Rafa datang ke rumah ibunya tanpa menelepon dulu, dan untuk satu kali itu Mama Jamilah yang membuka pintu sendiri.
Perempuan itu mengenakan daster rumah, rambutnya digelung seadanya, dan tanpa riasan wajahnya tampak lebih kecil. Ia menatap anaknya sebentar, lalu mundur setengah langkah tanpa bicara, memberi jalan. Rafa melewatinya dan langsung masuk ke ruang tamu yang sama, di sofa yang sama, tempat Pak Hendro duduk dua belas hari yang lalu.
Ia tidak duduk.
"Aku mau tanya satu hal, Ma. Aku mau jawaban, bukan alasan."
"Rafa, duduk dulu. Mama buatkan teh."
"Surat itu dari mana?"
Mama Jamilah berdiri di ambang ruang tamu dengan satu tangan masih memegang gagang pintu. Rafa melihat jari-jarinya memutih. Waktu berdetak lebih lambat dari biasanya.
"Surat apa."
"Akta cerai itu. Yang Mama kasih ke Pak Hendro. Nomor perkaranya milik perkara waris orang lain. Aku sudah ke pengadilan sendiri, Ma, kemarin. Bukan kirim pengacara. Aku datang dan berdiri di depan loket." Suaranya tidak naik. "Panitera itu lihat nama yang aku ketik dan bilang tidak ada. Tidak ada, Ma, bukan satu perkara pun."
Hening. Dari dapur terdengar air mendidih, dan seseorang mematikan kompor.
"Mama punya kenalan lama di sana," kata Mama Jamilah akhirnya. Ia menutup pintu dengan hati-hati, seperti menutup sesuatu yang tidak ingin ia dengar bunyinya. "Seorang yang pernah Mama bantu waktu anaknya sakit. Dia bilang dia bisa membuat dokumen."
"Dokumen palsu."
"Dokumen yang dibutuhkan." Mama duduk, tegak, tangan di pangkuan, dan nadanya tidak memohon, tetapi juga tidak membela diri. Hanya lelah. "Alin menikah denganmu, Rafa. Pak Hendro menanyakan istrimu yang dulu. Alin bertanya. Mereka berdua mau lihat bukti bahwa kamu bebas. Kamu tidak punya, dan kamu tidak mau mengurusnya. Jadi Mama yang buat."
"Aku tidak pernah minta."
"Kamu tidak pernah menolak." Mata Mama akhirnya menatap lurus. "Kamu tidak mau tahu, Rafa. Itu bedanya. Kamu mau perusahaanmu aman, kamu mau Alin tenang, kamu mau semuanya beres tanpa tangan kamu kotor. Mama yang jadi tangan itu. Seumur hidup."
Kalimat terakhir itu menancap, dan Rafa tahu persis alasannya: sebab tidak ada bagian di dalamnya yang bohong.
Ia menarik napas. Ia mengira akan marah, dan ternyata yang naik ke dadanya adalah rasa malu, dingin dan panjang.
"Ma. Aku berhenti."
"Berhenti apa?"
"Berhenti menjalankan apa yang Mama perintahkan soal Qenna. Foto-foto itu, lelaki berjaket abu yang Mama suruh memotret Qenna. Ya, Ma, aku tahu soal itu juga." Mama Jamilah tidak membantah, dan Rafa mengangguk pelan pada keheningan itu. "Amplop, tamparan, surat. Semuanya. Aku tidak akan menjalankan apa pun lagi atas nama Mama menyangkut dia. Dan kalau Mama mau datang ke rumahku, telepon dulu. Tunggu aku bilang boleh."
"Rumahmu?" Mama Jamilah tertawa kecil, kering. "Rumah yang Alin sudah tinggalkan?"
"Rumahku, Ma."
Mama Jamilah menunduk. Tangannya meremas ujung daster, dan Rafa melihat ibunya kehabisan kalimat.
***
Di dalam mobil yang diparkir di bawah pohon trembesi, Rafa menatap layar ponselnya selama hampir sepuluh menit.
Ia sudah menelepon panti seminggu lalu, dan dua minggu lalu, dan sebelumnya. Selalu sama: menunggu nada sambung, mendengar suara perempuan, bertanya kabar, lalu menutup sebelum bertanya hal yang ingin ia tanyakan. Kali ini ia menekan tombol hijau dan tidak membiarkan dirinya mundur.
Dering ketiga. Suara itu, tenang dan berat oleh usia, jawab, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Bu. Ini Rafa."
Hening. Ia hampir mengira sambungan terputus.
