Pagi di rumah sakit datang dengan bunyi roda troli sarapan dan cahaya kuning yang menembus tirai.
Qenna terbangun dengan leher kaku. Di kursi di samping ranjang, Ibu Aisyah masih duduk dengan kerudung miring dan tasnya di pangkuan, tertidur dalam posisi yang pasti menyakitkan. Sindy tidur di sofa lipat di pojok dengan jaket menutupi muka. Semalam Qenna sempat memprotes, menyuruh mereka pulang, dan dua perempuan itu sama-sama berpura-pura tidak mendengar.
Satu tangannya meraba perut. Tenang. Bukan tenang yang menenangkan, tetapi diam yang membuatnya takut, sampai sesuatu menendang kecil di bawah telapak tangannya. Sekali. Lalu sekali lagi, seolah-olah menjawab.
"Terima kasih," bisik Qenna, tidak jelas kepada siapa.
Dokter berkacamata itu datang pukul tujuh lewat, membawa map dan seorang perawat. Ibu Aisyah terjaga sepenuhnya begitu pintu terbuka, dan Sindy duduk tegak dengan rambut mencuat ke segala arah.
"Saya langsung saja, supaya Ibu tidak tegang," kata dokter itu, menarik kursi. "Bayinya aman. Detak jantung dan ukurannya sesuai, ketuban cukup. Perdarahannya berhenti sendiri, dan itu pertanda baik."
"Lalu?" tanya Qenna, sebab ia mendengar satu kata itu tergantung di udara.
"Plasentanya letak rendah, seperti yang saya sebut di klinik. Belum menutup jalan lahir, dan itu penting. Tapi dengan perdarahan kemarin, saya tidak mau main-main." Dokter itu menatapnya lurus. "Bedrest. Bukan istirahat sambil tetap bekerja, bukan berbaring sebentar lalu kembali ke kantor. Berbaring, berjalan seperlunya di rumah, tanpa angkat apa pun, tanpa naik turun tangga. Berpekan-pekan, sampai plasentanya bergeser naik atau saya bilang boleh."
"Saya ... tidak boleh bekerja, Dok?"
"Tidak."
Satu kata itu jatuh dan Qenna merasakan lantai di bawah ranjangnya miring sedikit. Ibu Aisyah meremas tangannya.
"Berapa pekan?"
"Saya tidak mau berjanji angka. Kita lihat tiap pekan."
"Naik bis ke panti boleh, Dok?" tanya Ibu Aisyah. Suaranya tenang, tetapi jarinya masih mencengkeram tangan Qenna. "Atau dijemput saja?"
"Dijemput. Duduk di bis yang berguncang dua jam sehari itu persis yang saya hindari." Dokter itu menulis sesuatu di map. "Kamar di panti, apakah di lantai dasar?"
"Kamar belakang, Dok. Satu lantai. Ada anak-anak yang akan menjaganya, mereka terlalu banyak malah."
"Bagus. Terlalu banyak yang menjaga adalah masalah yang saya senang dengar." Dokter itu berdiri, dan baru di ambang pintu ia menoleh. "Ibu Qenna. Anak ini sudah bertahan melewati kemarin. Ia jauh lebih kuat dari yang Ibu kira. Tugas Ibu sekarang hanya satu, diam."
Pintu menutup. Sindy mengembuskan napas panjang seperti orang yang baru keluar dari air.
***
Armand datang pukul sembilan dan berhenti di depan pintu yang terbuka, tidak masuk.
"Boleh saya masuk?"
Qenna menoleh dari ranjang. Pertanyaan itu, sekali lagi, dan sekali lagi ia merasakan semacam hangat yang tidak ingin ia namai. "Masuk, Pak."
Ia berdiri di kaki ranjang, jasnya diganti kemeja tanpa dasi, dan lingkaran gelap di bawah matanya menyiratkan ia juga tidak tidur. Di belakangnya Hans membawa amplop cokelat dan sekantong buah, dan mengangkat tangan sedikit dengan wajah minta ampun.
"Dokter sudah bilang?"
"Sudah." Qenna menggenggam selimut. "Saya minta tagihan, Pak. Semalam saya belum sempat bertanya. Berapa yang harus saya bayar?"
Armand dan Hans bertukar pandang sepersekian detik, dan Qenna menangkapnya. Ia sudah terlalu lama bekerja di gedung itu untuk tidak mengenali pandangan dua lelaki yang sedang menyembunyikan sesuatu yang manis.
"Tidak ada," ujar Armand.
"Pak."
"Qenna, dengarkan dulu." Suaranya tenang, nyaris kaku. "Karyawan yang sakit di jam kerja, di lingkungan kantor, ditanggung perusahaan. Itu kebijakan. Bukan keputusan saya hari ini, dan bukan hanya untuk kamu. Hans bisa tunjukkan nomornya."
"Nomor pasal sembilan, ayat dua," kata Hans cepat, mengeluarkan selembar kertas dari amplop. "Terbit dua tahun lalu setelah satpam kita jatuh dari tangga."
