Armand duduk. Ia tidak bisa menolak perintah ibunya ketika ayahnya ada di ranjang yang sama, tertawa kecil di antara bantal.
"Dua kali," ulangnya. "Mama datang ke panti, dan Mama tidak bilang."
"Mama tidak minta izin, karena Mama tahu jawabanmu." Mama Ningsih duduk di kursi yang tadi ia tinggalkan, tangan terlipat rapi di pangkuan. "Mama membawa jeruk. Dan Mama mengupasnya sendiri, supaya Bu Aisyah tahu Mama bukan datang untuk memerintah."
"Mama tidak bisa mengupas jeruk."
"Karena itu Qenna tertawa."
Papa Galih terbatuk dan menahan dadanya, tetapi matanya berkilat. "Ning, kamu tidak cerita bagian itu semalam."
"Mama simpan untuk hari Papa sehat lagi," balas Mama Ningsih datar, dan Armand menatap kedua orang tuanya yang sedang saling menggoda seperti pasangan muda yang lupa mereka sedang berada di kamar orang sakit. Ia memutuskan ia tidak bisa marah.
"Apa kata dia, Ma?"
"Dia bilang tidak akan menjadikan siapa pun tameng." Mama Ningsih memandangnya. "Mama meminta itu, Nak, dan Mama tidak menyesal. Dan Mama juga bilang dia harus menunggu Pak Dimas membaca surat yang dia terima. Pak Dimas baru bisa sesudah anaknya lahir."
Armand menarik napas. Lalu, anehnya, ia tersenyum. Tidak lebar, tetapi cukup untuk membuat kedua orang tuanya saling melirik.
"Dia menolak uang Armand, menolak mobil Armand, menolak tawaran kamar sewa Armand. Dan Mama datang membawa jeruk, dan dia tertawa." Ia mengusap dahi. "Ma, Armand cemburu pada jeruk."
***
Sabtu pagi, dokter kandungan itu menggerakkan alat di atas perut Qenna, dan layar kecil di sudut ruangan memperlihatkan bentuk yang sangat jelas.
Bukan gelembung lagi. Ada kepala bulat, tulang hidung yang mungil, jari yang membuka dan menutup. Qenna menggigit bibir. Di sampingnya, Ibu Aisyah memegang tangannya dengan kedua tangan, dan kuku jemari Ibu Aisyah menekan ke punggung telapaknya tanpa ia sadari.
"Dua puluh minggu," ujar dokter itu. Perempuan setengah baya berkacamata, suaranya hangat. "Semua ukuran sesuai. Detak jantung bagus. Ini kepala, ini tulang belakang, dan ini ...." Ia menunjuk dengan ujung kursor. "Laki-laki, Bu."
"Laki-laki," ulang Qenna.
"Laki-laki."
Ibu Aisyah mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokan, antara tawa dan isak. Qenna menoleh padanya, dan wanita itu menutup mulut dengan satu tangan, mata berkaca-kaca di balik kerudung krem.
"Ada satu hal yang perlu kita pantau." Dokter itu menggeser kursornya ke bagian bawah. "Plasentanya agak rendah. Belum mengkhawatirkan, banyak yang naik sendiri sesudah beberapa pekan. Tapi saya minta Ibu menghindari angkat berat, jangan berdiri terlalu lama, dan kalau ada perdarahan sedikit pun, langsung datang. Jangan menunggu besok."
"Baik, Dokter."
"Saya tahu Ibu bekerja. Tolong kurangi."
"Saya sudah dikurangi." Qenna tersenyum kecil. "Atasan saya sangat keras kepala soal itu."
Dokter itu mengangkat alis dengan sopan. "Ayahnya tidak ikut hari ini?"
"Tidak, Dok." Qenna menjawab cepat, tetapi tidak kaku. "Hanya kami berdua. Ibu saya yang menemani."
"Baik." Dokter itu mencatat sesuatu, dan tidak bertanya lebih jauh.
Di ruang tunggu klinik, sementara Ibu Aisyah menebus vitamin, Qenna duduk memeluk map berisi cetakan foto USG. Satu gambar hitam putih, kepala menghadap ke samping. Ia menyentuhnya dengan ujung telunjuk. Sekian pekan ia hanya punya perasaan, dugaan, gelembung. Sekarang ia punya wajah, kecil dan buram, tetapi miliknya.
Ibu Aisyah kembali dan duduk di sebelahnya. "Sudah ada nama?"
"Belum, Bu."
"Mau Ibu bantu cari? Atau mau tanya ...."
"Tidak." Qenna menggeleng. "Aku tidak mau bertanya pada siapa pun."
Hening. Qenna menatap gambar itu lagi, lama.
