Mama Ningsih terbangun karena bunyi napas.
Bukan dengkur. Dengkur Papa Galih ia hafal selama tiga puluh tahun lebih, dan yang ini lain, tersendat, pendek-pendek, seperti seseorang menarik tali di dalam dadanya. Jam di nakas menunjukkan pukul empat lewat dua puluh. Ia menyalakan lampu dan melihat suaminya duduk di tepi ranjang, tangan menekan dada, keringat dingin di pelipis.
"Pa."
"Tidak apa-apa, Ning. Cuma sesak."
"Jangan bilang cuma." Ia sudah meraih ponsel. Jari-jarinya gemetar, tetapi nomor Dokter Bram ada di urutan paling atas daftar panggilan, karena beberapa bulan terakhir ia memang sering menghubunginya. "Duduk saja. Jangan berdiri. Jangan bicara."
Dokter Bram menjawab pada dering ketiga, suaranya serak dan langsung terjaga. Ia memberi instruksi cepat, pelan-pelan, dan Mama Ningsih mengulang tiap kalimatnya dengan suara yang ia paksa tenang: bantal tinggi, jendela dibuka, obat yang di laci kedua. Papa Galih menurut tanpa menggerutu, tanda yang paling membuatnya cemas. Menjelang pukul enam, napas suaminya melambat sedikit, dan tak lama kemudian mobil Dokter Bram masuk halaman. Lelaki itu menaiki tangga dua anak tangga sekaligus dengan tas hitam di tangan.
"Telepon Armand," kata Papa Galih pukul tujuh, dengan suara yang masih tipis.
"Nanti, kalau Bram sudah selesai ...."
"Telepon dia nanti, setelah jam sembilan, biar anak itu sempat tidur. Papa mau bicara sebelum Papa terlalu tua untuk berani."
Mama Ningsih menatap suaminya. Mata lelaki itu terbuka penuh, tidak gentar, hanya lelah. Ada hal yang akan disampaikan, dan ia tahu apa. Dua pekan terakhir mereka berdua sering terjaga di ranjang yang sama, memandang langit-langit, tidak membicarakan apa-apa dengan sangat jelas.
"Kamu sudah menemui perempuan itu, kan? Yang di panti." Papa Galih menarik napas, tersendat. "Jangan bohong, Ning. Kamu pulang hari Selasa itu bau jeruk, dan tidak pernah kamu menyentuh jeruk seumur hidup."
"Pa ...."
"Papa tidak marah. Papa justru mau minta Armand datang."
Ia menekan nomor anaknya pukul sembilan lewat sepuluh, setelah Papa Galih memaksa menunggu supaya Armand tidak terbangun terlalu pagi di hari libur. Ia tahu itu bohong. Papa Galih hanya sedang mengumpulkan keberanian sebelum percakapan yang tidak ia lakukan dalam tiga tahun.
***
Telepon dari rumah masuk pukul sembilan lewat sepuluh, hari Minggu, dan Armand tahu dari dering pertama bahwa ia tidak akan bisa menghabiskan kopinya.
"Armand." Suara Mama Ningsih datar, terlalu datar, seperti orang yang menutup rapat sesuatu yang bergolak. "Papa sesak dari subuh. Dadanya sakit. Dokter Bram sudah di sini, tapi kamu pulang."
"Armand jalan sekarang, Ma."
Dua puluh menit berikutnya ia habiskan di balik setir dengan rahang terkunci, melewati lampu merah yang seharusnya dihentikan. Ia sudah pernah melalui jalan ini ketika Papa Galih pertama kali tumbang, dan satu-satunya yang ia pikirkan waktu itu adalah apakah ia sudah cukup baik sebagai anak.
Pagar rumah terbuka. Mobil Dokter Bram masih ada di halaman, dan lelaki itu tampaknya belum berniat pulang.
Di kamar utama, Papa Galih setengah duduk di atas bantal bertumpuk, kemeja tidurnya kusut, wajahnya pucat tetapi matanya terbuka lebar dan marah. Marah pada tubuhnya sendiri, Armand tahu. Dokter Bram berdiri di sisi ranjang dengan stetoskop di telinga, ujung hidungnya berkeringat, dan begitu melihat Armand masuk, ia meluruskan punggung seperti murid yang kepergok mencontek.
"Pak Armand. Tekanan darah tinggi, nadi agak cepat, tapi ini bukan serangan. Hanya gejala kambuhan ringan. Saya sudah beri obat."
"Ringan?" ujar Papa Galih dari bantalnya. "Dia bilang ringan padahal saya hampir menelepon sendiri ambulans."
"Bapak tidak boleh menelepon siapa pun. Bapak harus berbaring."
"Bram, kamu ini dokter atau satpam?"
Armand tersenyum, dan dadanya akhirnya mengendur sedikit sejak telepon itu. Ia menarik kursi di sisi ranjang dan duduk. Mama Ningsih berdiri di ambang pintu dengan baki berisi teh dan sepotong roti yang tidak disentuh siapa pun. Ia memandang Armand sekilas dan menutup pintu perlahan dari luar.
Dokter Bram merapikan tasnya, berpamitan dengan bahasa tubuh tergesa, dan menghilang ke ruang tamu. Tinggal ayah dan anak, dengan bunyi AC dan detak jam dinding yang lebih lambat dari detak jantung Armand sendiri.
