Formulir itu sudah tergeletak di meja samping ranjang sejak Jumat sore, dan Qenna sudah memandanginya sekian kali tanpa menyentuhnya.
Di kolom pertama tertulis nama bayi, dan itu mudah: Aksa, huruf kapital, ditulis Ibu Aisyah kemarin atas dikte Qenna yang masih lemas. Kolom kedua nama ibu. Kolom ketiga, di bawah garis tebal yang dicetak lebih jelas daripada kolom lain, bertuliskan NAMA AYAH. Gelang di pergelangan Aksa semalam sudah beres: perawat cukup menuliskan nama ibunya dan tidak bertanya lagi.
Pagi Sabtu itu kamar rawat kelas biasa itu berbau sabun dan teh manis. Di sisi ranjang, dalam boks plastik bening beroda, Aksa tidur dengan dua tangan terkepal di dekat pipi. Kulitnya sedikit kekuningan di bawah cahaya jendela. Qenna sudah memandangi dada kecil yang naik turun itu hampir sepanjang malam, dan sekarang ia tahu satu hal yang tak pernah diajarkan siapa pun padanya: orang bisa lapar sekaligus kenyang hanya karena melihat sesuatu bernapas.
"Mbak Qenna, sudah diisi?" Seorang petugas administrasi berkerudung biru muncul di pintu dengan papan jalan. "Hari ini terakhir kami proses ke catatan sipil sebelum libur. Nama ayahnya, Bu?"
Qenna memegang pena. Ia mendengar suara kipas, suara troli di lorong, suara napas Aksa yang halus.
"Kalau dikosongkan?" tanyanya.
"Bisa, Bu. Tapi nanti di akta hanya nama ibu. Anak jadi tercatat anak dari ibunya saja."
"Dan kalau diisi?"
"Kami butuh fotokopi buku nikah sebagai dasar. Boleh menyusul, Bu, asal dibawa dalam seminggu."
Buku nikah itu ada di tas Qenna yang sama, terselip di antara kartu berobat dan selembar foto USG. Ia membawanya ke mana-mana sejak pindah ke panti tanpa pernah membukanya, seperti membawa batu yang tak bisa dibuang di tempat umum. Ia tidak menjawab petugas itu. Ia menoleh pada Ibu Aisyah, yang duduk di kursi lipat di ujung ranjang dengan tasbih kecil di tangan dan wajah yang lelah tetapi tenang.
"Bu."
"Itu keputusanmu, Nak. Bukan Ibu."
"Kalau aku kosongkan, dia tidak perlu menanggung nama Rafa. Orang tidak perlu bertanya. Mama Jamilah tidak punya apa-apa untuk dipakai."
"Itu benar."
"Tapi suatu hari Aksa akan bertanya, Bu. Dan aku harus menjawab bahwa aku yang menghapus ayahnya." Qenna menggeleng pelan. "Aku boleh menjauhkan Rafa dari diriku. Aku tidak berhak menghapus dia dari anak ini."
Ibu Aisyah tidak menjawab. Ia berdiri, melangkah pelan ke sisi ranjang, dan menaruh tangannya di bahu Qenna.
Pena itu bergerak. Qenna menulis nama itu huruf demi huruf, lalu nama belakang yang ia hafal di luar kepala, dan saat selesai, tangannya gemetar bukan karena sakit. Petugas itu mengambil formulirnya, mengucapkan selamat, dan keluar. Qenna menaruh dahi di bahu Ibu Aisyah dan perempuan itu memeluknya erat sekali.
"Ibu bangga padamu."
"Aku tidak merasa kuat, Bu."
"Kamu baru saja menulis nama itu dengan tanganmu sendiri," kata Ibu Aisyah sambil mengusap punggungnya. "Itu sudah kuat. Sekarang istirahat."
***
Dokter Bram datang pukul sembilan, membawa tas hitam kecil dan wajah orang yang berharap tidak sedang diperhatikan.
"Saya tidak datang atas perintah Pak Armand," katanya cepat-cepat sebelum Qenna sempat bertanya. "Beliau bahkan belum tahu. Bu Sindy yang menelepon pagi tadi karena kulit bayinya agak kuning. Saya ... tidak enak kalau menolak."
"Terima kasih, Dok," ujar Qenna. "Saya yang berterima kasih."
Dokter Bram memeriksa mata Aksa, menekan dadanya dengan dua jari, menyorotkan lampu kecil ke telapak kakinya. Ia teliti sampai Ibu Aisyah hampir menawarkan kursi. "Ini kuning fisiologis, Bu, wajar di hari kedua. Jemur pagi lima belas menit, jangan menunggu matahari tinggi. ASI yang sering. Kalau sampai ke perut atau kakinya makin kuning, hubungi saya langsung."
"Terima kasih."
"Dan ...." Ia merapikan stetoskopnya dengan gerakan yang tidak perlu. "Waktu itu di ruang Pak Armand, saya mengira Ibu sudah tahu. Saya sungguh minta maaf soal itu."
Qenna menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Dok. Anak ini hasilnya. Kalau saya marah, saya harus marah pada bayi."
Dokter Bram terdiam, lalu mengangguk dua kali dan buru-buru berpamitan.
