Sudah tiga hari, dan mata Mama Jamilah yang menyapu trotoar itu masih menempel di kepala Qenna.
Ia tidak menceritakannya kepada siapa pun. Tidak kepada Ibu Aisyah, tidak kepada Sindy. Tiga malam berturut-turut ia berbaring menghadap dinding kamar belakang, satu tangan di atas perut, dan mendengarkan bunyi rumah panti yang tidur, sambil bertanya-tanya apakah tiang listrik sebesar itu cukup untuk menyembunyikan seorang perempuan dengan perut yang sudah menonjol di balik blus.
Pagi ini, di pantry dekat ruang rapat, ia mencuci cangkir dengan air saja. Hans sudah melarang sabun yang berbau tajam, jadi sabun cair itu disimpan di rak paling atas, tempat tangan Qenna tak sampai tanpa kursi. Dari jendela kecil ia melihat deretan atap gedung di seberang jalan. Salah satunya berwarna biru tua, seperti baju yang dipakai Mama Jamilah.
"Qen, kamu melamun lagi," ujar Citra dari ambang pintu, membawa nampan gelas kotor dari ruang rapat.
"Aku tidak melamun."
"Cangkir itu sudah kamu bilas empat kali."
Qenna menunduk. Memang benar. Ia meletakkan cangkir di rak, mengeringkan tangan pada celemek, dan pada saat itulah ia merasakannya: tarikan tajam di bawah perut, seperti kain yang diremas dari dalam. Ia menahan napas. Tarikan itu mereda, lalu datang lagi, lebih dalam.
"Cit," katanya. Suaranya aneh, kecil. "Aku mau duduk."
Citra menjatuhkan nampan ke meja begitu saja. Gelas-gelas berdenting. Ia menyambar lengan Qenna dan menuntunnya ke kursi, dan ketika Qenna menunduk melihat ke bawah, ada noda tipis kemerahan di kain roknya.
"Dokter bilang, kalau ada perdarahan sedikit pun, langsung datang," bisiknya. Lidahnya kelu. "Jangan menunggu besok."
"Aku panggil Pak Hans." Citra sudah berlari.
***
Armand baru saja meletakkan pena ketika Hans membuka pintu ruang rapat tanpa mengetuk, wajahnya pucat.
"Qenna. Pantry. Dia berdarah."
Armand tidak menjawab. Ia sudah melewati Hans, melewati meja sekretaris, melewati dua karyawan yang menoleh kaget, dan baru melambat ketika sampai di pintu pantry. Qenna duduk di kursi plastik dengan wajah kelabu. Kedua tangannya memegang perut seolah itu satu-satunya benda yang harus ia selamatkan. Citra berjongkok di sisinya sambil menggenggam botol air.
Mata mereka bertemu.
Armand sudah menyiapkan seribu hal untuk dikatakan, tetapi yang keluar justru kalimat yang ia janjikan pada dirinya sendiri sejak pertama kali memapahnya dari lift.
"Boleh saya bantu?"
Qenna menatapnya. Lama, atau mungkin hanya dua detik. Ia mengangguk.
Armand membungkuk, meletakkan satu lengan di bawah lutut dan satu di punggungnya, dan Qenna ternyata lebih ringan dari yang ia kira. Ia mencium aroma minyak kayu putih di rambutnya. "Hans, mobil. Citra, tolong ambil tasnya, dan hubungi Sindy."
"Pak," bisik Qenna di dadanya. "Maaf."
"Jangan minta maaf. Tarik napas pelan-pelan."
Di mobil, ia menyalakan ponsel di dasbor dengan satu tangan dan menekan nama Dokter Bram. Lelaki itu menjawab pada dering kedua, dan Armand mendengar suaranya berubah ketika ia mendengar kata plasenta.
"Bawa ke rumah sakit yang ada dokter kandungannya, Pak. Saya telepon dokter yang memeriksanya hari Sabtu, beliau praktik di sana juga. Jangan ngebut. Pasien tidak boleh terguncang."
"Saya tahu."
"Maaf, Pak, tapi Bapak menyetir seperti sedang dikejar polisi."
Armand melihat jarum speedometer dan menurunkan kecepatan. Di kursi belakang, Citra duduk memangku tas dan Qenna berbaring dengan kepala di atas bantal kecil yang diambil Hans dari ruang rapat. Qenna memejamkan mata, bibirnya bergerak tanpa suara. Armand melirik kaca spion dan mendengar kata yang ia ucapkan berulang-ulang: Aksa, Aksa, Aksa.
Hans, yang duduk di sebelahnya dengan ponsel menempel di telinga, berbicara pelan. "Sindy, iya. Jangan teriak. Kabari Bu Aisyah, tapi jangan bilang berdarah. Bilang saja kontrol mendadak. ... Iya. Rumah sakit yang dekat kantor."
Armand mencengkeram setir. Ia hampir membentak: bilang yang sebenarnya, Ibu Aisyah berhak tahu. Tetapi dari kaca spion Qenna membuka mata dan menggeleng sedikit, sebuah isyarat kecil yang cukup jelas.
***
Langit-langit ruang periksa itu putih dan terlalu terang.