Qenna membaca kertas itu pelan-pelan. Tanda tangan direktur di sudut, cap perusahaan, tanggal. Benar-benar kebijakan, bukan karangan. Tetapi ia juga tahu surat edaran ini tidak mencantumkan nama Qenna dan tidak menyinggung rumah sakit mana pun.
"Kalau ini bukan kebaikan pribadi," ujarnya perlahan, "saya mau catatannya tertulis. Bahwa saya dirawat atas kebijakan kantor, bukan dari saku Bapak. Surat dari bagian HR, dengan cap."
Armand tidak langsung menjawab. Ia menatap Qenna lama, mungkin sedang menimbang apakah perempuan keras kepala ini pantas dimarahi atau dikagumi, dan sesuatu di wajahnya bergerak, antara ingin tersenyum dan ingin mengeluh.
"Hans."
"Siap, Pak. Surat sore ini."
"Dengan cap," tambah Qenna.
"Dengan dua cap, kalau perlu," jawab Hans, dan Ibu Aisyah di sisi ranjang mengeluarkan bunyi kecil yang bisa saja tawa.
"Satu lagi," ujar Armand, kali ini kepada Qenna saja. "Posisimu tetap ada. Hans sudah mengatur penggantian sementara. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun selain yang dikatakan dokter. Itu bukan permintaan saya sebagai atasan."
"Lalu sebagai apa, Pak?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, dan Qenna segera menyesal. Armand menelan ludah. Hans mendadak sangat tertarik pada kantong buah di tangannya.
"Sebagai orang yang kemarin membawa kamu ke sini dan tidak mau melakukannya lagi dalam keadaan begitu," jawab Armand akhirnya, jujur dan kikuk. "Itu saja."
***
Di lorong, Ibu Aisyah menunggu sampai Hans masuk ke lift dan Sindy pergi ke kantin. Baru ketika Armand hendak pamit, ia menyentuh lengan jasnya.
"Nak Armand."
Armand berhenti. Ibu Aisyah berdiri di hadapannya, kecil dan tegak, kerudungnya rapi lagi dan matanya jernih meski semalaman tidak tidur.
"Terima kasih sudah membawanya kemarin. Ibu tidak akan lupa." Ia menarik napas. "Dan karena Ibu tidak akan lupa, Ibu bicara terus terang. Jaga batas, Nak. Dia masih istri orang."
Lorong itu sunyi sebentar. Di kejauhan seorang pasien memanggil perawat.
Armand tidak membela diri. Ia hanya mengangkat wajah, dan Ibu Aisyah melihat bahwa kalimat itu bukan tamparan baginya, melainkan sesuatu yang sudah ia ucapkan berkali-kali pada dirinya sendiri.
"Saya tahu, Bu."
"Ibu tidak bilang kamu orang jahat."
"Saya tahu, Bu." Ia menelan sesuatu. "Karena itu saya bertanya sebelum masuk, dan karena itu saya akan pergi sekarang."
Ibu Aisyah memandangnya sesaat lagi, lalu melepaskan lengan jasnya. "Hati-hati di jalan."
***
Siang itu rumah sakit sepi. Ibu Aisyah pulang sebentar ke panti untuk mengambil pakaian ganti dan memberi tahu anak-anak, dan Hans sudah mengantarkan surat dari bagian HR, lengkap dengan dua cap yang ia janjikan, satu di atas nama perusahaan dan satu lagi di atas nama bagian personalia.
Surat cuti sakit itu hanya selembar, dengan kop rumah sakit dan tulisan tangan dokter yang miring. Qenna memandangi tanda tangannya sendiri yang ia bubuhkan di bawah. Terlihat kecil. Terlihat seperti tanda tangan anak yang sedang diperiksa guru.
"Sin," katanya, tidak mengangkat kepala. "Gaji bulan depan."
"Kebijakan cuti sakit, Qen. Tadi Hans bilang. Ada ketentuannya."
"Berapa persen?"
"Aku tidak tahu persisnya."
"Berarti tidak penuh." Suaranya pecah di ujung. "Aku bayar apa, Sin? Ibu Aisyah tidak pernah minta uang kamar, tapi anak-anak makan tiga kali sehari. Aku belum beli apa pun untuk bayi ini. Boks dibuatkan orang. Selimut diberi orang. Susu dikirim orang. Aku ini ...."
Ia tidak sanggup meneruskan kalimat. Sindy meletakkan gelas, duduk di tepi ranjang, dan menarik kepala Qenna ke bahunya tanpa berkata apa-apa. Qenna menangis tanpa suara, bahunya naik turun, dan bahu Sindy basah.
"Sudah," ujar Sindy lama kemudian, mengusap rambutnya. "Dengar. Popok pertama aku yang beli. Sudah aku pesan, dua bungkus, ukuran newborn. Jangan membantah."
"Sin ...."
"Aku tidak minta izin. Aku cuma lapor."
Qenna tertawa di antara isaknya, tawa jelek yang membuat hidungnya berbunyi, dan di dalam perutnya Aksa menendang sekali lagi, seolah ikut ingin bicara.