Andin meletakkan piring terakhir di rak, menatap tangan Qenna yang tanpa disadari sudah berada di atas perut, lalu berkata pelan, "Hadiahnya adik kecil, kan, Kak?"
Qenna terdiam.
"Dari mana kamu tahu?" bisik Qenna.
"Kakak tidak perlu bilang," jawab Andin pelan. "Andin lihat sejak Kakak melindungi perut waktu adik kecil tadi nyaris menabrak. Orang sakit tidak begitu."
"Andin ...."
"Sudah ada namanya, Kak?"
Qenna menggeleng sambil menahan air mata, dan Andin memeluknya kuat-kuat dari belakang kursi. Ia berjanji akan pura-pura tidak tahu sampai Kakak siap, dan bahwa adik kecil itu, siapa pun dia, pasti kebagian pelukan paling lama.
***
Sudah tiga kali Citra memergoki Qenna. Pertama di pantry, ketika Qenna mendadak menyingkir dari aroma kopi sambil menutup hidung. Kedua di koridor, ketika ia berhenti hanya untuk mengatur napas. Ketiga, Selasa pagi ini, di ruang rapat lantai direktur, ketika Qenna sedang mengelap meja panjang dan tangan kirinya, tanpa ia sadari, terus berada di atas perut.
"Qen."
Qenna menoleh. Citra berdiri di ambang pintu dengan tongkat pel di satu tangan dan ember kecil di tangan lainnya. Ia menutup pintu dengan punggung, pelan, dan menurunkan ember ke lantai. Itu saja sudah aneh. Citra yang Qenna kenal tidak pernah menutup pintu ruang rapat kalau sedang membersihkannya.
"Ada apa, Cit?"
"Aku mau tanya sesuatu, dan aku minta maaf dulu kalau lancang." Citra menelan ludah. Wajahnya, yang biasanya cerah dan cerewet, tampak serius sekali. "Bukan soal anemia. Aku tahu kamu bohong waktu itu."
Lap di tangan Qenna berhenti di tengah meja.
"Anemia tidak bikin orang pegang perut seperti itu. Anemia tidak bikin orang lari dari bau kopi. Tiga bulan lalu adik iparku begitu, persis." Citra melangkah satu langkah. "Aku sudah dengar omongan orang di lift sejak kamu pingsan itu. Aku tidak percaya, Qen, aku bilang ke mereka kamu bukan perempuan begitu. Tapi sekarang aku jadi ragu mana yang harus kupercaya. Jadi aku tanya langsung saja, daripada menebak di belakangmu. Kamu hamil?"
Hening. Di balik kaca jendela besar, deretan gedung lain memantulkan matahari pagi. Qenna menaruh lap di tepi meja, menarik napas, lalu mengingat kata-kata Ibu Aisyah dua malam lalu di dapur panti: tidak ada lagi kebohongan.
"Iya," jawab Qenna.
Citra tidak bergerak. Mulutnya terbuka sedikit.
"Aku hamil, Cit. Sepuluh atau sebelas minggu kira-kira. Dan yang kamu dengar di lift itu salah. Bukan karena siapa-siapa di kantor ini."
"Terus ... bapaknya?"
"Suamiku." Kata itu terasa aneh di lidah setelah sekian lama. Ia membetulkan. "Maksudku mantan. Kami sudah berpisah. Aku janda, Cit. Aku tidak pernah bilang karena ... aku malu."
Citra mendengarkan dengan bahu yang perlahan turun. Ketika Qenna selesai, ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya maju, menaruh satu tangan di lengan Qenna, dan meremasnya dua kali. Tangan itu hangat dan berbau sabun cuci piring.
"Aduh, Qen. Kenapa kamu tidak bilang dari awal? Aku sempat mengira yang aneh-aneh." Suaranya serak. Ia menyeka mata cepat-cepat dengan pergelangan tangan. "Aku bersumpah, demi apa pun, aku tidak akan cerita ke siapa-siapa. Ke Sindy pun tidak, kecuali dia sudah tahu, dan kayaknya dia sudah tahu."
"Dia tahu."
"Tuh, kan." Citra setengah tertawa sambil menahan tangis. "Mulai hari ini semua yang berat biar aku yang angkat: ember, galon, tumpukan taplak. Kamu cukup lap-lap yang ringan. Kalau capek bilang, ya. Kalau mual, bilang. Kalau ada yang ngomong macam-macam, bilang juga. Aku punya mulut yang cukup besar untuk membalas."
"Terima kasih." Qenna tersenyum, lemah tetapi tulus. "Cit, aku betul-betul minta tolong: jangan dulu bilang ke siapa-siapa."
"Janji." Citra mengacungkan jari kelingking.
Qenna menautkannya, dan kelingking itu kecil, kasar karena air, dan terasa lebih kokoh daripada banyak sumpah yang pernah ia dengar.
"Satu lagi," kata Citra sambil memungut embernya. Ia berhenti di pintu, ragu, lalu menoleh. "Kamu kelihatan lebih lega sekarang. Dari kemarin-kemarin kamu seperti membawa batu di punggung. Jangan dipikul sendiri, Qen. Aku memang cerewet, tapi aku bisa diam kalau diperlukan."
