Ibu Aisyah sudah berdiri di gerbang panti ketika Qenna turun dari ojek. Tidak ada tas besar kali ini, tidak ada kerudung rapi yang biasa ia kenakan untuk bertemu tamu. Hanya daster batik kesayangan, sandal jepit yang tali kirinya diganti peniti, dan kedua lengan terlipat di dada seperti penjaga pintu yang sudah menunggu sejak tadi.
"Kamu bawa apa?" tanya Ibu Aisyah, memandang ransel kecil di punggung Qenna.
"Baju ganti dua, Bu. Sama buku-buku." Qenna turun dengan hati-hati, memegangi pinggir jok. "Qenna belum mau pindah. Qenna cuma mau cerita langsung."
"Ceritanya nanti. Masuk dulu."
Ruang tamu panti tidak berubah sejak ia kecil. Sofa dengan sarung bunga-bunga yang dijahit ulang berkali-kali, rak buku penuh majalah bekas, foto pengajian bersama anak-anak yang dipajang miring di atas pintu. Qenna duduk di tempat yang sama dengan yang dulu ia pakai ketika demam. Ibu Aisyah meletakkan segelas teh jahe di meja dan duduk tepat di depannya, tanpa basa-basi.
Qenna menceritakan semuanya, dari selokan, tiga ibu di gerobak sayur, Bu RT dengan buku catatan, sampai pemilik kontrakan yang tidak mau menatap matanya. Ia mencoba bicara datar, seperti membacakan berita. Suaranya pecah tepat di bagian lelaki itu mengembalikan sewa sesuai hitungan hari.
"Jadi mereka mengusirmu," simpul Ibu Aisyah.
"Tidak diusir, Bu. Diminta pindah. Akhir bulan."
"Itu namanya diusir dengan sopan." Ibu Aisyah menarik napas panjang, dan Qenna mengenali bahunya yang menegang seperti sebelum ia memarahi tukang listrik. "Kalau begitu pulanglah. Ke sini. Hari ini."
"Bu ...."
"Jangan bilang tidak."
"Qenna tidak mau jadi beban." Kalimat itu keluar lebih lirih dari niatnya. "Ibu sudah mengurus begitu banyak anak. Uang bulanan dari donatur kadang telat. Kalau Qenna pulang dengan perut begini, satu mulut lagi, lalu sebentar lagi dua mulut. Qenna sudah dewasa, Bu. Qenna harus bisa menanggung sendiri."
"Dewasa." Ibu Aisyah mengulang kata itu pelan, seperti menimbang sesuatu yang berat. "Kamu pikir di rumah ini Ibu menghitung orang dari seberapa banyak makannya?"
"Bukan begitu."
"Lalu apa?"
Qenna menunduk menatap teh yang mulai tidak mengepul. "Qenna malu, Bu. Bertahun-tahun Qenna sibuk membuktikan ke semua orang bahwa anak panti bisa berdiri sendiri. Sekarang Qenna pulang, dengan anak, tanpa suami."
Hening cukup lama. Ibu Aisyah berdiri, dan untuk sesaat Qenna mengira ia marah. Ternyata tidak. Perempuan itu meraih pergelangan tangannya, menariknya berdiri, dan menyeretnya pelan menuju lorong belakang.
"Ibu, mau ke mana ...."
"Lihat dulu."
Pintu paling ujung, di sebelah gudang kecil tempat menyimpan beras, dibuka dengan satu dorongan. Ruangan itu tidak luas. Satu ranjang kayu, lemari dua pintu, jendela kecil menghadap pohon jambu di halaman belakang. Seprai bergaris biru yang sudah dicuci bersih, wangi sabun. Di meja kecil dekat jendela ada vas plastik berisi dua tangkai kembang sepatu merah. Dan di pojok ruangan, tersandar rapi, ada kasur lipat tambahan dan sebuah boks kayu kosong yang catnya baru kering.
Qenna menatap boks itu lama. Boks bayi. Dengan cat kuning pucat, bukan biru, bukan merah muda.
"Sejak kapan?" bisiknya.
"Boksnya Ibu minta tukang kayu di ujung gang buat dari sisa papan. Selesai Jumat." Ibu Aisyah tidak menatapnya. Ia merapikan sudut seprai yang sebenarnya sudah rapi. "Kamarnya Ibu bersihkan sejak Rabu, sepulang dari rumah mertuamu itu. Ibu tahu cepat atau lambat kamu akan datang. Ibu cuma tidak mau kamu datang karena terpaksa. Tapi kalau kamu terpaksa pun, kamarnya sudah siap."
Qenna menutup mulut dengan satu tangan. Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini tidak ada rasa malu di dalamnya.
"Masih mau bilang jadi beban?"
"Qenna ...." Ia tertawa kecil di sela tangis. "Qenna kalah, Bu."
