Mobil Hans berhenti di depan gerbang panti pukul sepuluh pagi, dan Qenna langsung menyesal karena tidak sempat bersiap-siap.
Gerbang itu tidak lagi terlihat seperti gerbang. Di antara dua tiangnya terbentang selembar karton bekas bungkus kulkas yang dilem sambung-menyambung, dan di atasnya, dengan cat air tiga warna yang meleleh di beberapa huruf, tertulis: SELAMAT DATANG ADIK AKSA. Huruf K-nya terbalik. Di bawahnya digambar bayi berkepala sebesar badan, dikelilingi bunga dan matahari yang tersenyum dengan gigi.
"Andin!" Qenna menutup mulut. "Itu kamu yang gambar?"
"Sebagian!" Andin berdiri paling depan di barisan, rambut dikuncir miring, kedua tangan terkepal di depan dada. "Yang matahari anak-anak kecil, yang bayi aku. Kakak jangan lihat K-nya, itu kena angin!"
"K-nya bagus," bohong Qenna, dan Ibu Aisyah menoleh ke arahnya dengan alis terangkat, mengingatkan tentang aturan rumah. Qenna meralat, "K-nya kreatif."
Belasan anak berbaris di halaman dari yang terbesar sampai yang terkecil. Ada yang membawa bunga kertas, ada yang meniup terompet plastik yang bunyinya serak, ada seorang anak sembilan tahun yang berdiri paling ujung dengan wajah sangat serius sambil memegang sebuah boneka kuda lusuh, hadiah yang ia relakan untuk bayi itu. Ketika Qenna turun dari mobil dengan Aksa dalam bedong, mereka semua diam serentak. Lalu satu anak berbisik, cukup keras untuk terdengar: "Kecil banget."
"Dia baru dua hari," jawab Qenna, dan suara itu keluar bergetar. "Dia belum tahu apa-apa. Kalian harus ajari dia pelan-pelan."
"Boleh pegang, Kak?" Andin sudah di sampingnya.
"Duduk dulu, Andin. Di kursi. Tangan di bawah kepalanya."
Andin duduk di kursi plastik di bawah pohon mangga dengan wajah setegang orang yang akan ujian praktik, dan Qenna menaruh Aksa di lengannya. Anak-anak berkerumun. Aksa menggeliat, membuka satu mata, lalu menutupnya lagi dengan sikap seseorang yang tidak terkesan.
"Dia lihat aku, Kak! Dia lihat aku!"
"Dia belum bisa lihat apa-apa, Andin."
"Tapi dia lihat aku."
Tak ada yang tega membantah.
Hans menurunkan tas bintang dan kardus susu dari bagasi, Sindy mengikutinya dengan dua kantong kain berisi bedong cadangan, dan keduanya berdiri di pinggir halaman seperti dua tamu yang takut mengganggu upacara.
"Kak Qenna." Anak sembilan tahun dengan boneka kuda itu menarik ujung gamisnya. Wajahnya serius sekali. "Adik Aksa ayahnya mana?"
Halaman mendadak sunyi. Sindy menahan napas. Hans menunduk menatap sepatunya.
Qenna berlutut pelan, menahan nyeri di bawah perut, sampai matanya sejajar dengan mata anak itu. Ibu Aisyah di teras tidak bergerak. Aturan rumah itu: tidak ada kebohongan.
"Ayahnya ada," ucapnya. "Tinggal agak jauh. Dia belum tahu adik sudah lahir."
"Kenapa belum tahu?"
"Karena Kakak belum bilang."
"Kenapa belum bilang?"
"Karena Kakak masih takut." Ia tersenyum, kecil. "Boleh Kakak takut sebentar?"
Anak itu berpikir lama. Lalu ia mengulurkan boneka kuda lusuhnya. "Ini buat adik. Kalau Kakak takut, kudanya bisa jaga."
Qenna menerima boneka itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang suci. "Terima kasih. Kudanya akan jaga."
***
Siang itu Ibu Aisyah memandikan Aksa di baskom plastik biru di kamar belakang, dan Qenna duduk di tepi kasur dengan satu bantal di bawahnya karena belum sanggup duduk lurus.
"Ibu tidak pernah takut memandikan bayi, ya?" tanya Qenna, setengah menggoda, setengah sungguh-sungguh.
"Takut. Waktu pertama kali memandikan kamu, tangan Ibu gemetar sampai air tumpah ke lantai." Ibu Aisyah tersenyum sambil menunggu air di baskom sedikit mendingin. "Bedanya Ibu tidak bilang. Anak yang digendong orang gemetar jadi ikut gemetar, jadi Ibu pura-pura tenang."
