"Iya, Bu. Mas Rafa memang ... sibuk sekali akhir-akhir ini," jawab Qenna, dan ia bisa mendengar kebohongan itu rapuh seperti ranting kering di mulutnya. "Mungkin dia telepon karena kangen sama Ibu."
"Qen." Hanya itu yang keluar dari Ibu Aisyah, tetapi nadanya membuat Qenna menutup mata. "Kamu pulang jam berapa hari ini?"
"Biasa, Bu. Jam lima."
"Ibu ke kontrakanmu sekarang."
"Sekarang? Bu, jangan, jauh ...."
"Ibu sudah menutup telepon, Nak."
Sambungan terputus. Qenna menatap layar ponsel yang kembali gelap, lalu menatap kain basah di tangan, lalu menatap meja rapat yang masih mengilap dan berkilauan dengan pantulan cahaya sore. Sisa pekerjaan hari itu ia selesaikan dengan tangan kaku. Ketika Sindy menengok sebentar dari pintu, wajah Qenna cukup menjelaskan.
"Mau kutemani nanti malam?" bisik Sindy.
"Jangan. Ini harus aku sendiri yang hadapi." Qenna memaksakan senyum. "Tapi kalau besok pagi aku tidak muncul, tolong kirim doa."
"Aku kirim doa dan bubur ayam," sahut Sindy, lalu mengangkat ibu jari dan menghilang di balik pintu.
***
Pukul tujuh malam, sebuah ojek berhenti di depan pagar tralis kontrakan. Qenna sudah menunggu di teras sejak setengah jam sebelumnya, dan ia berlari keluar begitu melihat sosok berkerudung krem turun dari boncengan, menyerahkan beberapa lembar uang kepada tukangnya, dan merapikan tas besar di pundaknya.
"Bu, kenapa tidak bilang mau naik ojek? Qenna jemput ke halte ...."
Ibu Aisyah mengangkat tangan. Wajahnya letih oleh perjalanan, tetapi sorot matanya tegap. Ia masuk ke rumah tanpa menunggu dipersilakan, meletakkan tas di lantai dekat pintu, dan berdiri di tengah ruang tamu yang sempit itu. Matanya menyapu dinding. Foto anak-anak panti. Foto Qenna dan Sindy. Tidak ada satu pun foto pernikahan.
"Silakan duduk, Bu. Qenna buatkan teh dulu ...."
"Ibu berdiri saja."
Qenna menelan ludah. "Bu ...."
"Ibu tidak akan duduk sebelum kamu menceritakan semuanya." Suaranya tenang sekali, dan justru itu yang menakutkan. "Nak Rafa menelepon tadi siang. Suaranya seperti orang yang belum tidur tiga hari. Dia hanya bertanya kamu sehat atau tidak, lalu diam, lalu menutup telepon. Ibu sudah bertahun-tahun mengurus anak-anak. Orang yang tinggal serumah dengan istrinya tidak bertanya begitu lewat telepon kepada orang lain."
Qenna meremas ujung bajunya.
"Foto pernikahanmu yang katanya dipecahkan fotografer di jalan," lanjut Ibu Aisyah. "Rafa yang selalu sibuk. Kamu yang selalu tersenyum tiap Ibu telepon. Dan opor ayam yang kamu buang karena, katanya, perutmu tidak enak." Ia menarik napas. "Ibu bukan orang bodoh, Qenna. Ibu hanya menunggu kamu siap. Tapi hari ini Ibu tidak sanggup lagi menunggu."
Pertahanan yang Qenna bangun selama berminggu-minggu runtuh begitu saja. Lututnya melemas, dan ia berlutut di lantai, memegang ujung rok Ibu Aisyah seperti anak kecil yang tertangkap berbohong.
"Maafkan Qenna, Bu. Maaf. Qenna takut Ibu kecewa."
"Ceritakan," kata Ibu Aisyah pelan. "Dari awal."
Maka Qenna bercerita. Kali ini ia tidak berbicara datar seperti di ruangan Armand. Kata-katanya patah-patah, dan beberapa kali ia harus berhenti untuk menarik napas. Bali ia ringkas dalam satu kalimat: Rafa pergi dan tidak kembali. Yang lebih lama ia ceritakan adalah janur kuning di pagar rumah mertuanya, suaminya yang tersenyum menyalami tamu, dan betapa sunyinya kamar kontrakan tiap kali sesudah Ibu menelepon, ketika ia memilih berbohong karena tak sanggup membayangkan wajah Ibu yang kecewa pada dirinya.
"Janur kuning?" bisik Ibu Aisyah. Wajahnya tidak berubah, namun tangan yang memegang tali tas gemetar.