Tak lama kemudian pintu terbuka lagi, dan Sindy muncul membawa bungkusan nasi kuning yang masih mengepul. Di belakangnya Hans berdiri dengan wajah segar dan sepasang sepatu yang kali ini sama.
"Dia kenapa, Sin?" bisik Hans ketika melihat boks.
"Namanya bayi, Pak Hans. Bayi tidur." Sindy menyerahkan nasi kuning kepada Ibu Aisyah. "Qen, kamu kelihatan seperti sudah tidur seminggu. Padahal baru semalam."
"Aku merasa seperti baru tidur setahun."
Hans memohon dengan dua alis supaya diizinkan, dan Ibu Aisyah memangku Aksa dengan hati-hati, lalu menyerahkannya ke dua lengan Hans yang kaku seperti kayu. Hans memegangnya seperti memegang gelas kristal. Bayi itu menggeliat, membuka mulut kecilnya, lalu melolong.
"Aduh. Salah apa saya? Sin, saya tidak melakukan apa-apa!"
"Bau," kata Sindy, mengendus. "Pak Hans pakai sesuatu."
"Cuma hand sanitizer! Dari lobi rumah sakit! Aromanya jeruk!"
"Dia tidak suka jeruk," tebak Ibu Aisyah dengan senyum yang ia tahan. "Atau tidak suka lelaki yang tegang."
Qenna tertawa. Itu tawa pertamanya yang utuh sejak lama sekali, dan ia menutup mulutnya karena jahitannya terasa nyeri. Hans menyerahkan Aksa kembali dengan wajah tersinggung dan sangat lega, dan bayi itu berhenti menangis begitu kembali ke dada ibunya.
"Dia sudah punya pendirian," ujar Hans. "Itu bagus. Tetapi saya merasa ditolak oleh lelaki seukuran bantal."
Ponsel Ibu Aisyah berdering menjelang siang. Wajah Andin memenuhi layar, miring dan terlalu dekat, di belakangnya belasan kepala kecil berdesakan untuk ikut masuk bingkai.
"Mana adikku, Bu? Mana? Kak Qenna, tunjukkan!"
Qenna mengangkat ponsel itu ke arah boks. Ruang kecil di seberang sana langsung dipenuhi seruan yang bersahutan, ada yang bilang hidungnya mirip kancing, ada yang bertanya apakah bayi itu boleh dicubit, ada yang cuma menempelkan hidung ke layar hingga yang terlihat hanya lubang hidungnya.
"Jangan dicubit," kata Qenna sambil tertawa. "Nanti kalau sudah pulang, boleh cium. Satu-satu."
"Spanduknya sudah jadi, Kak!" teriak Andin. "Besok Kakak lihat! Jangan pulang dulu sebelum aku selesai nulis!"
"Pulangnya besok, Ndin."
"Berarti aku harus lembur!"
Layar itu padam, dan kamar kembali sunyi. Qenna memandang langit-langit dengan perasaan yang aneh: ada tempat untuk dirinya di suatu rumah, dan di rumah itu ada orang-orang yang bersorak sebelum ia tiba.
***
Pukul empat sore, ketika cahaya jendela mulai kuning dan Ibu Aisyah pergi ke musala, terdengar ketukan pelan di pintu.
Armand berdiri di ambang pintu dengan sebuket bunga kecil di satu tangan dan sampul putih di tangan lainnya. Ia mengenakan kemeja yang disetrika rapi, rambutnya tersisir, dan wajahnya tampak seperti orang yang telah tidur beberapa jam tetapi tidak merasa cukup. Ia tidak melangkah.
"Boleh saya masuk?"
Qenna menarik napas. "Boleh, Pak. Cuma tiga langkah."
Armand mengangguk. Ia berjalan tiga langkah, berhenti di kaki ranjang, dan menaruh bunga serta sampul di meja kecil tanpa menyentuh apa pun yang lain. Pandangannya turun ke boks. Aksa sedang bangun, matanya setengah terbuka, menatap sesuatu yang tidak ada.
Armand memandangnya lama sekali. Rahangnya yang biasanya tegas melunak sedikit demi sedikit, dan ia mengangkat punggung tangan ke mata dengan gerakan cepat, seolah mengusir debu.
"Namanya bagus," katanya akhirnya. "Aksa."
"Saya yang memilih."
"Saya tahu. Sindy sempat bilang."
"Terima kasih sudah menunggu di lorong, Pak. Ibu Aisyah cerita."
"Saya tidak ...." Ia berhenti, mengurungkan bantahan yang sudah di ujung lidah. "Itu bukan apa-apa."
"Di panti ada aturan tidak boleh berbohong, Pak. Bahkan yang kecil."
Armand nyaris tersenyum. "Kalau begitu, ya. Saya menunggu. Dan saya senang. Itu saja."
Ia berbalik menuju pintu, dan Qenna memanggilnya sebelum tangannya menyentuh gagang.
"Pak Armand."
"Ya?"
"Kalau suatu hari saya butuh sesuatu, saya sendiri yang akan bilang. Bukan Ibu, bukan Sindy, bukan Pak Hans. Saya."
Armand menoleh. Ada sesuatu yang berat dan sabar di matanya.
"Saya menunggu itu," katanya. "Selama apa pun."