Qenna berbaring dengan sabuk elastis melingkar di perutnya dan kabel tipis yang menjalar ke mesin. Seorang perawat muda memasang selang infus di punggung tangannya, pelan, sambil bicara hal-hal kecil yang sengaja dibuat biasa: cuaca, lalu lintas, kantin yang jual bubur ayam enak di lantai bawah. Qenna menjawab sekenanya tanpa mendengar. Telinganya hanya menunggu satu bunyi.
Lalu bunyi itu datang. Cepat, riuh, seperti kuda kecil berlari di dalam sebuah gua.
"Itu dia," kata perawat itu. "Seratus empat puluh. Bagus sekali."
Qenna menutup mata dan air matanya mengalir ke pelipis, masuk ke rambut. Dokter berkacamata itu masuk dan memeriksa layar, lalu menekan perutnya dengan dua jari dengan sangat hati-hati.
"Sakit di sini?"
"Tidak lagi, Dok." Suaranya serak. "Dok, apa ini salah saya? Tiga hari ini saya ... saya tegang sekali. Saya jalan terlalu jauh Sabtu lalu."
"Plasenta rendah tidak muncul karena Ibu jalan kaki, apalagi karena Ibu cemas." Dokter itu menarik kursi dan duduk sejajar dengannya. "Kadang ia memang begitu, ada yang naik sendiri, ada yang mengeluarkan bercak seperti tadi. Ibu datang tepat waktu. Itu satu-satunya yang penting."
Qenna menelan ludah, dadanya masih sesak. Ia teringat tangan Mama Jamilah yang menunjuk-nunjuk di depan butik, dan ia merasa konyol sekaligus takut: perempuan itu tidak melihatnya, tidak tahu apa pun, tetapi tiga hari ini ia membiarkannya masuk ke dalam kepalanya dan menetap di sana.
"Pak yang tadi menggendong Ibu," ujar dokter itu, nadanya datar saja, "duduk di lorong sejak tadi."
"Dia atasan saya, Dok."
"Saya tidak bertanya." Sudut bibir dokter itu bergerak sedikit. "Istirahat. Saya akan bicara pada beliau."
***
Rumah sakit itu berbau antiseptik dan teh hambar.
Armand ditinggalkan di lorong dengan tas Qenna di tangan, satu tas jinjing murah, dan ia memegangnya seperti benda yang bisa pecah.
Ia duduk di bangku besi. Lalu berdiri. Lalu duduk lagi. Tangannya gemetar, dan ia memandangi jari-jarinya sendiri seakan itu milik orang lain.
Tiga tahun ia menikah dengan Siska. Pernah Siska demam tinggi dua hari, dan Armand mengantarnya ke dokter, menunggu di luar, membayar, mengantar pulang. Itu semua ia kerjakan dengan baik, rapi, tanpa getar sedikit pun. Dulu ia menyangka itu artinya ia lelaki yang tenang. Sekarang ia tahu itu artinya lain.
Tas di pangkuannya bergetar. Ponsel Qenna. Di layar muncul nama Ibu, dan Armand tidak berani menyentuhnya.
Pintu ganda terbuka. Dokter kandungan berkacamata yang Sabtu lalu mengatakan "laki-laki, Bu" keluar sambil menurunkan masker. Armand berdiri terlalu cepat dan kepalanya berdenyut.
"Dokter."
"Keluarga pasien?"
"Saya atasannya." Kata itu terasa keliru di mulutnya, kecil dan dingin.
Dokter itu menatapnya sebentar, tidak menghakimi. "Pasien stabil, detak jantung bayi bagus, perdarahannya sudah berhenti. Tapi saya ingin ia bermalam di sini. Hasil lengkap baru bisa saya bacakan besok pagi, sesudah pemeriksaan ulang."
"Bayinya ...."
"Bayinya baik. Itu yang bisa saya katakan sekarang." Ia menutup map. "Besok pagi ada anggota keluarga yang harus menandatangani. Siapa yang bisa dihubungi?"
Armand menyerahkan tas itu padanya, dengan ponsel yang masih bergetar. "Ibunya. Ibu Aisyah. Dia sedang di jalan."
"Dan suaminya?"
Lorong itu sunyi. Di ujungnya, seorang perawat mendorong troli yang rodanya berdecit.
"Tidak ada," jawab Armand pelan. "Hanya kami."
Dokter itu mencatat sesuatu dan pergi. Armand kembali duduk. Dari ujung lorong terdengar sandal jepit berlari dan suara perempuan memanggil nama Qenna dengan napas putus-putus. Itu Ibu Aisyah, dan di belakangnya Sindy menyusul dengan sepatu yang sebelah belum terikat. Ia berdiri menyambut mereka, dan sebelum sempat membuka mulut, Ibu Aisyah sudah memegang kedua lengannya.
"Anak saya?"
"Stabil, Bu. Bayinya baik. Dia diminta bermalam."
Ibu Aisyah menutup mata, bibirnya bergetar, lalu melepas lengan Armand perlahan seolah baru sadar apa yang dipegangnya. Armand menunduk. Ia tidak tahu kata mana dari kalimatnya tadi yang lebih dulu membuat dadanya sakit: tidak ada, atau kami.