Empat puluh hari sesudah Rafa berdiri di depan pagar kontrakan yang sudah kosong itu, Qenna terbangun pukul dua lewat sedikit karena perutnya mengeras seperti papan.
Ia tidak langsung bergerak. Ia berbaring miring di kasur kecil kamar belakang, satu tangan di bawah perut, dan menunggu. Sakitnya naik pelan dari punggung, memuncak sebentar, lalu surut seperti air yang ditarik kembali ke laut. Ia menghitung dalam hati. Tiga puluh detik, mungkin lebih.
"Jangan bercanda," bisiknya pada perutnya sendiri. "Kata dokter masih tiga minggu lagi."
Empat puluh hari itu berlalu pelan, dengan beberapa kejadian kecil. Boks kuning pucat di sudut kamar sudah penuh bedong yang disetrika Ibu Aisyah dua kali. Tas bintang dari Mama Ningsih sudah ia kemas ulang tiga kali, dan Andin selalu membongkarnya lagi untuk memastikan gunting kuku berukir huruf A itu masih ada. Armand datang dua kali, dan dua kali pula Ibu Aisyah duduk di kursi sebelahnya di ruang depan sambil merajut, seperti pagar yang sengaja dibuat bisa bicara. Armand bertanya apakah Qenna sehat, lalu pamit dalam seperempat jam. Alin tidak muncul lagi, hanya mengirim satu pesan: "Saya masih menepati janji." Dan tiap Senin pukul sepuluh pagi telepon panti berdering. Ibu Aisyah menjawab, "Qenna sehat," lalu sambungan ditutup dari seberang tanpa permintaan apa pun. Andin yang melaporkan itu, dengan kebanggaan seorang mata-mata kecil.
Kontraksi kedua datang pukul dua lewat sebelas menit. Qenna meringis dan menggigit ujung bantal.
"Bu," panggilnya, nyaris tanpa suara. Lalu lebih keras, "Ibu."
Pintu kamarnya terbuka sebelum ia selesai memanggil. Ibu Aisyah berdiri di ambang dengan daster dan kerudung yang dipasang terbalik, matanya sudah sepenuhnya terjaga.
"Berapa menit jaraknya?"
"Tujuh. Delapan. Aku tidak tahu, Bu. Tadi sakit sekali di punggung."
"Sudah ada air?"
"Belum."
"Bagus." Ibu Aisyah menyentuh dahinya, lalu menyapu rambut Qenna ke belakang dengan gerakan yang sama seperti ketika Qenna masih kecil dan demam. "Nak, ini bukan latihan. Ibu bangunkan yang lain."
Ia membantu Qenna duduk di tepi kasur, lalu berlutut dan mengusap punggung bawahnya dengan telapak tangan yang hangat dan kasar. Qenna ingin berterima kasih, tetapi yang keluar hanya tawa pendek yang pecah jadi rintihan.
"Waktu Ibu bawa kamu dulu, kamu juga datang tidak pada waktunya," kata Ibu Aisyah. "Sudah, tarik napas. Jangan hemat tenaga untuk bicara."
Dalam dua menit panti itu hidup. Lampu-lampu menyala satu per satu, terdengar bunyi lemari dibuka, bunyi sandal yang diseret, suara anak kecil bertanya kenapa semua orang bangun. Andin muncul dengan rambut berantakan dan tas bintang di dua tangan, wajahnya pucat dan bersemangat sekaligus.
"Kak Qenna mau lahiran? Sekarang? Aku panggil taksi!"
"Ke jalan besar, Ndin. Pakai jaket. Dan jangan lari di selokan."
Andin sudah menghilang sebelum kalimat itu selesai.
Ibu Aisyah memegang ponsel dengan dua tangan, mengetik nomor yang ia hafal di luar kepala. "Sindy? Ini Ibu. Ya, sekarang. Belum pecah ketuban, tapi jaraknya sudah rapat." Ia mendengarkan, lalu menambahkan dengan suara datar yang sengaja tidak diberi isyarat apa-apa: "Kalau taksi tidak ada, Ibu butuh mobil. Bilang pada Pak Hans, Ibu minta Pak Armand membawa mobilnya. Ibu yang minta, bukan Qenna."
Qenna mengangkat kepala. Rasa sakit menyusul sebelum ia sempat memprotes, dan ia hanya bisa menarik napas panjang melalui hidung sampai gelombang itu lewat.
"Bu, jangan merepotkan beliau ...."
"Ibu yang repot, bukan kamu. Sekali ini biarkan Ibu."
***
Hans menjawab dering ketiga dengan suara serak seperti orang yang baru dicabut dari kasurnya.
"Sindy? Jam berapa ini? Ada yang terbakar?"
"Pak Hans, Qenna mau melahirkan. Ibu Aisyah minta Pak Armand datang dengan mobil. Cepat, Pak. Dan jemput saya sekalian di depan gang, saya tidak mau menunggu ojek."
Terdengar bunyi selimut diempaskan, lalu sesuatu jatuh. "Aku ... saya telepon Armand sekarang. Sepuluh menit, Sin. Eh, Bu Sindy. Sindy."
