Sejak kapan Mama menyiapkan kamar?" ulang Rafa, lebih pelan. "Sebelum tahu dia ada? Atau sesudah sopir melapor tiga pekan lalu?" Ia menarik napas. "Ma, Mama sudah mengambil pernikahanku, nama baiknya, ketenangannya. Hari ini Mama mengambil bayinya. Apa lagi yang Mama punya untuk perempuan itu yang belum Mama ambil?"
"Mama melakukan ini untuk kamu."
"Tidak." Satu kata. "Untuk diri Mama. Tidak apa-apa kalau Mama tidak sanggup mengakuinya, tetapi aku sanggup mendengarnya."
"Perempuan itu punya lelaki lain, Rafa. Mama punya fotonya. Anakmu akan memanggil orang asing dengan sebutan Papa."
"Mungkin." Rafa menelan sesuatu yang pahit. Dadanya sakit karena kata itu, tetapi ia membiarkannya sakit dan tidak berlari darinya. "Kalau itu terjadi, itu karena aku yang membuat tempat itu kosong, Ma. Bukan Qenna. Dan bukan hak Mama mengisinya dengan mencuri."
Aksa menjerit lebih keras. Rafa melangkah maju, dan sebelum Mama sempat mundur, ia mengulurkan kedua lengan. Tangan kanan di bawah kepala, tangan kiri di bawah punggung kecil itu, persis seperti yang diajarkan perempuan yang tidak mengajarkannya dengan senyum. Ia mengangkat Aksa dari bahu neneknya, lembut, tegas, tanpa menyentuh Mama sedikit pun yang tidak perlu.
Tubuh kecil itu menggeliat, menjerit sekali lagi di dadanya, lalu berhenti sejenak seperti sedang menimbang.
Plak.
Rafa tidak sempat bereaksi. Pipinya panas, kepala berputar setengah ke samping. Bayi di lengannya terkejut dan menangis lebih keras; secara refleks Rafa merapatkannya ke dada dan menunduk melindungi kepala kecil itu dari apa pun yang mungkin datang berikutnya. Itu gerakan yang spontan, tanpa pikir.
Sopir di sudut menahan napas.
Mama Jamilah menatap tangannya sendiri, telapak yang memerah, dan wajahnya berubah beberapa kali dalam hitungan detik: marah, kaget, malu, lalu hampa. Ia belum pernah menampar anaknya sendiri sejak Rafa kecil.
"Kamu ...."
"Ini tamparan terakhir, Ma." Rafa mengangkat wajahnya. Matanya tidak marah. Itu yang membuat Mama mundur setengah langkah. "Aku tidak membalas, dan aku tidak akan membalas. Tetapi mulai hari ini Mama tidak mengenal cucu Mama sampai Qenna mengizinkan. Bukan aku. Qenna."
Ia berbalik dengan bayi yang masih menjerit di dadanya, bahunya menghalangi apa pun yang mungkin ingin menghalangi jalannya, dan pergi tanpa menunggu jawaban.
Di belakangnya, sopir menunduk lebih dalam. Mama Jamilah berdiri sendirian di tengah ruang tamu, di antara bedong-bedong baru yang berlabel, dan tidak bergerak sampai suara mobil Rafa lenyap di jalan.
"Buang semua itu," ucapnya akhirnya, tanpa menoleh, kepada lelaki yang belum berani melangkah. Suaranya pecah di tengah kalimat. "Jangan. Simpan saja. Taruh di kamar yang sudah kusiapkan, dan kunci pintunya."