Hans sudah menunggu di pantry lantai bawah dengan papan jalan di tangan dan cengiran yang sengaja dilebarkan. Jam dinding baru menunjuk pukul tujuh kurang lima, namun ia berpakaian rapi, kemeja biru dengan lipatan lengan tertata, seakan ini rapat penting.
"Selamat datang kembali, Qenna. Sehat?"
"Alhamdulillah, Pak."
"Bagus, karena mulai hari ini ada perubahan tata kerja." Hans mengangkat papan jalannya tinggi-tinggi, membaca dengan nada pembawa acara. "Atas saran dokter keluarga perusahaan, karyawan yang pernah pingsan di jam kerja dipindah ke tugas ringan sampai ada surat kesehatan. Jadi tugasmu: pantry, ruang rapat, dan meja-meja lantai direktur. Tanpa cairan pembersih keras. Hanya lap basah dan air biasa."
Qenna menatapnya. "Itu aturan betulan, Pak? Bukan karangan Bapak?"
"Saya lihat langsung kapan peraturan itu ditulis." Hans mengacungkan telunjuk. "Kemarin sore, dan kebetulan saya yang menuliskannya."
Mau tak mau, Qenna tertawa. Hans mengerjapkan mata puas, seolah menang lomba. "Jangan protes. Pak Armand bilang sudah bicara denganmu. Saya cuma menjalankan surat tugas."
"Baik. Terima kasih, Pak."
"Kalau ada yang tanya," lanjut Hans sambil menepuk-nepuk papan jalannya, "bilang saja saya yang memindahkanmu karena saya kurang suka melihat orang pucat di kantor. Saya bos yang kejam, titik."
Citra datang tak lama kemudian, menggotong ember dan tongkat pel, lalu mematung begitu melihat Qenna memegang lap kering dan semprotan air bening, tanpa botol pembersih kloset yang biasa menjadi jatah mereka berdua.
"Loh, kok kamu dapat yang enak? Aku mau juga," protes Citra setengah bercanda, tetapi matanya menelusuri wajah Qenna lebih serius. "Qen, kamu sakit apa sih? Hari itu kamu pingsan di lift dan sekarang dipindah. Orang-orang mulai ngomong."
"Katanya anemia," jawab Qenna ringan. Kebohongan kecil itu terasa asam di lidah, namun ia menjaga suaranya tetap datar. "Dokternya bilang tidak boleh kena bahan kimia dulu."
"Anemia." Citra memiringkan kepala. "Makanya kamu makan hati ayam. Aku bawakan besok."
"Jangan, Cit. Aku ...." Qenna nyaris tersedak oleh bayangan hati ayam. "Sudah dikasih Ibu panti."
Citra mengangkat bahu, percaya atau pura-pura percaya, lalu menyeret ember ke arah toilet.
Pagi itu Qenna mengelap meja pantry sambil merasakan tatapan yang menempel di punggungnya. Dua karyawati dari bagian keuangan datang mengambil kopi, bicara pelan satu sama lain. Potongan kalimat mereka menyusup juga. "Itu yang pingsan di lift." "Yang dibopong langsung ke ruang Bapak." "Kok dia sekarang di lantai atas?" Salah satu dari mereka sempat menoleh, mata mereka beradu, dan perempuan itu cepat-cepat mengaduk gulanya.
Qenna tidak menoleh lagi. Ia memeras lap, melipatnya dua kali, dan melanjutkan pekerjaan dengan pelan, persis seperti pesan dokter. Ia tahu bahwa tiap gerak tubuhnya akan dibaca orang sebagai sesuatu. Ia memutuskan membuat gerakannya sebiasa mungkin.
***
Ia menunggu sampai pukul sepuluh. Qenna baru naik ke lantai direktur ketika Hans sudah masuk ruang rapat dengan dua berkas tebal dan pintu ruangan Armand sedikit terbuka. Di tangannya ada amplop putih kecil yang sudah ia siapkan sejak malam. Isinya sisa uang pemberian Armand pada hari ia pingsan, dilipat rapi bersama struk taksi dan struk apotek. Di atasnya ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang jelas: angka-angka, tanggal, dan tanda tangan. Ia sudah mengeceknya tiga kali, sebab kepercayaan kecil pun harus dibayar tuntas.
Ia mengetuk dua kali.
"Masuk." Armand mendongak dari balik berkas. Matanya sempat menyapu seragam Qenna, tampak lega, lalu kembali menjadi mata atasan biasa. "Tugasmu sudah dijelaskan Hans?"
"Sudah, Pak. Terima kasih." Qenna melangkah mendekat dan meletakkan amplop di tepi meja. "Ini punya Bapak."
