Lima pekan sudah Qenna berbaring menghafal retak di langit-langit kamar belakang, dan pagi ini, untuk keperluan kontrol, ia akhirnya diizinkan duduk tegak di kursi tunggu klinik tanpa dimarahi siapa pun.
Sindy mengambil cuti setengah hari untuk menemaninya. Ia duduk di sebelah, memangku tas Qenna dan tas dirinya sendiri, dan sejak naik taksi tidak berhenti memperhatikan tangan Qenna seperti seorang perawat yang takut pasiennya tiba-tiba melompat.
"Aku tidak akan jatuh, Sin."
"Aku tidak bilang kamu akan jatuh."
"Kamu menatap tanganku terus."
"Tanganmu bagus." Sindy mengalihkan pandang ke poster ibu menyusui di dinding. "Kuku kamu rapi."
Nama Qenna dipanggil. Dokter berkacamata itu sudah menunggunya di ruang periksa, dan kali ini senyumnya lebih lebar daripada di ruang rawat lima pekan lalu. Layar menampilkan gambar yang kali ini berbeda: bayi itu sudah memenuhi hampir seluruh layar, kepalanya miring, satu tangan mengepal di dekat pipi.
"Lihat ini." Dokter menggerakkan alat itu. "Plasentanya sudah bergeser naik. Tidak lagi di tempat yang saya khawatirkan. Belum sempurna, tapi jauh dari yang tempo hari. Ibu boleh beraktivitas ringan. Berjalan di sekitar rumah, duduk, bahkan sesekali ke teras. Tidak naik bis, tidak angkat berat, tidak berdiri lama."
"Boleh kerja, Dok?"
"Belum. Dua pekan lagi, kita bicarakan." Dokter itu tersenyum melihat wajahnya. "Gaji dibayar sesuai kebijakan cuti sakit, bukan? Atasan Ibu menelepon klinik ini dua kali minggu lalu hanya untuk memastikan Ibu patuh."
Qenna menoleh kepada Sindy, yang mendadak sibuk mengamati langit-langit. "Telepon dua kali?"
"Mungkin yang menelepon Pak Hans," ujar Sindy.
"Dokter tadi bilang atasan saya."
"Mungkin Hans menelepon atas nama atasan."
Qenna tidak menjawab. Selama lima pekan itu juga ada Citra yang datang membawa kabar kantor dan pisang goreng, ada Mama Ningsih yang mengirim bubur lewat sopir, ada Hans yang memastikan gajinya masuk tepat waktu. Semuanya baik. Tetapi sepanjang jalan pulang di dalam taksi, melewati deretan ruko yang sama, ia tidak bisa berhenti menghitung dalam kepalanya. Lima pekan. Selama itu ia mendapat kiriman buah dari kantor, vitamin yang diganti tiap pekan, pesan singkat lewat Sindy, selalu sama bunyinya: Pak Armand menitip tanya, sehat? Tiga puluh lima hari, dan satu kali pun lelaki itu tidak datang ke panti.
Dan ia menunggu. Itu yang tak ia sangka. Setiap kali pagar panti berderit, setiap kali ada derum mobil berhenti di depan, ada sesuatu yang naik ke dadanya dan turun lagi dengan malu.
"Sin."
"Hmm."
"Kenapa dia tidak pernah datang?"
Sindy menarik napas yang terdengar seperti orang yang sudah lama menunggu pertanyaan itu. Ia menatap jendela, bukan Qenna.
"Karena Ibu Aisyah memintanya di rumah sakit. Hans yang cerita. Pak Armand mendengarnya di lorong, 'jaga batas', dan sejak itu dia tidak mau datang kalau tidak diundang. Hans sudah mengajaknya tiga kali. 'Sekadar menjenguk, Armand, bawa buah saja.' Tiga kali ditolak." Ia menoleh. "Katanya, 'Aku tidak mau jadi alasan Qenna merasa tidak aman di rumahnya sendiri.'"
Qenna terdiam. Taksi berguncang melewati lubang, dan ia memegang perutnya.
"Aku tidak minta dia menjauh," katanya akhirnya, nyaris tanpa suara.
"Kamu juga tidak minta dia datang."
"Itu ...." Ia berhenti. Sindy benar, dan itu menyebalkan.
"Qen, aku tidak sedang membela siapa-siapa." Sindy menggeser duduk, suaranya melunak. "Aku cuma tidak mau kamu menyalahkan dirimu karena menunggu. Menunggu orang baik itu bukan dosa."
"Dosa atau bukan, aku tidak boleh."
"Kenapa?"
Qenna menatap jalanan yang bergerak mundur di luar jendela. Ia tidak menjawab, sebab jawabannya sudah ia bawa ke mana pun sejak dua bulan lalu, dalam bentuk satu nama yang tidak mau ia sebut.
***
Di ruang direktur, Armand berdiri di depan jendela dengan tangan di saku, memandangi gedung-gedung yang itu-itu juga.
"Mand." Hans masuk tanpa mengetuk, seperti biasa kalau tidak ada tamu. "Kontrol Qenna hari ini. Sindy bilang plasentanya sudah naik. Dia boleh jalan-jalan ringan."
