"Suaminya tidak ada," kata Ibu Aisyah. "Saya yang mendampingi dia."
Perawat berambut pendek itu menatapnya sepersekian detik, cukup lama untuk menunjukkan bahwa ia mengerti sekaligus cukup singkat untuk tidak bertanya lagi. Ia hanya menulis sesuatu di papan jalan, lalu mengangguk ke rekannya. "Baik, Bu. Kami periksa bukaan dulu. Pendamping boleh dua orang di ruang bersalin."
"Dua?" Ibu Aisyah menoleh ke Armand, yang masih berdiri di balik pintu kaca dengan satu tangan setengah terangkat, seperti orang yang lupa untuk apa tangan itu tadi ia angkat. "Ada Sindy, sebentar lagi sampai. Yang satu Ibu."
"Saya tunggu di lorong, Bu," ujar Armand. Suaranya lebih serak daripada yang ia maksudkan. "Kalau ada yang diperlukan, apa saja, saya di sana."
"Di lorong saja, Nak. Terima kasih sudah datang."
Pintu ruang tindakan terbuka, lalu menelan kursi roda berikut dua perempuan di sisinya. Armand berdiri di tempat itu lebih lama dari yang masuk akal sebelum akhirnya berjalan ke deretan kursi plastik di seberang. Ia duduk, bangkit lagi, lalu duduk lagi.
Sindy tiba tujuh menit kemudian dengan napas memburu, Hans menyusul di belakangnya sambil menjinjing sebuah sandal. Perawat jaga menyuruh Sindy menukar jaketnya dengan baju steril berwarna hijau dan membawanya masuk. Hans menjatuhkan diri di kursi di sebelah Armand dan menatap sepatu serta sandalnya yang tak berpasangan.
"Hans," ucap Armand.
"Ya."
"Diam dulu."
"Siap." Hans mengangkat dua tangan, lalu tidak sanggup bertahan lima menit. "Armand, boleh tanya satu saja? Kalau Ibu Aisyah tidak menyebut namamu di telepon tadi, kamu akan tetap datang?"
Armand menatap pintu ruang tindakan yang tertutup. Di baliknya ada suara-suara yang tak terdengar jelas: langkah, logam beradu, perintah dengan nada rendah.
"Tidak," jawabnya. "Aku akan menunggu di mobil di depan gerbang sampai ada yang menyuruhku pulang."
"Itu sama saja datang."
"Beda," sahut Armand pendek. Hanya itu, dan ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Hans diam. Ia ingin menjawab sesuatu yang pintar, dan tidak ada yang cukup pintar.
***
Pukul empat lewat Qenna tidak lagi memikirkan apa pun selain mengatur napas.
Kontraksi datang tanpa memberi waktu bernegosiasi. Ia terkunci dalam gelombang yang naik, memuncak, lalu turun sebentar saja sebelum yang berikutnya datang menghantam. Tangan kirinya digenggam Ibu Aisyah, tangan kanannya Sindy, dan ia tidak tahu siapa yang meremas lebih keras.
"Bagus, Qen," suara bidan di ujung ranjang. "Satu kali lagi, tahan, tahan. Jangan ngeden dulu."
"Saya tidak kuat ...."
"Kuat. Ibu sudah di bukaan tujuh."
Jam di dinding menunjuk hampir pukul lima. Bidan itu memeriksa ke bawah selimut dengan wajah yang tidak berubah-ubah, dan di sela gelombang sakit Qenna menangkap bagaimana ketenangan itu menular ke seluruh ruangan, kecuali kepada Ibu Aisyah, yang bertahun-tahun menangani anak sakit di tengah malam dan belum pernah terlihat setegang ini.
Dokter kandungan perempuan yang sudah mengenal perutnya sejak USG pertama datang pukul lima kurang, rambutnya masih basah, jas putihnya dikancing salah satu. Ia memeriksa sebentar dan berkata, "Sebentar lagi," seolah itu janji yang bisa ditepati.
Lalu sakitnya menjadi sesuatu yang lain. Bukan hanya di perut dan punggung, tetapi menjalar ke tempat-tempat yang tidak ada hubungannya dengan tubuh. Qenna melihat langit-langit kamar hotel putih, bercak di tisu, koper yang digeret melewati pintu. Ia melihat orang-orang di lobi kantor Rafa yang tertawa sambil mengulang satu kata yang sama. Dan wajah itu, wajah yang ia hafal setiap lekuknya, menoleh sedetik sebelum pintu menutup.
"Rafa," keluarnya. Itu bukan panggilan, hanya erangan yang punya nama.
Sindy menegang di sampingnya.
"Rafa ...! Kamu di mana?" Suaranya pecah, naik, tidak lagi ditahan. "Lihat ini! Lihat apa yang kamu tinggalkan! Kamu enak-enak makan nasi kamu, aku di sini ...! Aku sendirian di sini, dasar pengecut, dasar ...!"
