Warung soto di seberang kantor itu hanya punya enam meja, dan Hans memilih meja paling pojok, paling dekat dengan kipas angin yang berputar lambat. Sindy tahu alasannya dan pura-pura tidak tahu. Lelaki itu duduk dengan punggung tegak dan dua tangan terlipat di atas meja, seperti sedang menunggu hasil ujian.
"Soto ayam dua, es teh satu, es jeruk satu," kata Hans pada pelayan. "Yang es teh jangan pakai gula banyak. Dia tidak suka."
Sindy mengangkat alis. "Dari mana Bapak tahu saya tidak suka?"
"Waktu makan siang yang pertama, kamu menyendok gulanya keluar dari gelas." Hans tersenyum, lalu cepat-cepat berhenti. "Maaf. Itu terdengar seperti pengintaian."
"Memang terdengar begitu."
"Saya catat. Ini baru makan siang berdua yang kedua, jadi saya masih boleh mengaku salah."
Sindy menahan senyum dan menyibukkan diri dengan sendok. Senin siang itu langit mendung, orang-orang di warung bicara dengan suara pelan, dan ia merasa dirinya terlalu sadar akan hal-hal kecil: cara Hans membetulkan manset, cara ia tidak menyentuh es tehnya sampai dipersilakan.
"Sindy." Hans membuka suara setelah sotonya datang. "Saya mau bilang sesuatu, dan kamu boleh langsung bilang tidak. Saya tidak akan sakit hati. Mungkin sedikit. Tapi tidak akan lama."
"Pak Hans ...."
"Saya suka sama kamu."
Sendok Sindy berhenti di setengah jalan ke mulut. Kuah menetes ke mangkuk. Di sebelah mereka, seorang bapak penjual kerupuk berpura-pura sangat tertarik pada gantungan kunci di tasnya.
"Bukan karena Qenna," lanjut Hans cepat, terlalu cepat. "Awalnya memang kita bicara soal Qenna. Tapi saya sudah tidak lagi mengajakmu makan karena Qenna sejak ... sejak kamu menangis di barisan belakang lobi hari itu. Dan kamu kelihatan seperti orang yang tidak mau diperhatikan, jadi saya berusaha tidak memperhatikan, dan gagal."
Sindy meletakkan sendok. Ia menatap lelaki itu cukup lama sampai Hans mulai menunduk.
"Aku belum bisa percaya orang yang bekerja dekat Pak Armand."
Hans mengerjap. "Apa hubungannya?"
"Hubungannya besar." Sindy mengangkat dagu. "Qenna sudah dua kali dihancurkan oleh orang yang mengaku baik. Pertama suaminya. Kedua gosip kantor yang bilang semua orang di sini menjaga rahasia. Aku tidak mau jadi orang yang percaya lalu salah lagi."
"Saya bukan Armand."
"Tapi Bapak duduk di sebelah Armand sepuluh jam sehari dan tahu semua keputusannya. Bapak bisa saja ...." Ia tak menemukan kata. "Bisa saja memilih diam saat dia salah."
Hans menarik napas, dan sekali ini ia tidak bercanda. "Saya sudah pernah diam. Waktu dia membuntuti Siska dulu. Saya yang memberinya foto, saya yang membiarkan dia berangkat ke hotel itu. Saya tidak pernah memaafkan diri saya untuk itu." Ia menatap mangkuknya. "Kalau kamu butuh bukti saya tidak akan diam lagi, kamu boleh minta apa saja yang masuk akal."
Sindy memandangi uap soto yang naik dari mangkuknya. Setelah beberapa detik, ia bergumam, "Pak Armand menyebut nama Qenna di rapat?"
"Hm?"
"Tadi pagi Bapak bilang begitu. Di lift."
"Oh." Hans meletakkan sendoknya dan berubah, entah bagaimana, menjadi sekretaris lagi. "Dua kali dalam rapat pagi tadi, tanpa sadar. Pertama waktu membahas jadwal pembersihan lantai delapan, 'Qenna bilang lantai itu licin,' katanya. Padahal tidak ada hubungannya, itu hanya laporan rutin. Kedua waktu klien menanyakan siapa yang mengantarkan kopi, dan dia menjawab 'Qenna', lalu tersadar, lalu menambahkan 'maksud saya petugas pantry'."
"Dia kelihatan malu?"
"Dia kelihatan seperti remaja yang ketahuan menyimpan surat cinta."
Sindy tertawa, dan tawa itu keluar lebih lepas daripada yang ia rencanakan. Tangannya buru-buru menutup mulut. "Mereka berdua sama-sama belum selesai, ya?"
"Belum selesai dengan apa?"
"Dengan orang yang lama." Sindy mengambil sendoknya lagi. "Qenna dengan suaminya. Pak Armand dengan pigura itu. Mereka berdua sedang berjalan pelan, tapi arahnya sama, dan kita semua cuma bisa berdiri di pinggir."