"Pak Hans, sepuluh menit itu kebanyakan."
Armand menjawab sebelum dering pertama selesai. Hans hanya sempat bicara dua kalimat. Di ujung sana tidak ada tanya, tidak ada "Yakin?", hanya bunyi kunci diambil dari meja dan pintu yang dibuka tergesa.
"Alamat panti aku hafal," kata Armand.
"Mand, Ibu Aisyah yang minta kamu, bukan ...."
"Aku dengar. Ibu yang minta." Napasnya terdengar cepat, tetapi nadanya masih datar, seperti orang yang menyuruh dirinya sendiri tidak berlari. "Kamu jemput Sindy. Ketemu di rumah sakit."
Sambungan terputus. Hans menatap layar ponselnya yang gelap, lalu menyadari ia sedang mengenakan satu sandal dan satu sepatu. Ia tidak sempat memperbaikinya. Sindy sudah menunggu di mulut gang dengan jaket kebesaran dan wajah orang yang menghitung tiap menit keterlambatannya.
"Tujuh menit," kata Sindy sambil membanting pintu mobil. "Pak Hans, sandalnya beda."
"Nanti saya urus. Pegangan."
***
Taksi tidak ada. Andin kembali dari jalan besar dengan napas terengah dan dua lutut berlumpur.
"Sepi, Bu. Semua lampunya mati. Ada satu yang lewat tapi penuh penumpang."
"Tidak apa-apa, Nak," sahut Ibu Aisyah, dan tepat saat itu lampu sorot menyapu dinding pagar dari luar.
Sebuah sedan hitam berhenti di depan gerbang dengan mesin masih menyala. Armand sudah turun sebelum pintunya benar-benar tertutup. Ia mengenakan kaus dan celana kerja yang pasti diraih dalam gelap, rambutnya basah dan acak, dan ia berhenti dua langkah dari gerbang. Ia tidak masuk lebih jauh.
"Bu," katanya. "Saya boleh bukakan pintu mobil?"
"Silakan, Nak Armand."
Qenna dipapah Ibu Aisyah dan Andin menuruni teras. Di tengah jalan setapak sebuah kontraksi datang, dan ia berhenti dengan dua tangan mencengkeram lengan Ibu Aisyah, wajahnya tertunduk. Armand berdiri di samping pintu mobil, tangannya terkepal di sisi tubuh. Ia tidak mendekat. Ia hanya membuka pintu belakang lebar-lebar dan menaruh telapak tangannya di atap supaya kepala Qenna tidak terbentur.
Selimut dari panti, bantal, tas bintang. Ibu Aisyah masuk lebih dulu dan Qenna menyusul, duduk miring dengan satu tangan menggenggam tangan perempuan yang membesarkannya. Andin berdiri di pagar, menahan air mata karena ia tidak diizinkan ikut.
"Jaga adik-adik, Ndin," pesan Ibu Aisyah dari kaca jendela.
"Iya, Bu. Kak Qenna, nanti kasih tahu namanya Aksa, ya! Kasih tahu aku duluan!"
Mobil bergerak pelan melewati gang, lalu mempercepat laju di jalan besar yang kosong. Armand mengemudi dengan dua tangan di setir dan mata lurus ke depan. Ia tidak menyalakan musik. Ia tidak bicara, kecuali satu kali, ketika lampu merah di perempatan tiga mati dan ia melambat.
"Kalau ada lubang, saya hindari. Katakan kalau terlalu cepat."
"Cepat saja, Pak," desis Qenna. "Cepat ...."
Rasa sakit berikutnya lebih panjang. Qenna menunduk, menempelkan dahi ke bahu Ibu Aisyah, dan dari mulutnya keluar sesuatu yang tidak ia rencanakan: "Mama ...."
Bukan Ibu Aisyah yang ia panggil, melainkan ibu kandung yang meninggal sebelum ia sempat mengenalnya. Ibu Aisyah tahu itu. Tangan yang menggenggamnya mengeratkan diri tanpa sepatah kata.
"Mama, sakit. Qenna takut. Mama ...."
Di kaca spion, Armand melihat itu dan memandang jalan lagi. Rahangnya mengeras. Jarum speedometer naik sedikit, lalu ia tarik kembali ke batas yang aman.
"Sebentar lagi, Qen," ujar Ibu Aisyah di telinganya. "Sebentar lagi."
Ruang gawat darurat rumah sakit itu terang benderang dan dingin. Dua perawat menyambut dengan kursi roda sebelum mesin mobil mati. Seorang di antaranya, berambut pendek dan bersuara tenang, menanyai Ibu Aisyah sambil mendorong kursi itu melewati pintu kaca.
"Sudah berapa jam kontraksinya, Bu? Nama pasien? Dan yang mendampingi, siapa suaminya?"
Tak ada yang menjawab.
Armand berhenti di ambang pintu kaca yang menutup. Ibu Aisyah menoleh kepadanya sesaat, lalu kepada perawat.
"Saya ibunya," katanya.
"Suaminya, Bu?"
Di kursi roda, mata Qenna terpejam. Bibirnya bergerak menahan sakit, dan tidak ada nama yang keluar dari sana.