Armand menatap amplop itu. "Apa ini?"
"Sisa uang dari Bapak waktu itu. Taksi dan obat sudah saya hitung, selebihnya saya kembalikan lengkap dengan struknya."
"Qenna, itu untukmu. Saya memberikannya ...."
"Bapak menyerahkannya dengan sedikit memaksa," potong Qenna sopan, "dan waktu itu saya sedang tidak bisa berdebat. Sekarang bisa."
Armand mengatupkan rahang. Sorot matanya berkelebat. Ada keinginan membantah yang jelas ditekan. Beberapa detik ia hanya memandang amplop, tangan terbuka di atas meja. Pelan-pelan, ia menarik amplop itu ke sisinya.
"Baik. Saya terima," ucapnya. "Tapi saya mau kamu tahu, saya tidak bermaksud meremehkan."
"Saya tahu, Pak. Justru karena Bapak baik, saya tidak mau berhutang sedikit pun."
Qenna sudah hampir berbalik, tetapi ia berhenti. Satu hal lagi masih mengganjal sejak Rabu malam itu, ketika ponselnya bergetar membawa sebuah pemberitahuan dan ia menatap layarnya lama.
"Pak, boleh saya bertanya satu hal? Pribadi."
Armand menyilangkan jari di atas meja. "Silakan."
"Rabu malam, setelah saya pulang dari kantor, ada pemberitahuan di ponsel saya. Akun atas nama Bapak mengikuti akun saya." Qenna mengangkat dagunya. "Foto profilnya Bapak berdiri di depan gedung ini. Itu akun Bapak?"
Hening sejenak. Tidak ada pendingin ruangan yang berdengung sekeras sekarang.
"Itu saya," jawab Armand. Tidak berkelit, tidak mencari alasan. "Saya mencari namamu setelah Dokter Bram pergi. Saya bilang pada diri saya itu karena kamu karyawan saya. Alasan itu tidak benar."
"Kenapa Bapak mencari saya diam-diam?"
"Karena saya penasaran, dan saya berpikir lebih mudah mencari tahu daripada bertanya." Rahangnya menegang bukan karena marah pada Qenna, melainkan pada dirinya. "Itu cara yang salah, Qenna. Kamu hamil, kamu sendirian, dan saya malah mengintip dari belakang seolah kamu soal yang harus dipecahkan. Saya minta maaf."
Qenna tidak menjawab. Armand mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka aplikasi itu di depan matanya, lalu memutar layar supaya ia bisa melihat. Daftar akun yang ia ikuti bergeser. Nama Qenna terletak di antara beberapa nama lain. Jempolnya menyentuh tombol, dan tulisan di sebelahnya berubah satu kali.
"Selesai," katanya. "Tidak akan terulang."
Qenna memandang layar itu lama sebelum akhirnya menurunkan matanya. "Terima kasih sudah mengatakannya langsung, Pak. Itu lebih berarti daripada yang Bapak kira."
"Apa kamu masih marah?"
"Saya kaget, Pak. Marahnya sudah lewat sebelum saya sampai di sini." Qenna menimbang, lalu menambahkan dengan jujur, "Kalau Bapak ingin tahu sesuatu tentang saya, tanya saja langsung. Tidak selalu saya jawab, tetapi saya tidak akan menyebut Bapak lancang."
Sudut bibir Armand bergerak, kali ini setengah senyum yang tulus. "Dicatat."
Ia menunduk sopan dan keluar, menutup pintu seperti biasa.
***
Pukul empat sore, ketika Qenna sedang mengelap meja panjang ruang rapat dengan kain basah, ponselnya bergetar di saku seragam. Layarnya menampilkan satu nama yang jarang menelepon pada jam kerja.
"Bu?" Ia memiringkan badan supaya tidak terlihat dari kaca. "Ibu sehat?"
"Sehat, Nak. Ibu mau tanya sesuatu, tapi mungkin cuma salah dengar." Suara Ibu Aisyah di seberang terdengar biasa, tetapi dengan jeda yang tidak biasa. "Tadi siang telepon panti berdering. Kata Andin, laki-laki. Ibu yang angkat. Ternyata Nak Rafa."
Kain basah di tangan Qenna berhenti bergerak.
"Katanya cuma mau tanya kabarmu. Ibu bilang kamu sehat, Nak. Lalu dia diam sebentar, lalu menutup telepon. Tidak sempat Ibu tanya apa-apa." Ibu Aisyah menarik napas. "Tapi Ibu jadi bingung, Qenna. Loh, bukannya kalian serumah?"