"Marah saja, Nak," kata Ibu Aisyah di telinganya, tenang seperti air. "Keluarkan. Tidak ada yang akan menghakimi kamu di sini."
"Aku benci kamu ...." Kalimat itu patah di tengah, berubah menjadi tangis. "Aku benci kamu, Rafa ...."
Lewat pandangan yang mengabur Qenna melihat Sindy menoleh ke Ibu Aisyah di seberang ranjang, dan perempuan tua itu menggeleng kecil: jangan dijawab, jangan dibantah. Kemarahan itu sudah terlalu lama tertahan di tubuh Qenna yang tidak punya tempat untuk menaruhnya, dan malam ini ia akhirnya mendapat jalan keluar. Sindy mengelap dahi Qenna dengan handuk kecil, matanya sendiri basah.
Azan subuh terdengar dari masjid di seberang rumah sakit, tipis dan panjang, menembus dinding. Dokter mengangkat kepala dari balik maskernya.
"Sekarang, Bu Qenna. Ikuti saya. Satu, dua ...."
Berikutnya hanya tenaga, satu kali, dua kali, dan akhirnya sesuatu yang lepas dari tubuhnya sekaligus. Hening sepersekian detik yang membuat seisi ruangan menahan napas. Lalu terdengar tangis bayi, tinggi, jernih, marah seolah bayi itu juga tidak setuju dengan caranya dunia menyambutnya.
"Laki-laki," kata dokter. "Sehat. Selamat, Bu."
Mereka menaruhnya di dada Qenna, kecil sekali, basah, merah, dengan kepalan tangan seukuran biji salak yang bergerak-gerak di udara. Tangisnya berhenti ketika kulitnya menyentuh kulit ibunya. Seolah ia sudah hafal bunyi detak itu dan hanya perlu memastikan tempatnya tidak salah.
Qenna menatap wajahnya, dan tak ada kata apa pun yang cukup.
"Aksa," bisiknya. "Halo, Aksa."
Ibu Aisyah mencium kening Qenna, lalu kepala bayi itu, dengan bibir yang bergetar dan mata yang akhirnya basah. Sindy tersedu di sampingnya, menutup mulut dengan punggung tangan, tak peduli maskernya basah.
***
Di lorong, Hans sudah tertidur dengan kepala bersandar ke dinding dan mulut sedikit terbuka. Armand tidak. Ia duduk tegak dengan dua siku di lutut dan menatap lantai kotak-kotak cokelat susu, menghitung kotaknya, sudah tiga kali, dan selalu kehilangan hitungan di tempat yang sama.
Ia mendengar tangis itu lebih dulu daripada memahami bahwa itu tangis.
Suara kecil, jernih, menembus daun pintu ruang bersalin yang tidak sepenuhnya tertutup. Seluruh tubuhnya berhenti sekaligus. Tak seorang pun menjelaskan apa yang akan terjadi sesudah ini. Ia hanya merasa lututnya tidak lagi mau menopang apa-apa. Ia turun dari kursi tanpa sengaja dan duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding, dua tangan menutupi wajah.
Hans terbangun karena gerakan itu. "Mand?"
"Aku tidak apa-apa."
"Kamu duduk di lantai."
"Aku tahu."
"Lantai rumah sakit itu ...." Hans berhenti sendiri. Ia merogoh kantong celana, menemukan saputangan lusuh, dan menyodorkannya tanpa komentar. Itu satu-satunya hal yang ia kerjakan dengan benar sepanjang malam.
Armand menerimanya, menekan mata sebentar, dan mengembalikannya. "Terima kasih."
Pintu ruang bersalin terbuka. Ibu Aisyah keluar sambil melepas penutup kepala, wajahnya kuyu dan terang sekaligus. Armand sudah berdiri, entah bagaimana, sebelum perempuan itu sempat bicara.
"Laki-laki, Nak Armand. Sehat. Ibunya juga. Dia sedang dibersihkan dan diberi minum."
Armand mengangguk satu kali. Tidak ada kata yang keluar.
"Duduklah, kamu kelihatan seperti baru mau jatuh." Ibu Aisyah menarik kursi, lalu duduk di seberangnya. "Kata Qenna kamu tidak perlu menunggu sampai siang. Pulanglah, tidur. Kalau dia mengizinkan, besok kamu boleh menjenguk."
"Saya akan menunggu saja di ...."
"Pulang, Nak." Nadanya lembut, tidak ada ruang berdebat. Lalu ia menambahkan lebih pelan, seperti orang yang meletakkan satu benda berat di meja: "Satu lagi. Perawat tadi bertanya nama ayah bayi untuk gelang di tangannya. Qenna belum menjawab."