Armand tidak menoleh. Tetapi bahunya turun, lambat dan nyaris tak kelihatan, seperti orang yang menahan napas lima pekan lalu dan baru boleh melepasnya.
"Syukurlah."
"Aku berpikir, kalau kamu mau ...."
"Tidak."
"Aku belum selesai bicara."
"Kamu mau mengajakku menjenguk. Itu keempat kalinya." Ia menoleh dan di wajahnya ada senyum yang lelah. "Jawabannya sama, Hans. Ibu Aisyah bilang jaga batas, dan aku mau menjaganya dengan benar, bukan dengan alasan yang gampang."
"Alasan apa yang gampang?"
"Membawa buah."
Hans mengangkat alis, lalu menggeleng sambil tersenyum miring. "Kamu itu aneh, Armand. Orang biasanya mencari-cari alasan untuk datang. Kamu mencari-cari alasan untuk tidak."
"Aku tidak mau jadi lelaki yang datang karena bisa," ujar Armand pelan. "Kalau suatu hari aku datang, aku mau itu karena ada yang memintaku."
Ponsel di meja bergetar. Armand melirik layar sekilas dan mengerutkan alis: nomor yang ia tidak simpan, tetapi ia hafal tiga angka belakangnya. Nomor telepon panti.
***
Di halaman belakang panti, anak-anak menggelar tikar di bawah pohon mangga dan Andin membaca keras-keras dari buku dongeng berhalaman lusuh. Qenna duduk di kursi rotan yang sengaja dipindahkan Ibu Aisyah ke tempat teduh, dengan satu bantal di punggung dan segelas air jahe di tangan.
"Dan sang putri berkata, 'Aku tidak mau menunggu pangeran!'" Andin menaikkan suara dramatis. "'Aku mau pergi sendiri ke menara!'"
"Kok tidak mau nunggu?" tanya anak sembilan tahun yang duduk bersila paling depan, rambutnya dikepang dua. "Kan pangeran yang jemput."
"Karena pangerannya lama, Dik."
"Pangeranku tidak lama," sela anak lain. "Pangeranku tukang tahu bulat."
Tawa meledak. Qenna ikut tertawa, memegang sisi perutnya, dan anak berkepang itu bergeser mendekat lalu menempelkan telinga ke perut Qenna tanpa permisi.
"Kak Qenna. Adik bayi bangun."
"Dia memang tidak pernah tidur kalau kalian ribut."
"Dia nendang aku!"
"Itu artinya dia suka kamu."
Anak itu tersenyum lebar. Qenna mengusap rambutnya, dan di bawah pohon mangga itu, di antara tawa dan buku dongeng dan bau jahe, ia menyadari bahwa hari-hari terbaring ini tidak seburuk yang ia ratapi. Ada yang diam-diam menjaganya dari segala arah. Hanya satu arah yang ia biarkan kosong, dan ia tahu persis arah mana.
***
Malam hari, lampu kamar belakang sudah redup. Qenna duduk bersandar di ranjang dengan buku tulis bergaris yang diberikan Ibu Aisyah dulu, sampulnya bergambar kucing, separuh halamannya masih kosong. Ia jarang menulis. Menulis membuat semua hal menjadi nyata dan tak bisa ditarik kembali.
Pena di jarinya bergerak lambat.
"Hari ini aku menunggu seseorang yang tidak pernah kuundang."
Ia mencoret kalimat itu, tetapi garis coretan tipis membuat tulisannya tetap terbaca. Ia menghela napas dan menulis di bawahnya, huruf-huruf kecil dan rapat seperti orang yang sedang mengingatkan diri.
"Aku masih istri orang. Tidak peduli apa kata kertas dari Mama Jamilah. Rafa tidak pernah mengucapkannya, dan aku tidak berhak merasa apa pun terhadap siapa pun."
Ia memandangi kalimat itu sampai matanya perih, lalu menutup pena, menaruh buku di nakas dalam keadaan terbuka karena terlalu lelah menutupnya, dan mematikan lampu.
Pagi hari, Ibu Aisyah masuk membawa sarapan. Buku bergambar kucing itu masih terbuka di nakas, halamannya menghadap ke atas dan tulisan di dalamnya terlihat jelas dari tempat ia berdiri. Ia menaruh nampan. Ia menatap buku itu, tidak lama. Lalu ia menutupnya dengan satu jari, pelan, tanpa membaca sebaris pun.
Qenna terbangun tepat pada saat itu. Matanya pertama menangkap buku yang sudah tertutup, lalu wajah Ibu Aisyah.
"Bu ...."
"Ibu tidak membaca," ujar Ibu Aisyah. "Dan Ibu tidak akan bertanya." Ia duduk di tepi ranjang, merapikan selimut. "Tapi Ibu mau beri tahu satu hal. Selasa depan panti ini mengadakan syukuran kecil, bersyukur kamu dan bayimu selamat. Ibu sudah mengundang satu orang."
"Siapa, Bu?"
Ibu Aisyah hanya tersenyum, mengangkat nampan, dan menaruhnya di pangkuan Qenna.