Semalaman Qenna memohon dari balik selimut tipis di kasur sempit yang mereka bagi berdua: jangan, Bu, mereka tidak akan mendengar, mereka cuma akan melukai lagi. Ibu Aisyah menjawab tiap permohonan dengan tepukan di punggung dan kalimat yang sama, "Tidur, Nak," sampai napas Qenna melambat dan permohonannya berubah menjadi isak, lalu diam. Pukul empat, ketika alarm berbunyi, Qenna masih mencoba sekali lagi. "Kamu sudah minta, dan Ibu sudah dengar," ujar Ibu Aisyah sambil mengikat kerudungnya. "Ibu tetap pergi."
Ia pulang ke panti hanya cukup lama untuk menyiapkan sarapan dan berpesan kepada Andin agar menjaga adik-adik. Ia mengganti kerudung, menyimpan sebungkus nasi di tas, dan berangkat sebelum ada yang sempat bertanya ke mana. Dua kali ganti angkot, satu kali nyasar karena sopir yang berbeda-beda menyebut nama kompleks dengan cara berbeda. Lewat jendela angkot ia memandangi jalan yang tak pernah ia lalui, dan sepanjang jalan ia melatih satu kalimat di dalam kepala, mengubahnya, memotongnya, sampai tersisa hanya yang paling pendek.
Angkot terakhir menurunkan Ibu Aisyah di mulut sebuah kompleks perumahan yang gerbangnya lebih tinggi dari rumah panti. Pukul sebelas lewat, matahari menggantung di atas pohon-pohon tabebuya yang berjajar rapi. Ia berdiri sebentar di trotoar, merapikan kerudung krem, lalu merogoh tas dan mengeluarkan secarik bon apotek yang di baliknya tertulis dengan pensil: nama kompleks dan satu kata, "janur". Malam tadi, di sela tangisnya, Qenna sempat menyebut kompleks itu tanpa sadar. Ibu Aisyah menuliskannya diam-diam sebelum memadamkan lampu kamar.
Ia tidak berniat melanggar permintaan Qenna. Ia hanya berniat, kata hatinya, melihat seperti apa rumah yang pernah mengusir anaknya.
"Cari siapa, Bu?" Satpam di pos jaga memandangnya dari atas ke bawah. Matanya berhenti sebentar pada sandal jepit Ibu Aisyah yang berdebu.
"Rumah Bu Jamilah. Ibunya Nak Rafa."
"Sudah ada janji?"
"Belum. Tolong sampaikan, ada tamu dari panti asuhan, orang tua Qenna."
Satpam itu menatapnya lama, lalu mengangkat gagang interkom. Percakapan singkat dalam bisikan. Ibu Aisyah memperhatikan tangannya, tangan yang sama yang mungkin telah menutup gerbang di depan hidung seorang gadis yang pulang dengan koper kecil.
"Silakan masuk, Bu. Lurus, rumah paling besar yang cat putih."
Ibu Aisyah berjalan. Semakin dekat, rumah itu semakin mirip ruang pameran. Pilar tinggi, taman yang pohon-pohonnya dipangkas bundar sempurna, dan di sudut halaman seorang lelaki berseragam sedang mencuci mobil hitam dengan selang panjang. Bekas pita janur masih menggantung kusut di tiang pagar samping, yang belum sempat dilepas.
Ia meremas tali tasnya, berhenti sesaat, menarik napas sekali, lalu naik ke teras.
***
Mama Jamilah menerimanya di ruang tamu berlantai marmer, di antara sofa-sofa putih yang tampak belum pernah diduduki sambil tertawa. Ia mengenakan gamis sutra warna anggur dan kalung mutiara. Wajahnya terawat, matanya tajam, dan senyum yang ia pasang di bibir tidak naik sampai ke mata.
"Jadi ini ibu panti." Ia tidak menawarkan tangan. "Duduklah. Saya hanya punya lima belas menit."
Ibu Aisyah duduk di ujung sofa, tas di pangkuan. "Terima kasih sudah menerima saya, Bu Jamilah."
"Kalau Anda datang untuk meminta uang, saya sudah memberi anak itu amplop dan dia melemparnya balik. Saya tidak mengulang tawaran." Mama Jamilah menyilangkan kaki. "Kalau Anda datang untuk menegosiasikan sesuatu atas namanya, saya tidak berurusan dengan perantara."
"Saya tidak membawa permintaan apa pun."
Alis Mama Jamilah terangkat sedikit. Seorang pembantu masuk membawa dua gelas teh, menaruhnya di meja tanpa suara, lalu mundur cepat seakan takut menyentuh udara di ruangan itu.
Ibu Aisyah menegakkan punggung. Suaranya tidak keras, tetapi tiap kata diletakkan hati-hati di atas meja marmer seperti benda yang tak boleh pecah. "Saya hanya mau menyampaikan satu kalimat. Saya datang sebagai ibu dari menantu Ibu. Anak saya bukan perempuan yang Ibu kira. Dan saya ingin Ibu tahu, saya tahu."
Ruang tamu mendadak hening. Jam antik di dinding berdetak keras.