"Nak Rafa," ujar Ibu Aisyah. Tidak marah, tidak hangat. Seperti seseorang yang menyebut nama benda yang pernah ia lihat jatuh dan pecah.
"Bu, saya mau tanya kabar Qenna. Saya ... saya mau bicara dengannya, kalau boleh."
"Qenna sehat."
"Syukurlah." Napasnya tertahan. "Dia ... makan dengan baik, Bu?"
"Lebih baik dari sebelumnya. Itu bukan karena kamu." Tidak ada nada menyakiti, hanya pernyataan. "Mau tanya apa lagi?"
"Bu, saya tahu saya tidak berhak. Saya hanya ingin ...."
"Qenna tidak mau bicara denganmu sekarang." Ibu Aisyah memotong dengan sopan, bukan dengan kasar. "Dia belum siap, Nak. Dan Ibu tidak akan memaksanya."
"Saya mau minta maaf, Bu."
"Maaf yang diminta karena didesak waktu bukan maaf, Nak. Itu tenggat." Rafa terdiam, sebab kata itu tepat sekali. "Ibu tidak tahu apa persoalanmu, dan Ibu tidak bertanya. Tapi kalau kamu laki-laki, tunggu sampai dia mau."
Rafa menutup mata. Kata-kata itu tidak keras, tetapi ia merasakannya seperti pintu yang ditutup perlahan di depan wajahnya, sopan, tidak berdebam, dan karena itu jauh lebih mengerikan.
"Saya tunggu, Bu."
"Kamu bilang begitu sekarang."
"Saya tunggu," ulangnya. "Berapa pun lamanya."
Ibu Aisyah tidak menjawab. Beberapa detik. Lalu, nyaris tak terdengar: "Jaga kesehatanmu, Nak." Sambungan putus.
***
Alamat itu ia temukan di selembar catatan di dalam amplop foto yang Mama simpan di laci meja ruang tamu. Ia mengambilnya tadi sebelum pulang, tanpa izin, dan Mama melihat tetapi tidak mencegah.
Kontrakan itu lebih kecil daripada yang ia bayangkan. Pagar tralis besi setinggi pinggang, hanya diselot. Dinding cat krem yang sudah mengelupas. Tidak ada tirai di jendela. Di sinilah Qenna tinggal ketika ia sendiri duduk di ruang makan rumah baru dan menyantap hidangan pernikahan yang tidak habis.
Sekarang pintunya digembok dari luar, dan di jendela depan tertempel kertas bertulisan tangan: DIKONTRAKKAN.
Rafa berdiri lama di depan pagar. Matahari sore menyorot miring ke teras yang berdebu. Dadanya terasa kosong dan sesak sekaligus.
"Cari siapa, Mas?"
Seorang ibu di seberang gang menyiram tanaman dalam pot, selang di tangan, daster batik, tatapan yang menilai. Dua ibu lain muncul di belakangnya seperti punya naluri kawanan.
"Saya ...." Rafa menunjuk gembok. "Penghuni rumah ini. Perempuan, namanya Qenna. Dia tinggal di sini."
"Oh, Qenna." Ibu itu mematikan keran. Tatapannya bergeser ke yang kedua, yang ketiga, dan kembali. "Sudah pindah."
"Pindah ke mana, Bu?"
"Tidak tahu. Dan tidak mau tahu." Tidak ada kebencian dalam kalimat itu, hanya kelelahan pada urusan orang lain yang tidak lagi relevan. "Mas ini siapanya?"
Rafa membuka mulut. Kata teman, kata suami, kata kenalan, semuanya terasa seperti baju yang bukan ukurannya.
"Saya ... mengenalnya."
"Baru kenal, Mas?" Ibu kedua melipat tangan. "Dulu tidak pernah ada yang datang mencari dia. Pagi berangkat, malam pulang, sendirian saja. Kami sampai heran." Ia menurunkan suara ke arah ibu pertama. "Apalagi sejak ketahuan yang hamil itu ...."
Rafa sedang menatap gembok di pagar, dan suara rendah itu hanyut di belakang telinganya.
"Ibu RT bilang dia janda," sela ibu ketiga.
"Bukan janda. Katanya berpisah."
"Sama saja."
Rafa mendengarkan percakapan tentang dirinya sendiri dari mulut orang yang tidak tahu bahwa lelaki di pagar itulah penyebabnya. Rasanya seperti dibaca keras-keras di hadapan pengadilan yang tidak punya palu.
Ibu pertama menyalakan keran lagi. Ia mengangkat selang dan melanjutkan menyiram, tidak lagi memandangnya.
"Sudah pindah," ulangnya. "Syukurlah."