"Saya suka caramu bilang 'kita'."
"Jangan senang dulu, Pak Hans. Soto Bapak sudah dingin." Sindy menyedot es tehnya, yang ternyata tidak terlalu manis. "Dan jangan jemput saya pulang nanti. Saya naik bis."
"Saya tidak bilang mau menjemput."
"Muka Bapak bilang."
Hans memegang pipinya dengan satu tangan, seolah memeriksa apakah wajahnya memang bocor. Sindy memalingkan kepala ke jendela supaya lelaki itu tidak melihat senyumnya, dan gagal.
***
Malam itu pukul sembilan, Hans mengetuk pintu ruang kerja di rumah Armand dengan tiga map di tangan dan alasan kerja yang ia sendiri tidak yakin masih diperlukan.
Armand duduk di balik meja, jasnya sudah lama ditanggalkan, dasi tergantung longgar di leher. Layar laptop di hadapannya menampilkan tabel angka yang sama sejak sore. Ia sudah membaca baris ketiga belas empat kali, karena setiap kali sampai di sana pikirannya kembali ke pantry siang tadi, ke suara lap yang digosokkan pada meja marmer dan seseorang yang bersenandung sangat pelan tanpa menyadari ada yang mendengarkan dari lorong. Gelas tehnya sudah kosong. Satu lampu meja menyala, selebihnya gelap.
"Letakkan di situ," katanya tanpa mengangkat kepala.
Hans meletakkan map. Ia tidak pergi.
"Ada yang mau kamu katakan?"
"Dua kali dalam rapat tadi pagi."
Armand mengangkat wajah. "Apa?"
"Kamu menyebut nama Qenna. Dua kali. Tidak ada orang lain yang memperhatikan. Aku yang menghitung." Hans menarik kursi dan duduk tanpa diundang. "Aku sahabatmu sebelum aku sekretarismu, dan aku tidak mau lagi berpura-pura tidak melihat apa yang kulihat. Aku pernah melakukannya sekali."
Armand tidak menjawab. Ia memegang gelas kosong dengan dua tangan dan menatap dasarnya, seolah ada sisa teh yang bisa ia baca.
"Aku tertarik padanya," ucapnya akhirnya. Pelan dan kering, seperti orang membaca pengumuman. "Sudah beberapa lama. Aku tidak tahu kapan mulainya. Mungkin waktu dia mengembalikan sisa uang taksi dengan nota. Mungkin waktu dia bilang pigura itu pernah ia lihat dan tidak berani bertanya."
"Armand."
"Aku tahu apa yang mau kamu katakan."
"Dia masih istri orang."
Kalimat itu mendarat di antara mereka, jelas dan tidak dihaluskan. Armand menutup mata sebentar. Ketika membukanya lagi, tidak ada yang berubah selain bahunya, yang turun setengah ruas.
"Aku tahu."
"Bukan hanya di atas kertas. Sindy bilang suaminya belum pernah mengucapkan talak. Kamu sendiri pernah dengar dari Qenna."
"Itu belum terjadi."
"Tapi itu akan terjadi, dan kamu sudah mendengar versi lainnya." Hans bersandar. "Dia mengandung anak lelaki lain, Armand. Lelaki yang suatu hari mungkin datang. Aku tidak menyuruhmu tidak menyukainya. Aku cuma mau kamu tahu seberapa tinggi tebing yang sedang kamu lihat."
Armand tersenyum samar. Bukan senyum bahagia. "Kamu pernah dengar aku memaksa dia, Hans? Selama ini?"
"Tidak."
"Karena aku tidak akan." Ia meletakkan gelas dan menatap sahabatnya lurus. "Aku tidak akan menyentuh yang bukan milikku. Tidak sekarang, tidak sampai dia bebas, dan tidak sampai dia sendiri memilih. Kalau tidak pernah, ya tidak pernah."
Hans memandangnya lama. Di luar, hujan mulai turun, tipis dan tanpa angin.
"Dan sementara itu?"
"Sementara itu aku menjadi atasan yang baik, dan sesekali tertangkap menyebut namanya di rapat." Armand mengambil map pertama, membukanya, dan menunduk. "Tolong jangan hitung lagi."
Hans berdiri dan merapikan kursi. Di pintu ia berhenti, satu tangan di kusen.
"Sabtu depan Qenna kontrol besar. Sindy yang bilang, bukan Qenna. Dua puluh minggu, katanya. Yang menentukan jenis kelamin."
"Aku tidak akan bertanya apa-apa soal itu."
"Aku tahu." Hans mengangguk sekali. "Makanya aku yang bilang, supaya kamu tidak perlu bertanya."
Armand tidak menjawab, tetapi sampai Hans menutup pintu, tangannya berhenti di atas halaman yang tidak lagi ia baca.