"Aku tahu."
"Bagus. Sekarang tolong jangan nyium kopi lagi, aku capek ngelap muntahan."
Qenna tertawa, kecil dan tidak menyakitkan.
***
Hans yang menyampaikan kabar itu kepada Armand, pukul sebelas, dengan nada yang seolah-olah sedang melaporkan hasil audit. Ia berdiri di depan meja, tangannya di belakang punggung.
"Sindy yang cerita," katanya. "Kemarin sore, lewat telepon. Qenna diminta pindah dari kontrakannya. Akhir bulan. Para tetangga keberatan karena dia hamil dan tidak punya suami di sisinya."
Armand meletakkan pena. Perlahan sekali. Padahal sejak tadi pagi ia memang sulit menulis apa pun, dan kontrak di depannya sudah dibaca ulang dua kali tanpa dipahami. "Diusir?"
"Diminta pindah dengan sopan. Itu kata Sindy. Tapi aku rasa kamu tahu persis artinya."
Rahang Armand mengeras. Ia mengerti sekali kenapa gang kecil itu sampai membuat orang berbisik-bisik, ia pernah melihat pagar tralis setinggi pinggang itu dengan matanya sendiri, malam ia mengantar Qenna pulang. Ia membayangkan perempuan itu berdiri sendirian di depan para tetangga yang menunggu ia jatuh, dengan perut yang belum kelihatan dan dagu yang tetap terangkat. Ia kenal jenis gengsi itu. Ia pernah memelihara versi yang lebih buruk.
"Dia mau pindah ke mana?"
"Ke panti. Hari Sabtu. Itu juga dari Sindy."
"Aku mau bicara dengannya."
"Armand." Hans menggeser berat badan. "Ingat soal uang taksi dulu."
"Aku tidak akan memaksa." Armand berdiri dan mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Aku hanya akan bertanya."
Ia menemukan Qenna di pantry, sedang menyusun cangkir ke rak dengan gerakan lambat, satu per satu. Armand berhenti beberapa langkah darinya. Itu jarak yang ia pilih sengaja.
"Qenna. Boleh saya bicara sebentar?"
Qenna menoleh, dan pandangannya langsung menangkap wajah Armand yang tak terbaca. "Silakan, Pak."
"Hans bilang kamu diminta pindah dari kontrakan." Ia memilih kalimat yang jujur. "Saya mendengarnya dari dia, bukan dari mencari tahu sendiri. Saya mau kamu tahu itu."
"Saya tahu, Pak." Qenna meletakkan cangkir. "Sindy yang cerita ke Pak Hans. Saya sudah memarahi Sindy sedikit."
"Jangan marah padanya. Dia bicara karena peduli." Armand menarik napas. "Saya punya usul. Perusahaan punya beberapa kamar sewa di dekat kantor, untuk karyawan yang membutuhkan. Bersih, aman, dekat. Uang mukanya saya yang urus. Kamu tidak perlu mengembalikan apa pun."
Pantry sunyi. Hanya dengung kulkas yang terdengar.
"Terima kasih, Pak." Qenna menatapnya lurus. Tak ada kemarahan di sana, yang ada hanya ketegasan yang lembut dan sudah dilatih. "Tapi saya tidak bisa menerimanya."
"Kamu belum mempertimbangkannya."
"Sudah, Pak. Sepanjang pagi." Ia menyusun cangkir terakhir. "Kalau saya tinggal di kamar sewa perusahaan, besok pagi semua orang di lift akan tahu siapa yang membayar uang mukanya. Gosip yang sekarang saja belum selesai. Saya tidak mau Bapak menjadi bahan omongan, dan saya tidak mau jadi alasan Bapak diomongkan."
Armand membuka mulut. Satu kalimat sudah siap di ujung lidah, kalimat tentang bagaimana kamar itu tak akan menyakiti siapa pun, tentang bagaimana ini hanya soal beberapa lembar uang bagi dia. Ia memeriksa kalimat itu sebentar, dan menyadari bahwa persis kalimat seperti itulah yang dulu ia ucapkan sambil menarik tangan Qenna agar menerima uang taksi.
Ia menutup mulut. Menarik napas. Mengangguk.
"Baik."
Qenna mengerjap. Jelas ia bersiap untuk bernegosiasi lebih lama.
"Itu hak kamu," lanjut Armand pelan. "Saya hanya mau menawarkan, bukan menuntut. Satu hal saja, kalau kamu mau mengabulkan." Ia meraih ke saku jas, hanya untuk mengeluarkan selembar kartu nama dan meletakkannya di tepi meja, jauh dari tangan Qenna. "Nomor pribadi saya, kalau pindahan butuh mobil. Saya tidak akan datang tanpa kamu minta. Cukup kabari, nanti saya kirim mobil dan orangnya."
Qenna memandang kartu itu. Lalu ia memandang Armand.
"Terima kasih, Pak," katanya. "Sudah ada Ibu."