"Menantu." Mama Jamilah mengucapkan kata itu seperti mencicipi sesuatu yang basi. "Saya tidak punya menantu dari panti. Saya punya satu menantu, namanya Alin, dan keluarganya terhormat."
"Kalau begitu Ibu punya dua," jawab Ibu Aisyah tenang. "Hanya satu yang belum pernah dilepas oleh anak Ibu. Saya sudah bertanya langsung kepada anak saya. Katanya, tidak pernah ada talak dari Nak Rafa."
Sekilas, hanya sekilas, kelopak mata Mama Jamilah bergetar. Kemudian wajahnya kembali licin. "Surat itu ada. Tanyakan pada anak Anda."
"Dia sudah menerima surat itu dari Ibu, bukan dari pengadilan." Ibu Aisyah tidak menaikkan nada. "Saya tidak datang untuk berdebat soal kertas."
Ibu Aisyah berhenti di sana. Ada hal lain di ujung lidahnya, tentang sesuatu yang sedang tumbuh di dalam tubuh Qenna. Detak kecil yang malam tadi ia rasakan dengan telapak tangannya sendiri. Tetapi rahasia itu bukan miliknya. Ia menutup rapat gigi di balik bibirnya dan membiarkan kalimat itu menggantung.
"Anda tahu." Mama Jamilah tertawa kecil, kering. "Anda orang panti. Anda tahu apa tentang anak itu selain kasihan yang Anda beri? Saya paham sekali, Bu. Anak-anak seperti itu dibesarkan untuk mencari pegangan. Begitu ada laki-laki kaya yang menoleh, mereka ...."
"Bu Jamilah."
"... mereka menempel dan pura-pura tidak tahu diri. Anak buangan memang pandai membaca peluang." Ia berhenti hanya untuk mengatur napas. "Maaf kalau kasar, saya terbiasa jujur. Anak saya sudah menikah dengan perempuan yang setara, yang keluarganya jelas. Perempuan Anda itu cuma kecelakaan."
Ibu Aisyah tidak mengubah ekspresi wajahnya. Jemarinya yang menggenggam tas hanya sedikit memutih di buku-bukunya.
"Anak-anak yang dibuang itu diambil Tuhan lewat tangan orang lain, Bu," katanya akhirnya. "Saya sudah membesarkan puluhan dari mereka. Tidak satu pun datang ke rumah saya sebagai kecelakaan."
"Kata-kata bagus. Sayangnya tidak membayar apa pun."
"Memang tidak." Ibu Aisyah bangkit pelan. Ia menyampirkan tas di bahu. "Semoga suatu hari Ibu tidak perlu membutuhkan kebaikan orang yang Ibu hina."
Mama Jamilah ikut berdiri, rahangnya kaku. "Anda mengancam saya?"
"Saya mendoakan Ibu." Ibu Aisyah menunduk sedikit, sopan yang tulus dan karena itu lebih menusuk. "Assalamualaikum."
Ia memutar badan menuju pintu dan tidak menoleh lagi.
***
Di koridor menuju tangga, langkah Ibu Aisyah terhenti.
Seorang perempuan muda berdiri di anak tangga ketiga, satu tangan memegang pegangan, tangan lain menjinjing kantong butik berisi lembaran kain. Rambutnya digelung rapi, wajahnya halus dan lelah, cincin emas baru melingkar di jari manisnya yang memegang tali kantong, dan matanya terpaku pada Ibu Aisyah seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak bisa ia lupakan. Alin sedang datang memilih bahan seragam keluarga untuk arisan, dan ia telah berdiri di sana lebih lama dari yang mestinya. Dari tikungan itu hanya sebagian percakapan yang terdengar, samar. Nama itu. Dan satu kata lagi, menantu, yang membuat telinganya berdengung.
"Maaf," kata Alin, suaranya setipis benang. "Saya tidak sengaja mendengar. Ibu tadi menyebut ... Qenna?"
Ibu Aisyah menatapnya. Mulanya hati-hati, lalu perlahan lembut. Perempuan ini masih sangat muda. Tak ada satu pun garis kejam di wajahnya.
"Saya Aisyah," ujarnya. "Dari panti asuhan."
"Alin." Perempuan itu turun dua anak tangga, ragu. "Saya ... istri Mas Rafa."
Hening yang canggung. Ibu Aisyah mengangguk pelan, seolah baru memahami potongan terakhir dari sesuatu yang selama ini hanya ia dengar dari pihak lain.
"Boleh saya antar Ibu ke gerbang?" tanya Alin.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri halaman. Lelaki berseragam yang mencuci mobil melirik sekilas lalu pura-pura sibuk dengan selangnya. Alin berjalan dengan kepala sedikit menunduk, jemarinya bertaut di depan perut. Hampir sampai di pos jaga, ia berhenti.
"Ibu ... tadi menyebut kata menantu." Suaranya nyaris tak terdengar. "Qenna itu siapa, Bu?"
Ibu Aisyah memandangnya cukup lama, sampai Alin menahan napas. Di matanya tidak ada kemarahan, hanya kasihan yang dewasa dan sedikit rasa bersalah, seolah ia sedang memegang sebuah pintu yang bukan miliknya untuk dibuka.
"Tanyakan pada suamimu, Nak," katanya lembut.