"Bagus. Memang harus kalah." Ibu Aisyah akhirnya menoleh, dan matanya basah juga. "Sekarang bilang, kapan pindah."
"Qenna harus beres-beres dulu, Bu. Kunci, perabot, kasur. Kerja juga masih jalan. Sabtu. Boleh Sabtu?"
"Sabtu. Tidak lebih."
***
Mereka menyerbu tepat ketika Qenna melangkah ke ruang makan.
Entah siapa yang pertama memberi tahu. Mungkin Andin, yang tadi mengintip dari balik pintu dapur sambil berpura-pura mengelap piring. Dalam sekejap, ruang makan yang tadinya sepi dipenuhi suara berebut. Anak-anak panti, tujuh, delapan, sembilan, ia tidak sempat menghitung, bergelantungan di lengan dan pinggangnya.
"Kakak Qenna pulang!"
"Kak, bawa oleh-oleh tidak?"
"Kak, rambut Kakak kok lebih panjang?"
"Pelan-pelan, pelan." Qenna tertawa dan menahan satu anak yang hampir menabrak perutnya. Refleks itu terjadi begitu saja. Telapak tangannya sudah terulur melindungi sebelum otaknya sempat berpikir. "Kakak cuma datang sebentar hari ini. Sabtu depan Kakak tinggal di sini."
Sorak-sorai meledak. Andin, di ujung meja, tidak ikut bersorak. Ia hanya memandang Qenna dengan alis berkerut halus, mata yang terlalu cerdas untuk anak umur enam belas.
Seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun, gigi depannya baru tanggal sebelah, menarik ujung blus Qenna. Matanya bulat dan tanpa tipu daya.
"Kak Qenna sakit, ya?"
Ruangan agak melambat. "Kenapa kamu tanya begitu?"
"Soalnya Kakak tadi pegang perut terus. Kata Ibu, kalau pegang perut terus berarti sakit." Ia memiringkan kepala. "Terus mukanya Kakak tadi merah. Habis nangis, ya?"
Qenna berjongkok pelan-pelan hingga wajah mereka sejajar. Ia bisa saja menjawab "Kakak hanya masuk angin". Satu kalimat, selesai. Tetapi ia melirik ke ambang pintu dan menemukan Ibu Aisyah berdiri di sana dengan tangan terlipat, alisnya terangkat sedikit.
"Kakak tidak sakit," katanya akhirnya, memilih kata satu per satu. "Kakak sedang menyimpan hadiah."
"Hadiah apa?"
"Hadiah yang belum boleh dibuka. Nanti kalau waktunya sudah tiba, kalian yang pertama tahu."
"Janji?"
"Janji."
Anak itu mengangguk puas dan berlari menyusul teman-temannya. Qenna berdiri pelan, memegangi lutut. Dari ambang pintu, Ibu Aisyah hanya menghela napas seperti orang yang menerima jawaban setengah benar dan memutuskan menerimanya, untuk sekarang.
***
Selepas makan malam, ketika anak-anak sudah masuk kamar dan lampu ruang tengah diredupkan, Ibu Aisyah menarik kursi plastik ke dekat jendela belakang. Qenna ikut duduk, selimut tipis tersampir di bahunya. Dari kejauhan terdengar bunyi gemericik air cucian piring dan suara Andin bersenandung.
"Qenna."
"Iya, Bu."
"Selama Ibu membesarkanmu, Ibu hanya punya satu aturan yang tidak pernah Ibu tawar. Kamu tahu apa itu?"
"Jangan berbohong."
"Jangan berbohong." Ibu Aisyah mengangguk pelan. "Dan kamu melanggarnya berminggu-minggu. Bukan karena kamu jahat. Karena kamu takut Ibu kecewa. Mulai hari kamu menginjak rumah ini lagi, aturan itu berlaku seperti dulu. Tidak ada lagi kebohongan di rumah ini, kecil atau besar, untuk Ibu, untuk anak-anak, untuk dirimu sendiri."
"Qenna paham, Bu."
"Termasuk soal Rafa."
Qenna tidak menjawab. Jemarinya meremas ujung selimut.
"Ibu tidak menagih sekarang. Janjimu 'setelah dia lahir' Ibu pegang." Ibu Aisyah menatap gelap di balik kaca. "Tapi jangan pernah berpura-pura soal itu di dalam hatimu. Anak itu punya ayah. Titik."
"Qenna ingat, Bu."
Ibu Aisyah berdiri, mengusap rambutnya sekali, lalu pergi mematikan lampu dapur. Qenna masih duduk beberapa saat di kegelapan itu, mendengarkan senandung Andin yang makin pelan.
Senandung itu berhenti. Langkah kaki kecil mendekat dari lorong, dan Andin muncul di ambang pintu dengan piring terakhir yang sudah kering di tangannya. Ia tidak lagi tersenyum.
"Kak," katanya hampir tanpa suara, "Andin sudah tahu hadiahnya apa."