"Papa tidak apa-apa," kata Papa Galih.
"Papa sesak."
"Papa sudah tua. Orang tua sesak." Ia menepuk sisi ranjang. "Duduk di sini. Jangan di kursi, kamu seperti mau menjenguk orang yang sudah pergi."
Armand pindah ke tepi ranjang. Ayahnya menatapnya lama, dan ia merasakan tatapan yang sama seperti ketika masih kecil, ketika dibawa menghadap karena memecahkan sesuatu. Tetapi sekarang ada hal lain dalam sorot itu, sesuatu yang lebih lunak.
"Mama kamu bilang," ujar Papa Galih pelan, "ada seorang perempuan."
Armand menegakkan punggung. "Mama bilang apa?"
"Cukup. Papa tidak butuh Mama-mu menjelaskan. Papa mau dengar dari kamu."
Hening. Armand menatap tangannya, jari-jari yang menggenggam lututnya sendiri. Di jendela, tirai bergoyang oleh angin pagi, membawa wangi tanah basah dari taman.
"Namanya Qenna, Pa. Bekerja di kantor. Cleaning servis." Ia berhenti. "Dia sedang hamil."
"Hamil anak siapa?"
Pertanyaan itu jatuh sederhana, tanpa tuduhan. Armand menggeleng.
"Anak suaminya yang meninggalkannya."
"Meninggalkannya." Papa Galih mengulang kata itu seakan menimbangnya. "Karena apa?"
"Armand tidak tahu, Pa. Dia sendiri tidak tahu. Sehari sesudah akad, lelaki itu pergi. Dua hari kemudian dia menikah lagi. Qenna tidak pernah tahu alasannya." Armand mengusap wajah. "Armand tidak ... Pa, Armand tidak sedang mencoba merebut apa pun. Dia masih terikat. Armand cuma ...."
"Kamu cuma peduli."
"Ya."
"Lebih dari cuma peduli."
Armand terdiam sepuluh detik. Dua puluh. Lalu menjawab dengan satu kata saja. "Ya."
Papa Galih menarik napas panjang, dan Armand mendengar kesulitan di dalamnya, bunyi tipis seperti udara melewati celah. Ia hampir berdiri memanggil Dokter Bram kembali. Ayahnya mengangkat satu tangan, menahan.
"Dengar baik-baik, Nak. Papa tidak bilang kamu salah. Papa bilang hati-hati." Suaranya pelan tetapi tegas. "Pastikan kamu tidak jadi lelaki yang memanfaatkan luka orang. Perempuan yang baru ditinggalkan itu mudah sekali bersandar pada siapa pun yang pertama berbaik hati. Kamu harus yakin, bukan dia yang bersandar, tapi dia yang memilih. Dan kamu harus siap bahwa jawabannya mungkin bukan kamu."
"Armand tahu, Pa."
"Kamu tidak tahu. Kamu belum pernah ditolak." Papa Galih tersenyum tipis, getir. "Papa yang tahu. Papa ditolak dua kali sebelum Mama kamu mau."
"Papa tidak pernah cerita itu."
"Bagian itu tidak ada di buku sejarah keluarga."
Armand tertawa pendek. Papa Galih ikut, sebentar, lalu batuk, dan Armand mengambil segelas air dari nakas tanpa disuruh. Ayahnya meneguknya lambat-lambat. Ketika gelas itu kembali ke nakas, wajahnya sudah lebih serius.
"Ada satu hal lagi, dan Papa mau mengatakannya sebelum Papa lupa atau kehilangan keberanian." Ia memandang langit-langit. "Papa yang memaksa kamu menikah dengan Siska. Papa kira cinta bisa belajar. Papa keliru. Tiga tahun kamu hidup dengan perempuan yang tidak mencintaimu, dan Papa membiarkannya karena Papa terlalu gengsi mengaku salah di depan Ahsan."
"Pa ...."
"Maafkan Papa."
Kata itu tidak keras. Tetapi di ruangan itu, ia terasa lebih nyaring daripada dentang apa pun. Armand tidak langsung bisa menjawab. Ia memikirkan kamar hotel nomor 205, ia memikirkan tangannya di bahu Siska, ia memikirkan fakta bahwa permintaan maaf ayahnya datang tiga tahun terlambat dan tepat waktu sekaligus.
"Armand maafkan, Pa."
"Bagus." Papa Galih memejamkan mata. Napasnya mulai teratur. "Papa mau bertemu perempuan itu. Kalau dia mau. Tidak ada paksaan, tidak ada undangan resmi. Kalau dia tidak mau, ya sudah."
"Armand tidak akan menanyakannya, Pa. Dia sudah cukup ditanyai orang lain."
"Kamu tidak perlu bertanya." Dari ambang pintu, Mama Ningsih sudah berdiri lagi, sama sekali tidak terlihat seperti baru menguping. Ia melangkah masuk, meletakkan baki di nakas, dan merapikan selimut Papa Galih tanpa menatap anaknya. "Mama sudah bertemu Qenna dua kali."
"Dua kali?"
"Sekali di kantormu. Sekali di panti, hari Selasa dua pekan lalu." Mama Ningsih akhirnya mengangkat mata, dan di dalamnya tidak ada permintaan maaf, hanya ketenangan yang disiapkan lama. "Jangan marah dulu. Duduk dulu."