"Rafa menikah lagi, Bu. Dua hari setelah akad. Dengan perempuan lain." Qenna mengusap pipi dengan punggung tangan. "Mamanya mendorong Qenna sampai jatuh di depan semua tamu. Di kantor Rafa, orang-orang menertawakan Qenna. Beberapa hari kemudian mamanya datang ke sini, membawa amplop uang. Qenna tolak. Lalu dia menampar Qenna."
"Dia menampar kamu?"
"Sekali, Bu." Qenna memegang pipinya tanpa sadar. "Rafa sendiri tidak pernah mengucapkan talak, Bu. Satu kata pun tidak."
Ibu Aisyah menutup mulut dengan telapak tangan. Matanya basah, namun ia tetap berdiri tegak. "Dan kamu menyimpan semua itu sendirian? Di kamar ini? Sambil bilang pada Ibu semua baik-baik saja?"
"Qenna tidak mau Ibu sedih. Ibu sudah menanggung begitu banyak ...."
"Ibu marah, Qenna." Suaranya meninggi, sesuatu yang hampir tak pernah Qenna dengar darinya. "Ibu marah sekali. Bukan padamu. Pada kebohongan itu. Pada dunia yang membuat anak Ibu merasa lebih aman berdusta daripada pulang." Air mata menetes ke dagunya. "Kamu pikir, Ibu menolak kamu kalau kamu pulang dalam keadaan hancur? Ibu yang membesarkanmu dari bayi!"
Qenna tersedu. Ia merasakan sepasang tangan hangat menarik bahunya, memeluknya dari atas, dan wangi minyak kayu putih yang selalu menempel di baju Ibu Aisyah memenuhi napasnya.
Lama mereka berpelukan. Tangis Qenna mereda sedikit demi sedikit. Pelukan Ibu Aisyah melonggar, dan ia akhirnya duduk di kursi rotan, menarik Qenna ke sebelahnya.
"Masih ada yang belum kamu ceritakan," ujarnya. "Ibu tahu dari cara kamu menunduk."
Qenna menatap tangan sendiri. "Qenna hamil, Bu."
Hening yang menyusul begitu penuh sampai ia mendengar detik jam dinding.
"Sudah periksa?" Suara Ibu Aisyah serak.
"Sabtu kemarin. Sembilan minggu. Dokter bilang jantungnya kuat." Qenna tertawa getir di antara tangis. "Qenna dengar detaknya, Bu."
Ibu Aisyah tidak berkata apa-apa. Tangannya terulur, ragu, lalu berhenti sedikit di atas perut Qenna sebelum akhirnya menyentuhnya dengan telapak yang terbuka. Ia memejamkan mata dan bibirnya bergerak, melafalkan doa tanpa suara.
"Rafa tahu?" tanyanya setelah membuka mata.
"Tidak, Bu. Dan jangan dulu." Qenna menggenggam pergelangan tangannya. "Ibu janji, jangan bilang pada siapa pun. Mereka akan bilang ini anak laki-laki lain."
Ibu Aisyah tidak menjawab janji itu. Ia berdiri, melangkah ke dapur kecil di belakang, dan membuka lemari satu per satu. Qenna mendengar bunyi pintu kayu yang dibuka dan ditutup dengan ketukan yang makin keras.
"Roti tawar. Selai kacang. Mi instan, tiga bungkus." Ibu Aisyah muncul lagi di ambang pintu dapur dengan wajah seperti guru yang menemukan buku kosong. "Ini yang kamu makan, dengan perut isi dua orang?"
"Qenna cuma bisa makan itu, Bu. Yang lain bikin mual."
"Bikin mual karena tidak dimasak dengan benar." Ibu Aisyah menggulung lengan bajunya. "Ada beras? Telur? Ibu buatkan bubur."
Dalam dua puluh menit, ruang tamu sempit itu dipenuhi bau jahe dan bawang putih yang digoreng. Perutnya, yang biasanya memberontak, kali ini diam saja. Ia duduk memeluk lutut di kursi rotan, menyaksikan punggung perempuan yang membesarkannya menunduk di depan kompor, dan sesaat ia merasa kecil lagi, delapan tahun, menunggu sarapan di meja panjang panti.
Ia menghabiskan satu mangkuk penuh. Ibu Aisyah memperhatikannya tanpa berkedip dan tidak berkomentar sampai mangkuk itu kosong. Lalu ia mencuci piring, mengelap tangan di kain dapur, dan mengambil tasnya dari lantai.
"Ibu menginap malam ini. Subuh Ibu pulang dulu ke panti, anak-anak harus disiapkan." Di matanya ada sesuatu yang tidak pernah Qenna lihat sebelumnya, keras dan tenang sekaligus. "Dan besok Ibu temui mertuamu."
Qenna terlonjak. "Jangan, Bu!"