Menahan perut dengan satu tangan, Qenna membuka selot pagar tralis itu dan nyaris tidak sempat melewati ambangnya. Ia berlutut di tepi selokan depan rumah. Isi perutnya, yang hanya sepotong roti tawar dan teh hangat, keluar semua di sana, disusul bunyi hoeekk yang tidak bisa ia tahan sekeras apa pun ia menggigit bibir.
Minggu pagi di gang itu biasanya ramai oleh gerobak sayur. Pagi ini pun sama. Di ujung gang, di dekat gerobak yang tutupnya berderet kangkung dan tahu, tiga ibu berdiri melingkar dengan kantong belanja di tangan. Percakapan mereka berhenti serempak.
Qenna mengusap mulut dengan punggung tangan. Kepalanya terasa ringan seperti ditiup. Ia berdiri pelan-pelan, berpegangan pada besi pagar, dan baru sesudah itu sadar ke mana arah tiga pasang mata tadi.
"Hamil," bisik salah satu dari mereka. Ibu berdaster hijau yang rambutnya digulung dengan jepit besar. Bisikan itu sama sekali tidak berbisik.
"Ya ampun. Tiap pagi, loh. Dari seminggu lalu saya dengar dia muntah-muntah."
"Suaminya mana, coba? Tidak pernah kelihatan. Cuma ada mobil hitam yang pernah mengantar malam-malam."
Qenna masuk lagi dan menyelot pagar. Tangannya gemetar, bukan karena mual. Ia sempat berpikir untuk mengabaikan semuanya, menutup pintu, dan menunggu sampai ibu-ibu itu bubar mengikuti gerobak sayur.
Tidak sempat. Sebelum ia menarik gagang pintu, terdengar langkah sandal yang diseret tegas di atas semen, berhenti tepat di depan pagar.
"Mbak Qenna."
Bu RT berdiri di sana dengan kerudung lebar warna cokelat susu. Wajahnya tenang, tangannya menggenggam buku catatan kecil seolah ini kunjungan resmi. Di belakangnya, tiga ibu tadi sudah bergeser mendekat, pura-pura memilih bawang.
"Selamat pagi, Bu." Qenna memaksa suaranya tetap datar. "Maaf kalau tadi mengganggu."
"Bukan mengganggu. Saya cuma mau bertanya baik-baik." Bu RT memandang perut Qenna sekilas, lalu kembali ke wajahnya. "Mbak hamil?"
Qenna menarik napas. Kalau ia berbohong sekarang, besok pagi ia harus berbohong lagi. "Iya, Bu."
"Suaminya mana?"
"Kami berpisah."
"Berpisah." Bu RT mengulang kata itu pelan, mengunyahnya. "Berpisah sebelum atau sesudah hamil? Soalnya begini, Mbak. Janda hamil di gang ini, mau jadi apa? Di sini banyak anak remaja. Banyak bapak-bapak yang berangkat subuh dan pulang malam. Ibu-ibu resah, Mbak tahu kenapa."
"Saya tidak mengganggu siapa pun, Bu." Qenna merasakan pipinya memanas, tetapi ia tidak menunduk. "Saya berangkat kerja pagi, pulang sore. Tidak pernah ada tamu laki-laki yang menginap. Silakan tanya siapa saja."
"Tamu laki-laki memang tidak menginap," sambar ibu berdaster hijau dari belakang, "tapi mobil hitam itu pernah datang."
"Itu atasan saya, Bu. Waktu itu lembur sampai malam dan saya diantar."
"Atasan." Ibu bersanggul di sebelahnya mendengus. "Yang mengantar sampai depan pagar malam-malam itu juga cuma atasan?"
Qenna terdiam. Ia tahu persis malam mana yang dimaksud, malam hari pertama kerja, dan ia tahu tidak ada penjelasan yang akan terdengar lain di telinga mereka selain pembelaan. Lagi pula yang menolongnya malam itu memang atasannya. Itu benar. Itu juga yang paling sulit diucapkan.
"Cukup." Bu RT mengangkat tangan setengah tinggi. "Saya tidak menuduh siapa-siapa. Saya cuma mau Mbak tahu warga sudah bicara. Selebihnya urusan pemilik rumah."
"Sebentar, Bu." Qenna menahan pagar yang hampir ia tutup. "Kalau Ibu-Ibu mau tahu satu hal saja: anak ini bukan hasil dari tamu mana pun. Ayahnya laki-laki yang pernah menikahi saya, di depan penghulu, dengan buku nikah. Itu saja yang bisa saya katakan, dan saya tidak berutang penjelasan lebih dari itu."
Bu RT menatapnya agak lama. Sesuatu di wajah perempuan itu bergerak, sedetik saja, sebelum kerudung cokelat susunya kembali jadi tameng. "Kalau begitu, di mana buku nikahnya, Mbak, dan di mana laki-laki itu?"
Qenna tidak punya jawaban yang bisa ia berikan di depan gerobak sayur.