"Pura-pura bisa berhasil?"
"Kalau sering, lama-lama jadi betulan."
Gerakan Ibu Aisyah cepat dan tanpa ragu. Satu tangan menyangga tengkuk, tangan lainnya menciduk air hangat dari ember, mengalirkannya ke dada kecil itu dengan tetesan yang diatur. Aksa menggeliat sebentar, lalu pasrah, matanya bergerak mengikuti wajah yang menunduk di atasnya.
"Perhatikan," kata Ibu Aisyah. "Besok kamu yang melakukannya."
"Aku takut dia licin, Bu."
"Semua ibu takut licin. Itulah sebabnya kita pegang erat, tapi tidak keras." Ia melirik. "Kamu sudah pernah memandikan adik-adik sejak umur sepuluh. Kamu jauh lebih tahu daripada yang kamu pikir."
"Itu adik orang lain, Bu. Ini ...." Qenna tidak menyelesaikan.
"Ini punyamu." Ibu Aisyah mengangkat Aksa dari air dan menyelimutinya dengan handuk. "Dan itu bedanya. Sekarang kamu tahu kenapa Ibu tidak pernah bisa pilih kasih."
Ia mengajarkan cara membersihkan tali pusar tanpa membuatnya basah, cara menepuk punggung, cara membedakan tangis lapar dan tangis tidak nyaman. Qenna mencatat semuanya di kepala, dan sesekali ia mengeluarkan suara kecil ketika sesuatu terasa terlalu nyata. Andin mengintip dari pintu, tidak berani masuk karena jam belajar memandikan itu bukan miliknya.
Aksa disusui dan tertidur. Qenna membaringkannya di boks kuning pucat yang selama ini hanya berisi bedong, dan boks itu kali ini tidak terlihat kosong.
Ia duduk di kursi goyang kecil, memandanginya, dan menyadari bahwa dadanya terasa ringan. Bukan lega, bukan puas. Ringan, seperti seseorang yang selama berbulan-bulan memanggul kantong air dan akhirnya diizinkan meletakkannya. Ia tidak menunggu siapa pun. Tidak ada surat yang harus datang, tidak ada pintu yang harus diketuk, tidak ada keputusan siapa pun yang menentukan apakah ia boleh bahagia.
Untuk pertama kalinya ia bahagia tanpa syarat. Ia hampir takut mengatakannya keras-keras.
***
Malam itu panti sudah sunyi. Ibu Aisyah tidur di kamar sebelah dengan pintu setengah terbuka, dan hanya lampu meja yang menyala di kamar belakang.
Aksa terbangun pukul sebelas dengan rengekan kecil. Qenna mengangkatnya sebelum rengekan itu menjadi tangis, dan menggendongnya ke kursi goyang. Setelah menyusu, bayi itu tidak langsung tidur. Ia menatap lampu dengan mata yang belum bisa fokus, dan Qenna membungkuk, mencium kepalanya yang hangat.
Bau bedak, bau susu, bau kulit kepala yang baru dimandikan. Dan di bawah semua itu, ada sesuatu yang lain.
Ia berhenti.
Itu bukan bau apa pun yang bisa disebut. Hanya hangat, dan akrab, dan menenangkan sampai ke tulang. Bau yang dulu menenangkan mualnya di kantor, ketika semua aroma lain terasa busuk. Bau yang dulu melekat di leher kemeja Rafa, dan yang sempat ia kira hanya sisa parfum yang tersangkut di bis.
Bau Rafa.
Tubuhnya gemetar. Lengannya tetap kokoh menyangga bayi itu, tetapi dari matanya, air jatuh tanpa suara ke bedong. Ia tidak marah. Ia hanya tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan: anak ini lahir membawa jejak seseorang yang tidak tahu bahwa anak itu ada.
Di dunia ini, ada seorang lelaki yang setiap Senin menelepon, menanyakan kabar seorang perempuan, dan tidak pernah menanyakan hal yang paling penting karena ia tidak tahu hal itu ada. Dan kebahagiaan Qenna, yang siang tadi terasa utuh, malam ini bergeser sedikit, dan memperlihatkan sebuah celah di bagian tengahnya.
"Maafkan Mama," bisiknya. Kata Mama itu keluar sendiri, dan ia membiarkannya. "Mama tidak adil. Kamu punya ayah, dan Mama yang menyembunyikannya."
Aksa menguap. Jarinya yang sekecil kancing baju menemukan jari Qenna dan menggenggamnya.
"Ayahmu akan tahu, Nak," ucapnya, tidak lebih keras dari desah. "Tapi tidak malam ini."