"Aksa." Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seperti ia sudah menyimpannya sejak lama. "Aku baca di buku nama bayi di rak klinik ini tadi pagi, waktu menunggu giliran. Katanya artinya mata. Aku ingin dia punya mata yang melihat dengan jelas. Tidak seperti ibunya."
"Aksa," ulang Ibu Aisyah pelan. "Aksa Amanda?"
"Aksa saja dulu." Qenna tersenyum, lemah dan sungguh-sungguh. "Sisanya nanti. Yang ini aku yang pilih."
Ibu Aisyah mengusap kepalanya, dan tidak berkata apa-apa. Ia tidak perlu.
***
Sindy menunggu di lobi klinik dengan kardus besar di pelukannya, napasnya sedikit memburu, rambutnya sedikit berantakan seperti baru berlari dari halte.
"Qen! Sudah selesai? Gimana? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
Sindy menjerit pelan, lalu menutup mulut dan menoleh kikuk ke arah resepsionis. Ia menurunkan kardus di kursi dan memeluk Qenna dengan kedua lengan. "Aku sudah menduga! Aku bilang dari bulan lalu, perutmu bentuknya begitu!"
"Bentuk perut tidak bisa ditebak, Sin."
"Bisa, kalau yang menebak sahabatmu." Sindy mengusap matanya dan mendorong kardus itu pelan ke arah Qenna. "Ini dari kantor. Susu untuk ibu hamil. Bagian HR yang kirim, kebijakan baru karyawan hamil, jadi bukan dari siapa pun secara khusus."
Qenna memandang kardus itu. Tidak ada catatan, tidak ada nama, hanya stiker nama perusahaan di sisi dan sebaris tulisan cetak: untuk karyawan.
"Ada karyawan hamil lain?"
"Ada. Satu di lantai tiga, satu di keuangan." Sindy menatap ke atas, ke langit-langit, pura-pura mengingat. "Mereka dapat juga. Sungguh."
Qenna menatapnya cukup lama. Ia tahu ini bukan sepenuhnya benar, dan ia tahu Sindy tahu ia tahu. Tetapi kardus itu berat dan perutnya baru saja diperiksa dan Ibu Aisyah berdiri di dekat pintu pura-pura tidak mendengar.
"Aku terima," ucapnya akhirnya. "Karena itu kebijakan kantor."
"Tentu saja karena itu."
Ibu Aisyah menaikkan kardus ke angkot yang berhenti di depan klinik, sementara Qenna menolak ikut. "Aku mau jalan sebentar, Bu. Dokter bilang jalan boleh, asal pelan. Aku ingin menghirup udara."
"Jangan jauh-jauh."
"Sampai persimpangan pasar saja."
Ia berjalan menyusuri trotoar, melewati toko kain, toko sepatu, warung kopi yang baru buka, sambil memeluk map berisi gambar anaknya. Matahari menggantung di langit yang cerah. Ia merasa ringan sekali, seperti baru dilepas dari sesuatu.
Lalu pintu kaca sebuah butik bayi di seberang jalan terbuka, dan seorang perempuan berbaju biru tua melangkah keluar dengan tas belanja besar. Rambutnya disasak rapi. Wajahnya keras, rahangnya tegak, dan ia menoleh ke belakang untuk memerintah seseorang dengan jari telunjuknya.
Qenna membeku di tempat.
Di belakang perempuan itu, perempuan lain keluar membawa dua kantong lagi. Muda, kurus, matanya sembap di bawah, gaunnya longgar di bahu. Ia berjalan dengan langkah orang yang sudah kelelahan jauh sebelum hari ini.
Mama Jamilah. Dan Alin.
Qenna melangkah mundur satu langkah, dua, lalu menyelip ke balik tiang listrik besar di tepi trotoar, dan menempelkan punggungnya ke permukaan beton yang dingin. Map di dadanya ia dekap erat-erat.
Suara mereka terbawa angin ke seberang, cukup jelas.
"Kuning saja, warnanya netral," kata Mama Jamilah, tanpa menoleh kepada menantunya. "Nanti kalau sudah isi, kamu tinggal pakai. Jangan lupa jamunya diminum pagi, bukan siang."
"Ma, aku belum hamil."
"Belum. Makanya jamu itu diminum."
Alin tidak menjawab. Bahunya turun satu senti. Qenna menatapnya dari jauh, perempuan yang selama ini hanya ia kenal dari selembar foto di ponsel, dan yang ia lihat bukan pemenang. Yang ia lihat kelelahan yang tidak punya tempat bersandar.
Lewat celah kecil di antara tiang dan papan reklame, ia melihat Mama Jamilah berhenti di tepi jalan dan menyapukan pandangan ke sekeliling, pelan, tajam, seperti orang yang mencium sesuatu.