Bu RT berbalik. Tiga ibu itu mengikuti sambil menoleh sekali lagi. Di balik semua tatapan itu, Qenna menangkap satu hal yang lebih menyakitkan daripada hinaan: rasa puas karena kecurigaan mereka akhirnya punya bukti.
***
Pemilik kontrakan datang tidak sampai setengah jam kemudian.
Lelaki setengah baya itu bersandal jepit dan memakai kaus kutang yang dilapisi kemeja kotak-kotak terbuka. Ia mengetuk tralis dua kali dengan buku jarinya, seperti orang yang tidak ingin berlama-lama, dan menolak masuk meski Qenna sudah menyorongkan kursi plastik ke teras.
"Mbak Qenna, saya langsung saja ya." Pandangannya jatuh ke sandal, ke pagar, ke mana saja kecuali wajah Qenna. "Warga sini datang ke rumah saya tadi malam. Lima keluarga. Mereka keberatan. Katanya takut ada ... ya begitulah."
"Takut apa, Pak?"
"Takut ribut. Takut omongan. Saya tidak bilang Mbak berbuat salah, jangan salah paham." Ia menggaruk tengkuk. "Tapi saya tinggal di gang ini juga, Mbak. Saya masih mau ketemu mereka kalau mau ke warung."
Qenna menatap sandal jepit yang sudah menipis di tumit itu. Sewaktu ia pertama datang mencari kontrakan, lelaki inilah yang menawar harga dengan lembut dan berjanji kunci cadangan akan selalu ada kalau ia sakit.
"Jadi, saya diminta pindah?"
"Akhir bulan, Mbak. Kira-kira dua minggu lagi." Suaranya melemah. "Sewa yang sisa saya kembalikan sesuai hitungan hari. Saya sungguh minta maaf. Kalau saya boleh bilang, Mbak anak yang baik. Cuma ... ini bukan soal baik atau tidak."
"Saya mengerti, Pak." Anehnya, Qenna sungguh mengerti, dan itu yang membuat dadanya sesak. Orang ini tidak jahat. Ia hanya lemah, seperti kebanyakan orang yang lebih takut pada bisik-bisik daripada pada perbuatannya sendiri. "Terima kasih sudah bicara langsung."
"Mudah-mudahan Mbak cepat dapat rumah yang cocok." Lelaki itu berbalik dan mempercepat langkah, seperti seseorang yang lega karena beban sudah turun dari pundaknya.
"Pak," panggil Qenna, sebelum lelaki itu jauh. Ia menggenggam tralis. "Rumah ini bersih waktu saya masuk, dan akan lebih bersih waktu saya keluar. Itu janji saya."
Lelaki itu menoleh setengah badan, mengangguk kaku, dan tidak berkata apa-apa lagi. Tampaknya itu jawaban terbaik yang bisa ia berikan.
Qenna berdiri di teras sampai punggung kemeja kotak-kotak itu hilang di belokan gang. Dua minggu. Ia menghitung di kepala: gaji bulan ini belum cair, tabungannya tidak seberapa, dan perutnya, yang kini punya penghuni, tidak akan menunggu ia selesai berhitung.
Ia masuk, menutup pintu, dan bersandar pada daun pintu yang dingin. Dari luar masih terdengar suara gerobak sayur dan tawa kecil yang terputus-putus. Kemudian air mata yang sejak tadi ia tahan meleleh begitu saja, tidak diiringi isak, hanya jatuh satu per satu ke kerah daster.
Tiga menit. Ia memberi dirinya tiga menit, seperti kebiasaan lama saat di panti dulu ketika kehilangan sesuatu. Setelah itu ia menyeka wajah dengan ujung lengan, menarik napas dalam, dan menatap kamar kecilnya. Dinding penuh foto anak panti. Foto dirinya bersama Sindy.
"Kita pindah," ucapnya kepada perutnya yang masih datar. Suaranya serak. "Bukan diusir, Nak. Kita cuma pindah."
Dari kolong ranjang ia menarik sebuah kardus bekas mi instan, membuka lipatannya, dan mulai memasukkan buku-buku. Satu demi satu. Kamus saku, buku resep pemberian Ibu Aisyah, novel murah yang sampulnya sudah sobek. Kardus itu belum terisi separuh ketika ia sadar tidak ada satu pun orang yang sudah ia beri tahu.
Ponselnya tergeletak di kasur. Ia ragu sebentar sebelum meraihnya, lalu menekan nama yang paling ia hafal.
Nada sambung belum sampai dua kali ketika suara itu menjawab. "Qenna?"
"Bu, Qenna ...."
"Jangan bilang dulu." Suara Ibu Aisyah merendah. Terdengar suara panci diletakkan, lalu keheningan seperti orang yang menggeser kursi untuk duduk. "Ibu dengar dari napasmu. Ada apa, Nak?"
Qenna membuka mulut untuk bercerita, tetapi yang keluar justru tangis yang akhirnya pecah. Ibu Aisyah membiarkannya sampai reda. Lalu, pelan dan tanpa memberi ruang untuk dibantah, ia berkata, "Sudah. Sekarang dengarkan Ibu. Pulang ke sini, Nak. Hari ini juga."